Sukses

Pasukan Firma Penambang Emas di Brasil Bunuh Seorang Suku Pedalaman

Liputan6.com, Amapa - Pasukan bersenjata yang bekerja untuk sebuah firma penambang emas di Brasil, dilaporkan menyerbu tanah masyarakat pedalaman di utara, menewaskan seorang anggota suku setempat.

Insiden pekan lalu itu dikabarkan terkait usaha firma pertambangan emas yang hendak mengeksploitasi tanah masyarakat adat setempat untuk kepentingan tambang, demikian seperti dikutip dari BBC, Senin (29/7/2019).

Penduduk desa, yang berlokasi di negara bagian Amapá, ketakutan dan telah melarikan diri.

Namun, ada kekhawatiran akan terjadi bentrokan kekerasan jika mereka mencoba untuk merebut kembali tanah yang kaya emas itu.

Polisi telah tiba di daerah tersebut.

Ketegangan di wilayah Amazon meningkat ketika Presiden sayap kanan Jair Bolsonaro berjanji untuk membuka beberapa wilayah masyarakat adat di Brasil yang tertutup (dan dilindungi konstitusi) untuk kepentingan tambang. Wilayah itu, kata Bolsonaro, merupakan "tanah kaya mineral."

Sang presiden juga membuka kemungkinan untuk "bekerjasama dengan negara lain", termasuk Amerika Serikat, terkait rencana proyek tersebut.

Bolsonaro mengatakan, wilayah adat terlalu besar mengingat jumlah orang yang tinggal di sana, dan kritikus menuduhnya mendorong penambangan ilegal dan invasi untuk menjaring sumber daya alam.

Pembunuhan masyarakat adat oleh warga lokal adalah hal yang jarang terjadi di Brasil, rumah bagi kelompok suku Amazon yang ternama.

Sementara aktivis mengatakan, pelonggaran perlindungan terhadap masyarakat adat dapat menyebabkan deforestasi hutan hujan Amazon yang lebih besar dan mengancam keberadaan suku-suku yang bernaung di bawahnya.

2 dari 3 halaman

Apa yang Terjadi di Amapá?

Kelompok bersenjata berat berjumlah 10 - 15 orang menyerbu desa Yvytotõ dari komunitas Wajãpi. Konflik memicu "ketegangan sangat tinggi", menurut lembaga hak adat Brasil, Funai.

Para penduduk melarikan diri ke desa Mariry, sekitar 40 menit perjalanan dengan berjalan kaki, dan telah diperingatkan untuk tidak mencoba melakukan kontak dengan pasukan bersenjata.

Funai, yang menerima laporan dari Wajãpi, mengatakan bahwa para penambang telah membunuh Emyra Wajãpi yang berusia 68 tahun. Pada tubuhnya, ditemukan bekas tikaman di sungai Mairy yang dekat dengan permukiman mereka pada Rabu 21 Juli 2019.

Dikatakan bahwa tim penanggap sulit untuk segera mencapai lokasi perkara.

Insiden itu tampaknya mengonfirmasi ketakutan terburuk bagi nasib wilayah adat Brasil yang dilindungi, menurut BBC di Rio.

Polisi federal dan pasukan elite baru tiba di daerah itu pada Minggu 28 Juli 2019, dan polisi federal dan kantor kejaksaan mengatakan mereka akan menyelidiki peristiwa tersebut, kata seorang pemimpin setempat pada Sabtu 27 Juli 2019.

"Ini adalah invasi kekerasan pertama dalam 30 tahun sejak demarkasi sumber daya masyarakat adat di Amapá," kata Senator Rodolfe Rodrigues kepada surat kabar lokal Diário do Amapá.

3 dari 3 halaman

Simak video pilihan berikut: