Sukses

Wanita Ini 13 Kali Meninggal Lalu Hidup Lagi

Liputan6.com, Jakarta Kucing sering disebut memiliki sembilan nyawa. Dan wanita ini bisa dibilang nyawanya lebih banyak dari kucing. Ia adalah Rebecca Morris-Roberts yang 13 kali `meninggal` dan secara ajaib hidup kembali.

Semua itu karena wanita berusia 28 tahun tersebut memiliki kondisi sangat langka yang disebut kejang anoxic refleks yang membuat jantung dan napasnya berhenti serta tubuhnya mulai kaku.

Tapi dalam hitungan beberapa detik setelah setiap serangan menakutkan itu jantungnya secara ajaib berdetak kembali dan dia kembali normal.

"Mata saya menutup, bibir dan wajah saya berubah menjadi abu-abu, tubuh saya kaku, saya berhenti bernapas dan mulai mengejang," katanya seperti dikutip Irismirror, Senin (28/9/2015).

Menurutnya, ketika dinyatakan 'mati' secara klinis, ia tak tahu apa-apa hingga sadar. "Ini biasa terjadi dan saya tidak tahu apa penyebabnya."

 

2 dari 2 halaman

Gara-gara emosi

Gara-gara Emosi

Kejang Rebecca itu dimulai ketika ia berusia 16 tahun dan dipicu emosi ekstrem, terutama saat mengalami kecemasan. Dan ketika Rebecca memutuskan menikahi pasangannya Elfyn Morris-Roberts pada April 2014, keluarganya takut Rebecca akan `mati` saat berjalan menuju altar.

Setelah banyak pertimbangan, Rebecca yang tinggal di Ystradgynlais, memutuskan memakai alat pacu jantung yang dipasang tiga bulan sebelum hari besar.

"Saya awalnya tidak mau memakainya. Secara mental, saya tidak siap dengan alat pacu jantung. Saya tidak ingin melihat kembali foto-foto pernikahan kami dan berpikir sesuatu yang lain membantu saya hidup. Tapi kemudian saya diberitahu setiap kali saya mengalami hal itu (mati) maka akan mengurangi kesempatan saya untuk pulih sebanyak 10%. Saat itulah saya sadar saya egois jadi saya memutuskan memasangnya," cerita Rebecca.

Kekhawatiran Rebecca akan 'mati' di hari pernikahannya tak terjadi. Ia mengatakan hari pernikahannya berlalu tanpa perlu memanggil paramedis.

"Saya selalu memiliki rasa takut berada di depan orang dan ayah saya mengikuti saya ke mana saja karena ia takut sesuatu akan terjadi," tambahnya.

Rebecca menceritakan karena kondisi langkanya itu sampai-sampai dulu seorang perawat pernah ketakutan mengambil darahnya. Kini, ia sudah berdamai dengan `kematian` setelah lebih dari selusin mengalaminya.

"Saya baik-baik saja dengan kematian tapi saya ingin berada di sini untuk keluarga saya," katanya.

Rebecca mengatakan ia percaya masih banyak yang harus dilakukan untuk mengedukasi masyarakat tentang kondisi langkanya, yang diduga hanya dialami oleh empat orang di Inggris. (Melly F)

Loading