Sukses

Pesawat Airbus A400M Singgah di Halim Perdanakusuma, RI Berniat Beli?

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno berkunjung ke Landasan AU Halim Perdana Kusuma pada Selasa 21 Agustus 2018, untuk meninjau langsung pesawat transport, heavy-lift produksi Airbus, A400M.

Itu dilakukan di tengah prospek pemerintah Indonesia yang berencana untuk membeli burung besi tersebut, demi meningkatkan kapabilitas distribusi logistik barang sejumlah perusahaan negara (mulai dari bahan bakar minyak hingga semen) via udara ke wilayah terjauh dan pelosok Tanah Air.

Pesawat Airbus A400M yang ditinjau oleh Menteri Rini adalah salah satu milik Angkatan Udara (AU) Prancis yang tengah singgah di Indonesia. Burung besi itu merupakan bagian dari detasemen AU Prancis yang berpartisipasi dalam latihan militer gabungan 'Pitch Black' di Australia pada Juli-Agustus 2018 lalu.

Datang atas undangan Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Menteri Rini mengatakan bahwa pemerintah RI dan sejumlah BUMN masih berdialog dan melakukan penjajakan dengan pihak Airbus selaku pemanufaktur, guna membeli pesawat itu.

"Kita (pemerintah RI) sedang bicarakan dengan pihak Airbus, dengan PT Dirgantara Indonesia (PTDI), dengan Garuda Indonesia, dengan Angkatan Udara," kata Menteri Rini usai meninjau pesawat tersebut, Selasa (21/8/2018).

Rini mengatakan, pemerintah RI, jika jadi membeli, mempertimbangkan untuk menggunakan pesawat itu sebagai pengangkut bahan baku dasar yang dibutuhkan warga Indonesia di pelosok dalam waktu cepat. Itu juga ditujukan untuk merombak sistem distribusi yang selama ini menggunakan kapal, yang dinilai menyulitkan dan membutuhkan waktu lama untuk tiba ke wilayah terjauh Indonesia, sehingga, menyebabkan instabilitas pengadaan barang, fluktuasi harga, bahkan inflasi.

Lambung kargo pesawat Airbus A400M milik AU Prancis yang singgah di Halim Perdanakusuma (21/8). Indonesia dikabarkan berniat untuk membeli pesawat berkapasitas maksimum 37 ton tersebut. (Liputan6.com / Rizki Akbar Hasan)

Rencana pembelian pesawat itu, jelas Rini, juga ditujukan untuk mendukung kebijakan program pemerintah terkait "program BBM dan LPG satu harga" di wilayah pelosok, serta "bagaimana kita mencoba agar harga semen bisa jauh lebih murah dan produk-produk kebutuhan dasar masyarakat juga memiliki harga yang sama" dengan di Pulau Jawa.

"Karena seringkali, kalau kita hanya menggunakan kapal, itu (proses distribusi) akan membutuhkan waktu lama, dan akan memberikan dampak inflasi," tambahnya.

Pesawat berspesifikasi militer itu, menurut pihak Airbus, mampu membawa muatan maksimum hingga 37 ton dan mampu mendarat di landasan yang memiliki keterbatasan --jarak yang pendek dan tak beraspal.

Bagi Rini, fitur itu dinilai positif dan sesuai dengan kebutuhan Indonesia.

"Pesawat ini mampu mendarat hanya dengan landasan sepanjang 1.000 meter dengan lebar 45 m, dan bisa mendarat di landasan tanah, tak harus concrete (aspal)," jelas Rini.

"Nah ini kan bisa banget di daerah kita, terutama di kepulauan yang tidak bisa dijangkau dengan mudah, yang pakai kapal besar juga sulit karena tidak ada dermaga."

Beberapa perusahaan BUMN yang diproyeksikan akan memanfaatkan pesawat itu meliputi, Pertamina, PLN, Semen Indonesia, Badan Urusan Logistik (BULOG), dan lainnya, mengutip materi presentasi yang disajikan oleh Airbus.

 

* Update Terkini Asian Games 2018 Mulai dari Jadwal Pertandingan, Perolehan Medali hingga Informasi Terbaru dari Arena Pesta Olahraga Terbesar Asia di Sini.

 

Simak video pilihan berikut:

2 dari 2 halaman

Indonesia Mau Beli, Asalkan...

Menteri BUMN Rini Soemarno mengatakan bahwa pihak pemerintah masih dalam pembicaraan awal terkait pembelian pesawat itu, dengan mempertimbangkan sejumlah faktor terkait harga, dana pemerintah, serta 'paket pembelian dan negosiasi' yang mencakup pada: komponen pendukung, pemeliharaan, pengelolaan dan sertifikasi, serta prospek kerja sama berkelanjutan antara PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dengan Airbus.

"Memang, (proses pembelian) ini kan gak cuma beli satu atau dua pesawat saja, karena kita harus memikirkan berbagai pendukungnya, yang mana pembicaraan terkait hal itu juga tak lepas dari masukan Kementerian Pertahanan dan Angkatan Udara RI," kata Rini.

"Sementara dengan PTDI, kita tengah membicarakan apa yang Airbus bisa bantu (untuk perusahaan BUMN RI tersebut), dalam hal dukungan mereka (Airbus) pada teknologi dan sertifikasi produk-produk kedirgantaraan kita, seperti pesawat N219, M235, dan CASA 212," ujarnya yang merujuk pada sertifikasi European Aviation Safety Agency (EASA) Uni Eropa.

Salah satu misi yang diemban oleh EASA adalah proses regulasi dan sertifikasi tunggal bagi negara-negara anggota serta negara mitra --di mana Indonesia merupakan salah satu negara mitra EASA di bawah Proyek Kemitraan Penerbangan Uni Eropa-Asia Tenggara (EU-South East Asia Aviation Partnership Project) dan Poyek Penerbangan Sipil ARISE Plus (ARISE Plus Civil Aviation Project).

Pada kesempatan yang sama, Direktur PTDI Elfien Goentoro menjelaskan bahwa pihak Airbus akan menjanjikan "rekomendasi industrialisasi terhadap PTDI, membantu sertifikasi EASA dalam hal POA (Production Organisations Approvals) dan DOA (Design Organisations Approvals) terhadap produk N219 kita ... serta hak pembuatan, penjualan dan maintenance penuh pada CN-235 dan C-212I" sebagai 'paket pembelian dan negosiasi' pesawat Airbus A400M tersebut.

Elfian juga menambahkan bahwa pihak PTDI mendukung langkah pemerintah Indonesia untuk melakukan negosiasi dengan Airbus terkait pembelian pesawat A400M, "selama itu banyak memberikan manfaat bagi Indonesia dan PTDI dalam rangka pengembangan kapabilitas kedirgantaraan kita, serta selaras dengan UU Nomor 16 Tahun 2012 (tentang Industri Pertahanan)."

Di lain pihak, ketika dimintai keterangan terkait proses penjualan itu, Airbus mengatakan, "kami tidak bisa berkomentar banyak terkait proses negosiasi yang tengah berlangsung ... semua tergantung pada pemerintah Indonesia," ujar Eduardo Pellicer, kepala pemasaran A400M Airbus.

Namun, di sisi lain, Menteri BUMN Rini Soemarno mengatakan, "pemerintah tengah meninjau secara menyeluruh, jadi, kita lihat tahun depan."

Loading
Artikel Selanjutnya
Erick Thohir Ingin 10 Persen Pimpinan BUMN Diisi Anak Muda
Artikel Selanjutnya
Ganti Pimpinan BUMN, Erick Thohir Dinilai Menteri yang Punya Keberanian