Sukses

Bertemu CEO Twitter, Donald Trump Keluhkan Followers yang Berkurang

Liputan6.com, Washington DC - Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Selasa, 23 April melakukan pertemuan dengan Kepala Eksekutif Twitter Inc Jack Dorsey. Keduanya menghabiskan waktu yang cukup signifikan.

Dalam pertemuan itu, Trump bertanya ke Dorsey perihal kehilangan sejumlah pengikut (followers) di akun Twitter pribadinya, demikian dikutip dari laman Channel News Asia, Rabu (24/5/2019).

"Pertemuan luar biasa ini berlangsung di White House dengan @Jack dari @Twitter. Banyak topik yang dibahas seputar platform mereka dan dunia media sosial secara umum," tulis Trump dalam akun Twitternya.

Dorsey, yang sebelumnya tidak pernah bertemu dengan Trump, menjawab dalam tweet: "Terima kasih atas waktunya. Twitter ada di sini untuk melayani seluruh percakapan publik, dan kami bermaksud menjadikannya lebih sehat dan lebih sopan. Terima kasih untuk diskusi tentang itu. "

Salah seorang sumber mengatakan, Dorsey menanggapi kekhawatiran Trump tentang hilangnya sejumlah followers di akun-nya.

Sebelumnya, Trump sempat menuding bahwa pihak Twitter bias terhadapnya. Trump mentweet: "Mereka tidak memperlakukan saya dengan baik sebagai seorang Republikan. Sangat Diskriminatif."

Menurut catatan dari pihak Donald Trump, jumlah followers yang berkurang sebanyak 204.000 atau 0,2 persen dari 53,4 juta pengikutnya.

Pada Oktober 2018, Trump juga mengkritik Twitter; "Twitter telah menghapus banyak orang dari akun saya."

Sebagai seorang politisi, Trump memiliki salah satu akun yang paling banyak diikuti di Twitter. Lewat media sosial ini pula Donald Trump kerap menyampaikan hal-hal berkaitan dengan tugas negara atau hal yang kontroversi.

2 dari 3 halaman

Sempat Hilang

Akun Twitter pribadi Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendadak lenyap dari peredaran selama beberapa saat. Peristiwa itu terjadi pada Kamis 2 November 2017.

Akun Twitter pribadi sang presiden non-aktif selama kurang lebih 11 menit pada kurun waktu pukul 16.00 waktu AS.

Sehingga, selama 11 menit, ketika mencari akun @realDonaldTrump di Twitter, maka media sosial itu akan menampilkan pesan, "Maaf, laman yang Anda cari tidak ada!"

Berbagai spekulasi atas peristiwa itu beredar. Beberapa orang mengira, ada orang yang membajak akun Twitter pribadi sang presiden. Yang lain menduga, Trump sendiri yang menon-aktifkan akunnya.

Akan tetapi, pihak Twitter segera menjelaskan, "Akun tersebut secara tidak sengaja telah di-nonaktifkan karena 'human error' yang dilakukan oleh salah satu karyawan kami."

"Akun tersebut non-aktif selama 11 menit dan setelah itu telah kembali aktif. Saat ini kami terus melakukan investigasi dan mengambil langkah untuk mencegah peristiwa serupa terulang," kata rilis resmi dari Twitter.

3 dari 3 halaman

Investasi Lebih Lanjut

Akan tetapi, setelah investigasi lebih lanjut yang dilakukan oleh Twitter, ternyata, dalang di balik peristiwa itu adalah seorang pegawai yang bekerja untuk perusahaan media sosial tersebut. Demikian seperti dikutip dari The Guardian.

"Melalui penyelidikan kami, telah diketahui bahwa peristiwa itu dilakukan oleh seorang karyawan Twitter yang bekerja sebagai customer support. Ia melakukan hal tersebut pada hari terakhir ia bekerja untuk kami. Saat ini, kami sedang melakukan tinjauan internal secara penuh," kata rilis baru dari Twitter.

Mengingat pelaku melaksanakan aksinya pada hari terakhir ia bekerja di perusahaan teresebut, maka, ada kemungkinan bahwa tindakan itu disengaja.

Ketika The Guardian mencoba menghubungi Twitter untuk meminta penjelasan, platform mikroblogging itu tak memberikan respon.

Beberapa waktu terakhir, berbagai pihak telah meminta Twitter untuk menangguhkan akun pribadi Trump, khususnya ketika sang presiden kerap mengunggah Tweet kontroversial, seperti soal Rusia, Korea Utara, menghina seorang jurnalis, dan retorika perang.

Akan tetapi, pihak Twitter tak serta merta langsung menon-aktifkan akun yang dimaksud, melainkan menandainya terlebih dahulu (flagged/marked).

Twitter baru akan menangguhkan sebuah akun jika akun tersebut telah dibajak, palsu, atau menyebarluaskan spam. Sebelumnya, perusahaan media sosial yang berbasis di San Fransisco itu telah beberapa kali menangguhkan sejumlah akun, seperti provokator ekstrem-kanan Milo Yiannopoulus dan penyulut komentar rasis Azealia Banks.

Loading
Artikel Selanjutnya
Wabah Campak di AS, Kemenkes: Tidak ada Imbauan Khusus dari WHO
Artikel Selanjutnya
AS Beri Sanksi Negara yang Impor Minyak dari Iran, Ini Alasannya