Sukses

Bahaya, Ini 5 Tantangan yang Dihadapi Astronaut untuk Menjelajah Mars

Liputan6.com, Jakarta - Perjalanan manusia ke ruang angkasa telah mendapati kemajuan luar biasa selama bertahun-tahun. Baru pada bulan Juli 1969, manusia pertama kali bisa berjalan di Bulan.

Sekarang, NASA berencana untuk mengirim astronaut terbaiknya ke Mars dalam waktu yang tidak lama lagi. Menurut badan antariksa AS ini, mereka hendak membawa manusia ke Planet Merah pada tahun 2033.

Meski belum pernah ada satu pun orang yang berhasil menapaki Mars, namun sejumlah wahana penjelajah telah berhasil mendarat di sana, guna meneliti tanah dan unsur-unsur lain yang kemungkinan bisa menunjang makhluk hidup.

Walupun menarik untuk memikirkan tentang manusia yang bisa hidup di Mars, namun kenyataannya adalah mereka akan menghadapi banyak masalah selama penjelajahan mereka.

Mulai dari badai debu yang bertahan lama, tingkat radiasi matahari yang sangat tinggi, hingga kelangkaan pasokan makanan dan pendukung kesehatan secara keseluruhan.

Berikut 5 hambatan paling menantang yang akan dihadapi para astronaut dalam perjalanan menuju Mars, seperti dikutip dari Top Tenz, Senin (3/5/2019).

2 dari 6 halaman

1. Kesehatan Mental dan Fisik

Selain medan yang kasar, suhu beku, dan badai debu, para astronaut juga harus memikirkan dengan matang tentang masalah kesehatan mental dan fisik mereka.

Proses perpindahan dari dua medan gravitasi yang sangat berbeda, Bumi ke Mars, akan memengaruhi orientasi spasial, keseimbangan, mobilitas, mabuk perjalanan, koordinasi mata-tangan dan kepala-mata.

Berada di ruang gelap, sepi dan tak berpenghuni, jauh dari keluarga dan teman selama beberapa bulan atau tahun, adalah sesuatu yang sulit dilalui bagi astronaut secara mental.

Suasana hati (mood), moral, kognisi, atau interaksi sehari-hari mereka (kesalahpahaman dan gangguan komunikasi) dapat menurun drastis. Selain itu, mereka juga bisa terkena gangguan tidur, kelelahan, atau bahkan depresi.

Di samping itu, kuman dan bakteri penyebab penyakit, alergi atau sakit juga dapat menyebar dengan mudah saat astronaut berada di area tertutup atau tuang hampa, seperti di Mars.

Faktor kesehatan terbesar lainnya ialah tingginya tingkat radiasi matahari di Mars, yang dapat meningkatkan peluang para astronaut terkena kanker.

Radiasi dapat merusak sistem saraf pusat mereka, menyebabkan perubahan pada fungsi kognitif, perilaku, dan mengurangi fungsi motorik.

Pancaran gelombang tersebut juga bisa menyebabkan mual, muntah, kelelahan, dan anoreksia. Penyakit jantung dan peredaran darah, serta katarak, juga dapat berkembang.

3 dari 6 halaman

2. Perjalanan Jarak Jauh

Para astronaut harus menempuh perjalanan yang sangat jauh untuk tiba di Mars. Sebelum penerbangan dilakukan, mereka harus mempertimbangkan letak-letak planet-planet di Tata Surya secara detail, karena jarak di antara planet-planet tersebut selalu berubah saat mereka mengelilingi matahari.

Sementara jarak rata-rata antara Mars dan Bumi adalah 140 juta mil, jarak keduanya kian dekat satu sama lain, tergantung pada posisi mereka di sekitar matahari.

Bumi dan Mars berada di posisi terdekat satu sama lain ketika Mars berada pada posisi terdekatnya dengan matahari -- dan Bumi berada di posisi terjauh dari matahari.

Pada saat itu, kedua planet akan berjarak 33,9 juta mil satu sama lain. Ketika planet-planet terletak di sisi berlawanan dari matahari, mereka berada pada jarak 250 juta mil satu sama lain.

Menurut NASA, peluncuran ideal ke Mars akan memakan waktu sekitar sembilan bulan. Demikian pula dengan waktu tempuh kembali ke Bumi. Ini belum ditambah dengan lama waktu saat mereka tinggal di Mars.

4 dari 6 halaman

3. Radiasi Tingkat Tinggi dan Minim Gravitasi

Karena Mars memiliki atmosfer yang jauh lebih tipis daripada Bumi, maka dari itu planet ini tidak punya pelindung yang cukup kuat untuk siapa pun atau apa pun yang ada di atasnya. Terlebih terhadap radiasi matahari.

Bahkan, bila ada astronaut yang benar-benar tiba di sana, maka mereka harus memperhitungkan tentang dua sumber radiasi berbahaya.

Pertama adalah semburan api matahari yang berasal dari matahari kita. Kedua yaitu partikel dari sinar kosmik galaksi yang melewati Tata Surya hampir dengan kecepatan cahaya dan dapat merusak apa pun yang disenggolnya, seperti pesawat ruang angkasa atau bahkan tubuh astronaut itu sendiri.

Kostum astronaut, serta wahana antariksa, perlu dibuat dari bahan yang mampu melindungi mereka dari radiasi tingkat tinggi.

Masalah besar lainnya adalah bahwa gravitasi di Mars hanya sebagian kecil dari yang ada di Bumi. Faktanya, gravitasi di Planet Merah 62% lebih rendah daripada di planet kita.

Untuk lebih memahami: jika seseorang memiliki berat 220 pound di Bumi, maka bobotnya akan berubah jadi 84 pound di Mars.

Ada beberapa faktor yang berkontribusi terhadap rendahnya gravitasi di Mars, seperti kepadatan, massa, dan jari-jari planet. Meskipun Bumi dan Mars memiliki permukaan tanah yang hampir sama, namun Mars hanya punya 15% dari volume planet kita dan hanya 11% dari massa Bumi.

Meskipun masih belum ada temuan pasti terkait pengaruh jangka panjang dari perubahan gravitasi pada kesehatan astronaut, namun penelitian menunjukkan bahwa efek dari gayaberat mikro akan menyebabkan hilangnya kepadatan tulang, massa otot, fungsi organ, dan penglihatan.

5 dari 6 halaman

4. Medan yang Sangat Kasar dan Cuaca Dingin

Medan yang sangat kasar dan berbatu-batu di Mars dapat menyebabkan masalah bagi pesawat ruang angkasa serta para astronaut yang mencoba berjalan di permukaannya.

Planet ini ditutupi oleh bebatuan, ngarai, gunung berapi, kawah, dan hamparan danau kering, serta debu merah yang menutupi sebagian besar planet.

Robot penjelajah atau rover Curiosity bahkan mengalami masalah seperti itu ketika, pada 2013, ia menemukan sebuah daerah dengan bebatuan tajam yang terlihat mirip dengan paku.

Batu-batu tersebut -- yang tampak seperti gigi hiu dengan tinggi 3 sampai 4 inci -- kemungkinan besar diciptakan oleh angin atau badai. Batuan tajam ini dapat menusuk dan bahkan merusak roda, belum lagi betapa mustahilnya berjalan kaki di sana.

Para astronaut yang berniat mengunjungi Planet Merah tentu tidak akan terbiasa dengan suhu dinginnya yang sangat dingin.

Suhu rata-rata di planet tersebut adalah -80 derajat Fahrenheit dan dapat mencapai -207 derajat Fahrenheit selama musim dingin. Jadi, astronaut harus membutuhkan pakaian antariksa khusus yang akan membuat mereka tetap hangat selama berada di sana.

6 dari 6 halaman

5. Badai Debu Abadi

Mars dikenal karena badai debu masifnya yang abadi -- beberapa di antaranya sangat besar, sehingga bisa dilihat dari teleskop di Bumi. Faktanya, beberapa badai debu meliputi area yang sama dengan yang terjadi di seluruh benua di Bumi, yang berlangsung selama beberapa minggu.

Kira-kira, setiap tiga tahun waktu Mars (atau sama dengan lima setengah tahun waktu Bumi), badai debu raksasa menutupi seluruh Planet Merah yang dikenal sebagai global dust storms atau "badai debu global".

Hal terbaik tentang badai debu tersebut adalah kekuatan angin terbesarnya hanya mencapai sekitar 60 mil per jam, jadi embusannya sangat tidak mungkin akan merusak wahana antariksa.

Di sisi lain, partikel debu kecil cenderung menempel pada permukaan apa pun, bahkan di roda gigi mekanis rover. Satu masalah khusus yang pernah dihadapi NASA adalah panel surya InSight yang cukup ditutupi banyak debu, oleh karena itu wahana ini tidak akan mampu menyerap sinar matahari sebanyak mungkin untuk mendapatkan energi yang dipakai guna menyalakan peralatan.

Konser Satu Cara #SolidaritasTanpaBatas
Loading