Sukses

Kasus COVID-19 Naik, Macau Pastikan Kasino Tidak Tutup

Liputan6.com, Macau - Macau sedang mencatat kenaikan kasus COVID-19 setelah melaksanakan tes massal pada Senin (20/6). Bisnis-bisnis kini sedang ditutup. Namun, kasino tetap dibuka oleh pemerintah.

Dilaporkan CNN, Rabu (22/6/2022), Macau melakukan testing pada 600 ribu warganya. Ini dilakukan karena daerah itu mengikuti kebijakan China Daratan terkait zero-COVID.

Pada Minggu (19/6), pemerintah Macau mengumumkan ada 31 kasus terdeteksi di Macau meski sudah meraih rekor delapan bulan tanpa kasus COVID-19. Banyak fasilitas-fasilitas yang akhirnya dipilih agar tutup, seperti sekolah, tempat wisata turis dan kebudayaan, serta bisnis-bisnis yang sifatnya tidak esensial.

Restoran juga diminta untuk menyetop dahulu layanan makan di tempat.

Sementara, kasino-kasino diputuskan masih boleh buka. Meski demikian, analisis berkata kasino tetap akan terdampak karena pemerintah meminta agar warga tidak mengunjungi lokasi-lokasi hiburan.

Macau juga masih tutup dari kunjungan-kunjungan, kecuali dari Hong Kong, Taiwan, dan China Daratan. Mayoritas pendatang harus karantina selama 10 hari saat tiba, namun beberapa lokasi risiko rendah di China tidak perlu mengikuti karantina.

CNN mencatat bahwa pemerintah Macau bergantung pada kasino untuk pendapatan daerah. Sebanyak 80 persen pendapatan berasal dari kasino, dan mayoritas warga secara langsung atau tidak langsung terkait dengan industri kasino.

Kepala Eksekutif Macau, Ho Iat Seng, berkata penyebaran kasus terbaru sangat cepat dan sumbernya masih misterius. Akibat penyebaran baru di Macau, wilayah kota Zhuhai di Provinsi Guandong menerapkan karantina tujuh hari bagi pendatang Macau.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 5 halaman

IDI Sarankan untuk Pakai Masker Lagi di Ruang Terbuka

Beralih ke situasi dalam negeri, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) meminta pemerintah mengkaji kembali aturan boleh melepas masker di ruang terbuka. Hal ini lantaran kehadiran subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 yang memliki karakteristik mudah menular sudah masuk RI.

"Subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 jadi pengingat masih perlunya memperkuat protokol kesehatan," kata kata Ketua Bidang Penanganan Penyakit Menular PB IDI, Agus Dwi Susanto dalam konferensi pers pada Selasa, 21 Juni 2022 di Kantor Pusat PB IDI Jakarta Pusat mengutip Antara.

"Kami merekomendasikan untuk dikaji kembali jika diperlukan," kata Agus.

Penggunaan masker di tempat terbuka disertai dengan penerapan protokol kesehatan yang lain merupakan bentuk kewaspadaan dalam menghadapi kasus COVID-19 yang tengah naik beberapa hari terakhir ini. Apalagi bila melihat data di berbagai belahan dunia, BA.4 dan BA.5 menyebabkan kenaikan kasus. Sehingga perlu respons cepat untuk mencegah penyebarannya.

“Kami meminta kerja sama semua pihak baik pemerintah, swasta, maupun masyarakat untuk tetap perlu menjalankan berbagai upaya kewaspadaan strategi pencegahan dan sistem pengendalian penularan yang kuat. Penanganan ini tidak bisa dilakukan oleh tenaga medis saja, namun semua pihak secara bersamaan,” kata Ketua PB IDI Adib Khumaidi di kesempatan yang sama mengutip keterangan pers yang diterima Liputan6.com.

IDI juga meminta masyarakat untuk waspada bukan cuma terhadap COVID-19.Di tengah pandemi ada beberapa penyakit yang hadir mulai dari cacar monyet hingga hepatitis akut.

“Kami juga mengingatkan masyarakat untuk waspada akan penyakit lainnya yang muncul di musim pancaroba ini, seperti demam berdarah dengue, cacar monyet, hepatitis akut, serta sejumlah penyakit lainnya yang berpotensi timbul,” kata Agus.

Memang cacar monyet masih ditemukan di Indonesia namun kita harus tetap meningkatkan kewaspadaan supaya jangan sampai menjadi outbreak atau kejadian Luar Biasa di Tanah Air, tambah Agus.

3 dari 5 halaman

Bos WHO Beri Selamat Atas Upaya RI Atasi COVID-19

Direktur Jenderal World Health Organization (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengapresiasi upaya Indonesia dalam mengelola COVID-19. Hal ini Tedros sampaikan langsung ke Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Merdeka, Jakarta pada 21 Juni 2022.

"Dirjen WHO juga beri selamat, apresiasi terhadap capaian Indonesia dalam mengatasi atau mengelola COVID-19," kata Menteri Luar Negeri RI Retno LP Marsudi yang turut ikut dalam pertemuan Jokowi dengan Tedros.

Retno juga mengungkapkan bahwa Tedros juga sudah melihat capaian vaksinasi COVID-19 di Indoneia. Kepada Jokowi, Tedros memuji tingkat pencapaian vaksinasi COVID-19 Indonesia dibandingkan negara-negara lain.

"Beliau mengatakan bahwa Indonesia adalah salah satu dari best achievement kalau diperbandingkan dengan rata-rata achievement yang dicapai oleh negara-negara di dunia," tutur Retno dalam konferensi pers usai pertemuan tersebut yang disiarkan secara daring di YouTube Sekretariat Presiden.

Dalam konferensi sebelumnya dari acara G20 di Yogyakarta, Tedros mengapresiasi upaya RI dalam capaian vaksinasi COVID-19 dosis lengkap (dua dosis) yang sudah diterima oleh lebih dari 60 persen target.

Ia pun yakin, Indonesia bisa mencapai target WHO yakni bisa mencapai 70 persen penduduk yang sudah divaksinasi.

"Saya yakni Indonesia bisa mencapainya, karena saat ini sudah 60 persen kan," jelas Tedros.

Dalam pertemuan Tedros dengan Jokowi yang juga diikuti Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin itu, pucuk pimpinan WHO itu mengatakan bahwa pandemi belum selesai meski kasus COVID-19 global mendatar.

"Namun, beliau menyatakan bahwa pandemi belum selesai. WHO masih memantau terus munculnya varian-varian baru," kata Menlu Retno.

4 dari 5 halaman

752 Dokter Indonesia Meninggal akibat COVID-19 Selama Pandemi

Sudah lima dokter meninggal dunia dari Januari hingga Maret 2022 terkait COVID-19. Lalu, dari Maret hingga Juni, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) mengatakan tidak ada dokter yang meninggal akibat infeksi virus SARS-CoV-2.

“Setelah bulan Maret 2022, masih belum ada tercatat dokter meninggal karena COVID-19," kata Dr Eka Mulyana, SpOT(K) dari Bidang Advokasi Tim Mitigasi IDI dalam konferensi pers di Jakarta pada Selasa (21/6).

Meski begitu, Eka mengatakan agar para dokter dan dokter spesialis tetap mengetatkan protokol kesehatan dan menggunakan alat pelindung diri (APD) saat merawat pasien COVID-19. Terlebih saat ini subvarian BA.4 dan BA.5 yang memiliki karakter mudah menular sudah menyebar di tengah masyarakat.

"Kami mengimbau rekan sejawat dokter dan dokter spesialis tetap menjalankan protokol kesehatan ketat dan mengenakan APD lengkap saat penanganan kasus COVID-19,” tegas Eka.

Sepanjang pandemi COVID-19 yang sudah berlangsung dua tahun lebih ini, tercatat sudah ada 752 dokter umum dan dokter spesialis yang meninggal dunia akibat infeksi virus SARS-CoV-2.

Rinciannya adalah 252 dokter meninggal akibat COVID-19 di 2020, lalu 495 dokter meninggal di 2021 dan 5 dokter di 2022. Para dokter tersebut tersebar di 29 provinsi Indonesia.

Ketua PB IDI Adib Khumaidi pun sudah mengingatkan anggotanya untuk mewaspadai peningkatan kasus COVID-19 akhir-akhir ini.

"Tetap waspada ya teman-teman di lapangan, tetap waspada," kata Adib di kesempatan yang sama.

5 dari 5 halaman

Kasus Aktif Tembus 10 Ribu

Pada Selasa (21/6), kasus COVID-19 hari ini bertambah signifikan yakni mencapai 1.678. Dengan tambahan hari maka akumulasi kasus infeksi virus SARS-CoV-2 di Tanah Air menjadi 6.070.933.

Dari data yang dibagikan Satgas COVID-19, DKI Jakarta menyumbang nyaris seribu kasus, tepatnya 973 orang terpapar Corona.

Disusul Jawa Barat (291) dan Banten (213) yang terbanyak menyumbangkan kasus COVID-19 hari ini

Lalu, kasus aktif di Indonesia menembus angka 10 ribu tepatnya 10.095. Padahal jika kita tengok di tanggal 14 Juni 2022 kasus aktif di kisaran 4.000. Lalu, di akhir Mei kasus aktif pernah di angka 2.972 (tanggal 28 Mei 2022).

Kasus aktif adalah pasien yang menjalani perawatan di rumah sakit maupun menjalani isolasi karena terpapar COVID-19.

Angka kesembuhan memang bertambah sebanyak 677 dengan akumulasi 5.904.138. 

Sayangnya, masih ada yang meninggal lima orang pada hari ini. Maka sudah ada 156.700 orang di Indonesia meninggal karena COVID-19.