Sukses

Terapi Yumeiho, Bantu Atasi Masalah Pinggul dan Tulang Belakang

Liputan6.com, Jakarta Terlalu lama membawa tas punggung berat, keseringan menggunakan sepatu hak tinggi, terlalu banyak bekerja dengan duduk bisa menyebabkan aneka masalah pada tulang pinggul dan tulang belakang. Salah satu alternatif untuk membantu mengatasi hal tersebut lewat terapi Yumeiho. Apa itu?

Terapi Yumeiho masih asing di telinga masyarakat Indonesia. Menurut praktisi Terapi Yumeiho, Urip Herdiman Kambali, ini merupakan terapi untuk membantu membetulkan tulang pinggul dan tulang belakang.

"Pada umumnya terapi ini membantu mengatasi masalah kifosis (tubuh membungkuk ke depan), lordosis (tubuh melengkung ke belakang) atau scoliosis (tulang belakang membentuk huruf S)," terang pria yang akrab disapa Urip usai temu media jelang Yoga Gembira Festival di Taman Suropati, Jakarta, Minggu (19/4/2015).

Terapi asal Jepang ini membantu untuk mengatasi masalah pada tulang belakang dan tulang pinggul. (Foto: www.yumeihotherapy.co.uk)

Terapi asal Jepang ini dilakukan secara berpasangan yakni terapis dan klien. Satu kali sesi treatment membutuhkan waktu sekitar 35 menit dengan total 20 gerakan. Gerakan-gerakan yang dilakukan memang sebagian besar fokus pada dua area tersebut. Gerakannya mirip dengan yoga sehingga banyak yang mengatakan terapi ini menyebutnya sebagai yoga berpasangan. 

Terkait keberhasilan mengatasi masalah tulang pinggul dan tulang belakang tidak bisa dipukul rata karena ini adalah terapi alternatif. "Ada yang satu kali melakukan treatment berhasil, tapi ada yang lima hingga 10 kali bahkan lebih dari itu. Itu semua tergantung pada tingkat keparahan," terang pria yang mendalami Terapi Yumeiho satu tahun terakhir ini.

Namun yang pasti, terapi ini bukan untuk membantu tulang patah. "Itu tidak bisa dengan terapi ini," terangnya.
Meski ia belum memiliki tempat khusus memberikan treatment kepada mereka yang membutuhkan terapi ini, selama ini ia melakukannya di rumahnya yang terletak di Parung, Jawa Barat atau di tempat kerjanya di daerah Gambir, Jakarta Pusat. Bisa juga kontak langsung dengannya di Taman Suropati, Jakarta.

"Selama tidak ada risiko yang fatal, bisa dilakukan terapi ini," terang pria berkacamata ini. 

 

Loading
Artikel Selanjutnya
Revitalisasi Kawasan Monas Ditargetkan Rampung pada 2021
Artikel Selanjutnya
3 Kebijakan Ahok Benahi Jakarta, Gusur Lokalisasi hingga Gagas Karya Monumental