Warga Negara Asing Tewas Dikeroyok Puluhan Orang Saat Demo di Afrika Selatan

Polisi belum mengungkapkan kewarganegaraan korban maupun tujuan demo tersebut.

Diterbitkan 23 Oktober 2026, 10:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Pretoria - Seorang warga negara asing tewas setelah dikeroyok oleh sekitar 50 orang saat berlangsungnya aksi demo di Durban, kota di pesisir timur Afrika Selatan. Polisi mengungkapkan insiden tersebut pada Kamis (22/10/2026), di tengah meningkatnya ketegangan anti-imigran di negara dengan perekonomian paling maju di Afrika itu.

Menurut polisi, sekelompok orang menghampiri korban yang sedang berdiri di tepi jalan ketika demonstrasi berlangsung di pusat Kota Durban. Mereka kemudian mengeroyok pria tersebut hingga tewas.

Korban diperkirakan berusia antara 30 hingga 40-an tahun, sementara polisi masih berupaya mengidentifikasi para pelaku pengeroyokan.

Afrika Selatan telah menghadapi ketegangan anti-imigran selama berbulan-bulan. Sejumlah demonstrasi yang menuntut pemerintah mengambil tindakan terhadap imigran tanpa izin tinggal yang sah bahkan beberapa kali berujung pada kekerasan.

Nigeria, Mozambik, Malawi, dan sejumlah negara lainnya menyatakan bahwa beberapa warga mereka tewas dalam serangan yang didasari kebencian terhadap warga asing dan berkaitan dengan demonstrasi anti-imigran.

Namun, otoritas Afrika Selatan membantah sebagian klaim tersebut. Mereka menyatakan bahwa sejumlah kematian disebabkan oleh tindak kriminal dan tidak berkaitan dengan demonstrasi.

Puluhan ribu imigran telah meninggalkan Afrika Selatan dalam beberapa bulan terakhir. Gelombang kepergian tersebut menjadi salah satu eksodus atau perpindahan penduduk secara besar-besaran terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

Banyak imigran mengaku meninggalkan negara itu karena khawatir menjadi sasaran kekerasan dari warga setempat. Sementara itu, pemerintah Afrika Selatan menyatakan bahwa banyak di antara mereka juga dideportasi karena tidak memiliki dokumen resmi yang diperlukan untuk tinggal di negara tersebut.

Sebagai negara dengan perekonomian terbesar di Afrika, Afrika Selatan menjadi tujuan imigran dari berbagai negara di benua tersebut. Namun, kedatangan mereka terkadang memicu ketegangan di tengah masyarakat, terutama karena tingginya angka pengangguran dan layanan publik yang kewalahan memenuhi kebutuhan penduduk.

Durban, kota terbesar ketiga di Afrika Selatan dengan jumlah penduduk hampir empat juta jiwa, menjadi salah satu pusat ketegangan anti-imigran yang meningkat sepanjang tahun ini.

Pada Juni, ribuan imigran yang sebagian besar berasal dari Malawi berkumpul di sebuah taman di Durban untuk meminta dipulangkan ke negara asal mereka.

Mereka mengaku berusaha menghindari ancaman kekerasan setelah sebuah kelompok demonstran menuntut agar imigran tanpa dokumen resmi meninggalkan Afrika Selatan paling lambat 30 Juni.

Jumlah imigran yang berkumpul di lokasi penampungan sementara tersebut meningkat begitu cepat sehingga pihak berwenang harus membangun fasilitas penampungan tambahan untuk menampung mereka.

Sementara itu, pada bulan yang sama dengan insiden pengeroyokan di Durban, sejumlah mobil dibakar dan toko-toko dijarah di Soweto, sebuah kawasan permukiman di Johannesburg.

Kerusuhan tersebut terjadi setelah putusan pengadilan mempermudah warga negara asing mengajukan permohonan suaka atau perlindungan di Afrika Selatan. Putusan itu mendorong banyak warga asing mendatangi kantor-kantor pemerintah untuk mengajukan permohonan, yang kemudian memicu reaksi dari warga setempat.

Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa telah mengecam kekerasan yang berkaitan dengan persoalan imigrasi. Namun, ia juga mengakui adanya kelemahan dalam sistem pengawasan perbatasan selama bertahun-tahun yang memungkinkan imigran masuk dan menetap di Afrika Selatan tanpa dokumen resmi.

Berdasarkan data resmi pemerintah Afrika Selatan, terdapat sekitar 2,4 juta warga negara asing di antara total 62 juta penduduk negara tersebut.

Namun, kelompok demonstran meyakini jumlah warga asing yang tinggal di Afrika Selatan jauh lebih besar karena masih banyak imigran tanpa dokumen resmi yang belum tercatat.