Sukses

20 Roket Ditembakkan ke Aleppo Suriah, 11 Orang Tewas

Liputan6.com, Aleppo - Sekitar 20 roket ditembakkan dari Provinsi Idlib Suriah yang dikuasai pemberontak ke wilayah Aleppo yang dikuasai pemerintah Bashar al-Assad. Setidaknya 11 orang dinyatakan tewas dan 11 lainnya luka-luka dalam insiden tersebut.

Serangan dilancarkan pada Minggu malam 14 April 2019 oleh "kelompok teroris", menurut sumber polisi yang dilaporkan kantor berita pemerintah Sana, mengutip Al Jazeera pada Senin (15/4/2019).

Salah satu dari beberapa roket dilaporkan telah mendarat di pasar yang ramai di Aleppo, pusat industri sekaligus kota terbesar kedua di Suriah.

Seluruh korban luka dikonfirmasi oleh polisi merupakan warga sipil yang segera dilarikan ke rumah sakit untuk perawatan. Sementara lima dari 11 korban tewas merupakan anggota dinas keamanan.

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR), monitor perang yang berbasis di Inggris mengatakan sebanyak 20 roket ditembakkan ke beberapa lingkungan di Aleppo oleh kelompok Hay'et Tahrir al-Sham ( HTS) yang berafiliasi dengan Al Qaeda.

Wilayah Idlib

Idlib adalah benteng akhir yang dikuasai oleh pemberontak yang tersisa di Suriah. Kelompok militan itu telah terlibat dalam perang saudara berdarah, tak lama setelah protes damai terhadap pemerintah Presiden Bashar al-Assad dimulai pada 2011.

Sejak lama, wilayah itu dijuluki sebagai "tempat pembuangan" bagi para pengungsi, dan saat ini didominasi oleh kelompok teroris HTS yang berafiliasi dengan Al Qaeda.

Sementara itu, Aleppo sendiri telah lama menjadi target teroris, sejak pemerintah Bashar al-Assad mendapatkan kembali kendali atas wilayah yang dimaksud pada 2016 lalu. Keberhasilan itu tak lepas dari bantuan intervensi militer Ryusia sejak 2015.

Saat ini, pasukan pemerintah Suriah telah berhasil merebut kembali semua daerah yang dikuasai pemberontak, kecuali Idlib.

2 dari 3 halaman

Zona Demiliterisasi

Sebetulnya sejak September 2018, Idlib telah diusulkan sebagai zona demiliterisasi menurut perjanjian Rusia-Turki.

Sementara Rusia mendukung Assad, Turki telah mendukung faksi-faksi dari Tentara Suriah Merdeka - salah satu entitas dari kubu oposisi.

Terlepas dari kesepakatan itu, pemerintah Assad telah melanjutkan pengeboman mematikannya di Idlib. Tak ingin kalah, kelompok-kelompok bersenjata --terutama HTS-- telah melancarkan berbagai serangan terhadap pemerintah Assad.

Sebetulnya, Idlib telah termasuk dalam apa yang disebut sebagai zona de-eskalasi. Zona itu bertujuan untuk menopang gencatan senjata.

Sayangnya, kesepakatan yang disepakati oleh Rusia dan Iran pada pertemuan di ibu kota Kazakhstan itu tidak mengakomodasi HTS, kekuatan Idlib yang paling dominan.

3 dari 3 halaman

HTS Disebut Teroris Sejak 2016

HTS yang merupakan kekuatan dominan sekaligus pelaku serangan roket di Idlib, disebut sebagai teroris oleh Rusia pada 2016.

Keberadaan HTS sebagai "teroris" itu telah menjadi alasan penyerangan pemerintah Assad terhadap wilayah Idlib, rumah bagi hampir tiga juta warga Suriah.

Adapun konflik Suriah sendiri sebetulnya adalah pertempuran antara kubu pro-pemerintah dengan pro-oposisi. Setelah sembilan tahun konflik bergejolak, sekitar 400.000 jiwa telah dinyatakan tewas dengan jutaan lainnya terpaksa mengungsi.

Loading
Artikel Selanjutnya
Antusiasme WNI di Suriah Menyalurkan Hak Pilih untuk Pemilu 2019
Artikel Selanjutnya
Ini Penyebab Perang Suriah yang Terjadi Selama Bertahun-Tahun