Kepala Intelijen Inggris Bicara soal Ancaman dari Rusia dan Iran

Selain menyoroti Rusia dan Iran dalam pidatonya, kepala intelijen Inggris menyinggung pula soal penyalahgunaan AI dan ancaman terorisme.

Diterbitkan 14 Oktober 2026, 13:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, London - Badan intelijen dalam negeri Inggris, MI5, kini mengerahkan lebih banyak sumber daya untuk menghadapi ancaman negara asing dibandingkan pada masa Perang Dingin.

Kepala MI5 Ken McCallum mengatakan jumlah kasus ancaman dari negara asing yang ditangani lembaganya meningkat empat kali lipat dalam satu dekade terakhir. Ia menyebut Rusia sebagai "agresor nomor satu".

Dalam pidato tahunannya di London, Selasa (13/10/2026), McCallum, seperti dilaporkan BBC, mengatakan Rusia tengah melancarkan perang hibrida.

Ia menjelaskan bahwa Moskow sejauh ini menghindari konflik militer langsung dengan NATO. Sebaliknya, Rusia berupaya mengganggu stabilitas negara-negara Eropa, sementara kemajuan invasinya di Ukraina sangat terbatas dan harus dibayar dengan kerugian besar.

Upaya tersebut dilakukan melalui perang hibrida, yakni penggunaan berbagai cara di luar pertempuran langsung untuk menekan pihak lawan. Bentuknya antara lain serangan siber, sabotase, dan penyebaran informasi menyesatkan.

Serangan semacam ini kerap melibatkan pihak perantara. Rusia selalu membantah keterlibatannya, meski semakin banyak bukti yang menunjukkan sebaliknya.

Menurut McCallum, keberhasilan MI5 mengidentifikasi dan mengusir mata-mata Rusia dari Inggris membuat Kremlin semakin bergantung pada penjahat bayaran untuk melancarkan serangan.

"Setelah jaringan operasi rahasianya melemah drastis akibat pengusiran hampir 1.000 orang sejak invasi dimulai, kemampuan Kremlin menjalankan operasi secara global kini terbatas," katanya. "Karena itu, kami melihat mereka berusaha keras membayar para penjahat untuk menjalankan perintah mereka."

"Ini bukanlah tindakan negara besar yang memiliki keunggulan strategis," tambahnya.

Pernyataan tersebut muncul ketika semakin banyak pemimpin Eropa memperingatkan kemungkinan Rusia menyiapkan serangan untuk menguji komitmen mereka dalam mendukung Ukraina.

Ancaman campur tangan Rusia turut menjadi perhatian dalam politik dalam negeri Inggris. Seusai pidato, McCallum ditanya tentang pernyataan terbaru Perdana Menteri Andy Burnham mengenai keterlibatan Moskow dalam referendum Brexit pada 2016, yang menghasilkan keputusan Inggris keluar dari Uni Eropa.

Ia mengatakan upaya campur tangan Rusia bukanlah hal baru. Namun, ia menekankan pentingnya membedakan antara upaya memengaruhi referendum dan keberhasilan mengubah hasilnya.

McCallum menyebut media Rusia, troll internet, serta jaringan akun otomatis atau bot telah berupaya memengaruhi perdebatan Brexit. Meski demikian, ia menegaskan hasil referendum tersebut tidak dipersoalkan.

Ia khawatir perdebatan yang terus berlangsung mengenai campur tangan Rusia justru menguntungkan Moskow.

"Saya agak khawatir kita justru menguntungkan pihak lawan dengan membuat para troll ini terlihat jauh lebih kuat daripada kenyataannya," tuturnya kepada wartawan.

Iran

Selain Rusia, Iran menjadi perhatian MI5 karena terus memperluas operasi hibridanya di Inggris. Dalam setahun terakhir, sebanyak 50 orang ditangkap terkait aktivitas yang berhubungan dengan Iran.

Sebagian besar tindakan agresif yang dikaitkan dengan Iran menyasar komunitas Yahudi. Namun, sasaran operasi tersebut kini mencakup fasilitas yang lebih sulit diserang, seperti pangkalan militer.

Salah satu kasus yang menjadi perhatian adalah insiden di pangkalan udara RAF Fairford. McCallum tidak secara langsung menyinggung penangkapan terkait kasus itu dalam pidatonya, tetapi mengatakan kepada wartawan bahwa insiden tersebut bukan satu-satunya.

"Kami telah melihat adanya ketertarikan Iran terhadap sasaran lain di Inggris, tidak hanya RAF Fairford," ujarnya.

Insiden di pangkalan udara yang terletak di Gloucestershire itu melibatkan tiga mobil van mencurigakan yang terlihat terparkir di dekat fasilitas tersebut. Polisi antiterorisme menangkap tujuh orang yang kemudian dibebaskan dengan jaminan.

Burnham menyebut insiden itu "hampir pasti diarahkan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran".

McCallum menegaskan Inggris akan bertindak tegas terhadap pihak-pihak yang berupaya menciptakan kekacauan di negaranya.

"Siapa pun yang berusaha menciptakan kekacauan di jalanan Inggris, baik para penjahat bayaran di dalam negeri maupun pihak yang membayar mereka dari luar negeri, akan menghadapi respons tegas tanpa kompromi," katanya.

Inggris telah menggunakan Undang-Undang Keamanan Nasional yang disahkan pada 2023 untuk menghadapi ancaman tersebut. Menurut McCallum, aturan untuk menindak pihak yang bekerja bagi negara asing dan merugikan kepentingan Inggris itu kini digunakan secara luas, termasuk terhadap ancaman terkait China, Iran, dan Rusia.

 

Ancaman AI dan Terorisme

Selain ancaman dari negara asing, perkembangan kecerdasan buatan (AI) menjadi tantangan tersendiri bagi MI5. McCallum mengatakan teknologi tersebut dapat digunakan untuk membuat propaganda dan materi radikalisasi yang disesuaikan untuk memengaruhi individu tertentu.

"Kami telah menemukan teroris yang berupaya memanfaatkan AI untuk meningkatkan kemampuan pengintaian dan metode serangan mereka. Penggunaan drone berbasis AI juga menghadirkan tantangan baru," ujarnya.

McCallum turut memperingatkan potensi penyalahgunaan AI untuk mengembangkan senjata biologis. Meski ancaman tersebut belum terwujud, teknologi ini dapat membuat risiko yang ditimbulkan senjata biologis jauh lebih serius.

"Risiko-risiko ini nyata. Komunitas intelijen Inggris, yakni MI5, GCHQ, dan MI6, bekerja sama erat dengan AI Security Institute Inggris yang diakui secara internasional untuk menghadapinya."

Kekhawatiran MI5 tidak terbatas pada penyalahgunaan teknologi yang sudah diketahui. McCallum menilai perkembangan AI berpotensi menghadirkan ancaman yang belum pernah dihadapi manusia.

"Sederhananya, sepanjang sejarah, manusia belum pernah menghadapi entitas yang lebih cerdas daripada manusia itu sendiri," katanya dalam pidato di Thames House, markas MI5 di London.

Untuk menilai berbagai risiko tersebut, MI5 membentuk AI Threat Assessment Centre. Pusat ini bertugas menganalisis informasi dari berbagai sumber dan membedakan klaim berlebihan dari ancaman nyata.

Di tengah perkembangan teknologi itu, Inggris masih menghadapi ancaman terorisme yang tinggi. Pada 30 April 2026, pemerintah menaikkan tingkat ancaman terorisme menjadi "severe" atau serius untuk pertama kalinya sejak 2021. Status tersebut berarti serangan teroris sangat mungkin terjadi.

McCallum mengatakan kelompok Islamis seperti Al Qaeda dan kelompok yang menamakan diri Negara Islam (ISIS) masih mengarahkan dan menginspirasi serangan. Namun, peningkatan ancaman terorisme sebagian besar dipicu oleh kelompok sayap kanan ekstrem.

"Sepanjang tahun lalu, tren paling menonjol adalah meningkatnya kasus ketika sentimen antiimigrasi dan anti-Muslim yang ekstrem berkembang menjadi niat melakukan terorisme," jelasnya.

Menurut McCallum, terorisme sayap kanan ekstrem cenderung melibatkan anak muda, dengan internet sebagai salah satu pendorong radikalisasi.

Dalam beberapa bulan terakhir, MI5 bahkan menyelidiki seorang anak berusia 13 tahun di Inggris yang telah teradikalisasi oleh ideologi sayap kanan ekstrem.

"Penyelidikan tersebut menghasilkan informasi yang memungkinkan salah satu mitra internasional kami mencegah serangan mematikan di wilayah mereka," imbuhnya.