Sukses

Obat AIDS Produksi Dalam Negeri, Harapan Baru bagi ODHA

Liputan6.com, Jakarta Saat ini orang dengan HIV atau biasa disebut ODHA di Indonesia sudah bisa mengonsumsi obat ARV jenis Efavirenz buatan dalam negeri yang dibuat oleh BUMN kita yaitu PT Kimia Farma. Ini merupakan hal yang ditunggu oleh komunitas ODHA. Obat ARV jenis Efevirenz sebenarnya sudah ada sejak tahun 2007 dan pemerintah sudah meminta perusahaan farmasi dalam negeri untuk memproduksi.

Indonesia menjadi contoh bagi Negara-negara lain karena sejak tahun 2004 Indonesia sudah punya kebijakan dalam hal paten obat yang memungkinkan obat ARV dibuat di dalam negeri.

Tahun 2004 adalah kali pertama Indonesia mengeluarkan Perpres mengenai pelaksanaan paten oleh pemerintah untuk dua jenis obat antiretroviral (ARV). Tahun 2007, Perpres serupa juga ditandatangani dengan menambahkan satu jenis regimen obat ARV. Tahun 2012, kembali Pemerintah Indonesia membuat gebrakan dengan mengeluarkan Perpres nomor 76 tentang pelaksanaan paten oleh pemerintah terhadap obat antiviral dan antiretroviral yang memuat 7 jenis obat ARV bisa diproduksi di dalam negeri meskipun masa paten dari pemiliknya belum berakhir.

Berkat ARV, epidemi AIDS di Indonesia pelan-pelan mulai bisa dikendalikan dalam konteks mengurangi tingkat kesakitan dan kematian akibat HIV dan AIDS. Sejak tahun 2006 pemerintah kita berkomitmen untuk memberikan pengobatan ARV secara gratis kepada siapa saja orang dengan HIV (ODHA) yang membutuhkan terapi pengobatan ini.

Saat ini, angka kesakitan dan kematian akibat HIV dan AIDS terus menurun jika dilihat dari tahun 2006 ketika pemerintah mulai memberlakukan program pemberian obat ARV dengan gratis. Jika pada tahun 2006, angka kematian pada ODHA mencapai 11 persen, di tahun 2014 ini sudah menurun di tingkat 0,4 persen. Ini keberhasilan yang baik dan perlu ditingkatkan.

Staf pengorganisasian komunitas dari LSM Indonesia AIDS Coalition, Irwandy Widjaja menyambut gembira kabar yang diterimanya bahwa ARV jenis Efavirenz sudah mulai didisribusikan ke rumah sakit-rumah sakit.

“Kami mendapat laporan monitoring ARV kemarin yang mengatakan bahwa ARV jenis Efavirenz yang diproduksi Kimia Farma sudah ada di RS Fatmawati.”ujarnnya.

Ini merupakan kabar gembira bagi ODHA di Indonesia karena dengan ARV produksi lokal, kita bisa memutus mata rantai ketergantungan obat ARV dari luar negeri. Dan persoalan seperti ARV tertahan di Bea Cukai bisa kita hindari ke depannya, kata Irwandy.

Efavirenz ini adalah obat ARV jenis keempat yang bisa diproduksi oleh Kimia Farma. Dua lainnya adalah jenis lamivudine, zidovudine dan nevirapine. Untuk jenis lainnya dan juga obat ARV golongan lini 2 masih impor.

Selama ini, mayoritas obat ARV yang dibutuhkan ODHA di Indonesia adalah obat impor dari India. Kerap kali dalam proses pembelian obat impor ini mengalami keterlambatan yang menyebabkan obat ARV ini terlambat didistribusikan di rumah sakit-rumah sakit.

Yang masih menjadi 'pekerjaan rumah' sekarang adalah bagaimana menurunkan harga obat produksi lokal ini karena saat ini obat produksi lokal harganya masih 3-4 kali lebih tinggi dari obat generik impor.