Sukses

Ibrahim Boubacar, Eks Presiden Mali yang Dikudeta Meninggal Dunia

Liputan6.com, Jakarta Kabar duka datang dari Mali. Presidennya yang digulingkan, Ibrahim Boubacar Keïta meninggal. Ia mengembuskan napas terkahir pada usia 76 tahun, kata keluarga dan mantan rekan kerjanya.

Dua tahun lalu Ibrahim Boubacar Keita menderita stroke ringan tetapi penyebab kematiannya pada Minggu 16 Januari 2022 tidak diketahui pasti.

"Dia meninggal pada pukul 09:00 GMT di rumahnya di ibu kota Bamako," kata seorang anggota keluarganya kepada kantor berita AFP.

Keïta memimpin Mali selama tujuh tahun hingga 2020, ketika ia digulingkan dalam kudeta setelah protes besar anti-pemerintah atas penanganannya terhadap kerusuhan militan.

Krisis ekonomi dan pemilihan yang disengketakan juga memicu demonstrasi menentang pemerintahannya.

Keïta terlibat dalam dunia politik selama lebih dari tiga dekade, menjabat sebagai perdana menteri sosialis 1994-2000.

'Pemurah, Pemarah, Memecah Belah'

Lahir dari ayah pegawai negeri sipil di kota selatan Koutiala, ia melanjutkan studi sastra, sejarah, dan hubungan internasional di Paris. Dia tinggal dan bekerja di Prancis selama beberapa dekade, termasuk mengajar di Universitas Paris, sebelum kembali ke Mali pada 1980, pada awalnya bekerja sebagai penasihat Dana Pembangunan Eropa.

Dia dikenang secara beragam sebagai sosok yang murah hati, mudah marah dan memecah belah oleh rombongannya, kata laporan AFP.

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 3 halaman

Krisis Sejak 2012 Saat Keita Terpilih Jadi Presiden

Mali berada dalam cengkeraman krisis keamanan dan politik sejak pecahnya kemerdekaan dan pemberontakan jihadis pada 2012, kata wartawan BBC Lalla Sy.

Presiden Keïta kemudian terpilih pada tahun 2013 dengan janji untuk "membawa perdamaian dan keamanan", menang telak. Namun pemerintahnya gagal mengakhiri tantangan keamanan serius Mali, dan dia digulingkan oleh militer pada Agustus 2020.

Beberapa minggu kemudian, dia menderita stroke ringan dan diterbangkan ke Uni Emirat Arab untuk perawatan medis.

Menurut situs berita Afrika berbahasa Perancis, Jeune Afrique, Keïta tidak muncul. Kabarnya ia tinggal di Bamako bersama istrinya Aminata yang sering melakukan perjalanan ke Pantai Gading untuk mengunjungi putra-putra mereka yang tinggal di sana.

Penguasa militer baru Mali melakukan kudeta kedua pada Mei tahun 2021, mengumumkan penundaan tiga tahun lebih lanjut untuk pemilihan yang seharusnya terjadi Februari 2022.

Tindakan terakhir ini membuat mereka menjadi sasaran sanksi minggu ini oleh UE serta tetangganya di blok regional Afrika Barat Ecowas.

3 dari 3 halaman

Infografis 9 Manfaat Aplikasi PeduliLindungi yang Belum Banyak Diketahui