Sukses

Sepakati Pakta Pertahanan Berbagi Data Satelit Sensitif, India-AS Siap Lawan China?

Jakarta - Amerika Serikat (AS) dan India mengadakan dialog yang bertujuan untuk melawan pengaruh China yang semakin luas di kawasan Indo-Pasifik. India akan menandatangani perjanjian pertahanan dengan AS untuk berbagi data satelit sensitif.

Mengutip DW Indonesia, Selasa (27/10/2020), pertemuan itu dilakukan oleh Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Mike Pompeo dan Menteri Pertahanan (Menhan) Mark Esper bersama Menlu India Subrahmanyam Jaishankar dan Menhan Rajnath Singh. 

Kementerian Pertahanan (Kemenhan) India mengatakan AS-India telah sepakat akan menandatangani Perjanjian Pertukaran dan Kerja Sama Dasar tentang Kerja Sama Geospasial (BECA). 

"Kedua menteri menyatakan kepuasannya bahwa kesepakatan BECA akan ditandatangani selama kunjungan tersebut," kata Kemenhan India dalam sebuah pernyataan.

"Kami setuju bahwa Kemitraan Strategis Global Komprehensif AS-India sangat penting bagi keamanan dan kemakmuran kedua negara kami, kawasan Indo-Pasifik, dan dunia," cuit Pompeo di Twitter.

Pakta Pertahanan itu akan memberi India akses ke berbagai data topografi, laut, dan aeronautika yang dianggap penting untuk menargetkan rudal dan drone bersenjata. Kemenhan India mengatakan kesepakatan itu juga akan memungkinkan AS untuk memberikan bantuan navigasi dan avionik pada pesawat yang dipasok AS ke India.

Setelah pertemuan itu, rencananya Pompeo dan Esper akan bertemu Perdana Menteri India Narendra Modi. 

2 dari 3 halaman

Kompak Lawan China?

Kesepakatan itu datang saat hubungan India dan China sedang memanas. Militer kedua negara terlibat dalam konflik di dekat perbatasan Himalaya yang disengketakan.

AS juga tengah meningkatkan tekanan diplomatiknya terhadap China, karena hubungan keduanya memburuk akibat berbagai masalah, mulai dari kritik AS terhadap penanganan virus corona China, hingga penerapan Undang-undang Keamanan Baru di Hong Kong dan ambisi di Laut China Selatan.

Setelahnya, Pompeo akan berkunjung dari India ke Sri Lanka, Maladewa, dan Indonesia. Semua negara itu memiliki peran kunci dalam lalu lintas maritim Samudra Hindia yang dibayang-bayangi oleh pengaruh China. 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: