Sukses

Detik-Detik Serangan Fajar Tentara Filipina Bebaskan 2 WNI dari Abu Sayyaf

Liputan6.com, Manila - Tentara Filipina berhasil menyelamatkan dua dari tiga WNI yang disandera kelompok teroris Abu Sayyaf pada September lalu. Operasi serangan fajar dikerahkan militer untuk membebaskan para sandera.

Berdasarkan laporan Manila Bulletin, Senin (23/12/2019), Komandan Pasukan Bersenjata Filipina di Mindanao Barat, Letjen Cirilito Sobejana menyebut marinir bentrok dengan pasukan Abu Sayyaf di Panamao pada Minggu 22 Desember pukul 4.43 waktu setempat.

Pertempuran berlangsung selama 25 menit. Para tentara berhasil memukul mundur dan mengejar pasukan Abu Sayyaf. Pengejaran berlangsung di area hutan hingga tentara bentrok lagi dengan bandit Abu Sayyaf pada pukul 6.27 pagi.

Baku tembak kembali terjadi antara dua kubu selama 15 menit. Beruntung, helikopter MG520 Angkatan Udara Filipina membantu pasukan darat. Pasukan di helikopter menembakan mortar ke posisi musuh sehingga Abu Sayyaf kembali mundur.

"Selama adu tembak, dua korban berhasil melarikan diri (dari Abu Sayyaf) dan kami berhasil menolong mereka," ujar Letjen Cirilito kepada AFP.

Seorang korban dari pihak Abu Sayyaf tewas di tempat dan seorang lagi dari militer Filipina. Satu korban dari pihak militer terluka dan dibawa ke rumah sakit di Panamao. Hingga kini, militer Filipina masih mengupayakan menolong satu tersandera lain berinisial MF.

Duta Besar RI untuk Filipina Sinyo Harry dilaporkan sudah berada di Filipina Selatan untuk memantau proses penyelamatan.

"Saat ini (Dubes Sinyo) berada di Zamboanga, Filipina Selatan sejak pagi ini. Staf KBRI sejak dua hari lalu. (Mereka) memantau," ujar Bagian Penerangan Humas dan Media KBRI Manila, Agus Buana kepada Liputan6.com.

2 dari 3 halaman

1 WNI Masih Disandera

Pemerintah Indonesia bekerjasama erat dengan pemerintah Filipina berhasil membebaskan dua WNI yang telah disandera selama 90 hari dari penyanderaan ASG pada 22 Desember 2019. Satu WNI msh terus diupayakan pembebasannya.

Berbagai langkah diplomasi telah dilakukan sejak awal, melalui pembicaraan langsung Presiden Jokowi dengan Presiden Duterte serta Menlu RI dengan Menhan Filipina. Pembicaraan tersebut ditindaklanjuti dengan koordinasi internal Pemri yang dilakukan Kemenkopolhukam RI. Demikian informasi yang diberikan oleh Kemlu RI, Minggu (22/12/2019). 

Pembicaraan tersebut ditindaklanjuti melalui kerjasama intensif antara badan intelejen Indonesia dengan militer Filipina, dimana operasi pembebasan berhasil menjejak posisi penyandera dan terjadi kontak senjata pada 22 Desember 2019 pagi hari.

Dalam operasi tersebut, 2 WNI atas nama SM dan ML berhasil dibebaskan. Sementara, satu sandera WNI a.n. MF masih terus diupayakan pembebasannya. SM dan ML akan menjalani pemeriksaan kesehatan dan selanjutnya akan segera direpatriasi ke Indonesia.

Pemerintah Indonesia menyampaikan apresiasi atas kerja sama Pemerintah Filipina yang baik, sekaligus menyampaikan duka cita atas gugurnya satu personil militer Filipina dalam operasi tersebut.

Pemerintah RI berharap satu sandera WNI a.n. MF dapat segera menyusul dibebaskan.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Filipina Bakal Hapuskan Perjanjian Militer dengan Amerika Serikat, Ada Apa?
Artikel Selanjutnya
Filipina Laporkan Kematian Pertama Infeksi Virus Corona di Luar Tiongkok