Sukses

WHO Sebut Kasus COVID-19 di Timur Tengah Terancam Makin Parah

Liputan6.com, Kairo - Arab Saudi baru saja membuka umrah untuk jemaah interasional. Kini, WHO memperingatkan ancaman gelombang baru COVID-19 di Timur Tengah yang lebih berbahaya jika masyarakat lengah.

Direktur regional WHO di Mediterania, Ahmed Al-Mandhari, mengaku khawatir melihat negara-negara di Timur Tengah mulai melonggarkan aturan setelah adanya lockdown pada awal tahun.

Saat berbicara di Kairo, Mesir, Al-Mandhari menyebut tindakan fundamental seperti social distancing dan memakai masker "tidak dipraktekan secara penuh di wilayah kita." Hasilnya, Ahmed Al-Mandari menyebut rumah sakit semakin penuh.

Wilayah belahan utara dunia mulai memasuki musim dingin. Kasus COVID-19 pun sudah melonjak di Eropa.

Ahmed Al-Mandhari berkata 76 ribu orang meninggal di wilayah tugasnya. Ia berkata butuh tindakan untuk mencegah lebih banyak nyawa yang meninggal.

Selama sepekan terakhir, 60 persen kasus di daerah itu berasal dari Iran, Yordania, dan Maroko. Pakistan dan Lebanon sudah lockdown. Angka kematian harian juga tinggi di Yordania, Tunisia, dan Lebanon.

Daerah yang terdampak paling parah dari COVID-19 di Timur Tengah adalah Iran. Total kematiannya mencapai 43 ribu.

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

2 dari 5 halaman

Menunggu Vaksin COVID-19

Iran masih enggan melakukan lockdown. Pakistan sedang khawatir tentang acara kumpul-kumpul di musim dingin.

Tunisia justri ingin melonggarkan protokol agar ekonomi terjaga meski kasus COVID-19 sedang melonjak.

Al-Mandhari dari WHO mengingatkan bahwa vaksin adalah satu-satunya harapan. Namun, ia tak bisa memastikan kapan vaksin bisa tersedia bagi semua orang.

"Kita tidak tahu kapan itu bisa terwujud," ujarnya.

3 dari 5 halaman

Iran Cemas Angka Kematian Akibat COVID-19 Bertambah 2 Kali Lipat

Iran khawatir warga yang terpapar COVID-19 bisa bertambah dua kali lipat jika masyarakat tak patuh protokol kesehatan. Menteri Kesehatan Iran Saeed Namaki berkata, ini adalah kesempatan terakhir.

"Ini adalah kesempatan terakhir agar sistem kesehatan kita pulih, jika masyarakat gagal, kita akan kalah dari dan mencapai angka kematian hingga 4-digit," ujar Menkes Iran seperti dilansir Middle East Monitor, Rabu 18 November 2020.

Saeed Namaki mengatakan, jumlah itu adalah 'jurang yang dalam' dan sulit bagi negara untuk keluar dari situasi itu.

Saat ini, Iran dan Eropa mulai memasuki musim dingin sehingga dikhawatirkan kasus COVID-19 melonjak. Negara-negara Eropa sudah mencatat lonjakan kasus COVID-19. Prancis juga menerpkan lockdown kembali.

4 dari 5 halaman

Infografis COVID-19:

5 dari 5 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: