Sukses

29-6-1992: Pembunuhan Presiden Aljazair Disaksikan Ratusan Orang

Liputan6.com, Algiers - Bunyi letusan menghentikan pidato Presiden Aljazair, Mohamed Boudiaf di depan ratusan orang di Annaba, yang jaraknya sekitar 450 kilometer dari ibu kota Algiers, pada 29 Juni 1992. Ia yang bicara dengan mengangkat tangan kirinya itu segera menoleh ke arah sumber suara.

Sesaat kemudian, seseorang memberondongkan senjata. Panik pun terjadi, orang-orang segera tiarap ke bawah jok kursi kulit yang mereka duduki sebelumnya. Asap memenuhi ruangan. Tak lama kemudian, sang presiden ditemukan terkapar.

Pemimpin berusia 73 tahun itu tertembak di bagian punggung dan kepala. Insiden tersebut terjadi dalam kunjungan resmi pertamanya ke luar ibu kota sejak ia diangkat sebagai kepala pemerintahan pada 16 Januari 1992.

Seperti dikutip dari New York Times, Kamis (28/6/2018), pelaku pembunuhan, yang mengenakan seragam militer dan dipersenjatai dengan senapan otomatis. Ia ditembak mati para pengawal presiden dalam baku tembak yang terjadi pasca-insiden. Sebanyak 41 orang dilaporkan terluka.

Para dokter di rumah sakit militer di Ain Naadja kepada Associated Press mengatakan, Presiden Boudiaf diterbangkan ke sana untuk mendapatkan penanganan darurat.

Ia bahkan masih hidup saat siaran radio resmi mengumumkan kematiannya pada pukul 13.00. Mohamed Boudiaf sejatinya baru dinyatakan meninggal dunia tiga jam setelahnya.

Pemerintah tak menuduh kelompok mana pun sebagai pihak yang bertanggungjawab.

Namun, dalam wawancara lewat telepon, sejumlah pejabat senior yang tak mau disebut namanya mengekspresikan keyakinan mereka bahwa otak di balik pembunuhan tersebut adalah kelompok Islamic Salvation Front, partai fundamentalis terbesar di Aljazair.

Partai tersebut nyaris memenangkan mayoritas kursi di parlemen dalam pemilu putaran kedua pada Januari 1992, ketika tentara turun tangan dan membatalkan pemungutan suara.

"FIS yang melakukannya," kata seorang pejabat pemerintahan, menggunakan singkatan Bahasa Prancis untuk Islamic Salvation Front.

Ia minta tentara bertindak dan menangkapi para pimpinan kelompok. "Ini saatnya mereka dijebloskan ke tahanan dan tinggal di sana selamanya."

Namun, sejumlah warga Aljazair menduga, dalang pembunuhan tersebut adalah faksi yang tidak puas di dalam angkatan bersenjata atau bekas partai yang berkuasa, National Liberation Front.

 

 

Saksikan juga video berikut ini:

2 dari 2 halaman

Kata-Kata Terakhir: Islam...

Mohamed Boudiaf secara luas dipandang sebagai 'pemimpin boneka' bagi mereka yang sejatinya menjadi pengambil keputusan di Aljazair, terutama Menteri Pertahanan Khaled Nezzar juga Perdana Menteri Sid Ahmed Ghozali.

Meski demikian, nama Boudiaf harum di kalangan rakyatnya. Ia adalah salah satu pemimpin revolusi melawan pendudukan Prancis dan dipenjarakan pihak kolonial selama enam tahun sebelum Aljazair memperoleh kemerdekaannya.

Insiden pembunuhan Boudiaf yang terjadi di siang bolong difilmkan. Rekamannya kemudian diputar di televisi Aljazair, termasuk kata-kata terakhir yang ia ucapkan. Yang terdengar bak 'ramalan'.

"Kita harus menyadari bahwa kehidupan seorang manusia sangatlah pendek. Kita semua akan mati. Mengapa kita harus bergantung pada kekuasaan,"  kata dia.

"Orang-orang lain telah mengambil alih posisi kita dengan teknologi dan ilmu pengetahuan. Islam..." Entah apa yang ingin disampaikan Boudiaf. Pidatonya terputus oleh suara tembakan, dan tak lama kemudian peluru menembus tubuhnya. 

Pembunuhan tersebut menimbulkan guncangan hebat di Aljazair, dan tetap menjadi momen yang sangat penting dalam sejarah modern negara itu.

Boudiaf kini dianggap martir bagi Aljazair. Bahkan banyak yang menganggapnya sebagai penyelamat negara itu.

Pembunuhnya, Letnan Lambarek Boumaarafi dinyatakan sebagai pelaku tunggal. Ia disebut-sebut sebagai simpatisan kelompok fundamentalis. 

Dia dijatuhi hukuman mati dalam sidang tertutup pada tahun 1995, namun eksekusi tak pernah dilakukan.

Pembunuhan Mohamed Boudiaf menjadi subyek kontroversi dan teori konspirasi di Aljazair. Tak sedikit yang menduga, sang presiden sebenarnya dibunuh oleh pihak militer yang bertanggung jawab atas kudeta dan mendudukan korban di kursi kepemimpinan. 

Teori-teori konspirasi tersebut berpusat pada fakta bahwa Boudiaf menggagas upaya melawan korupsi di rezim Aljazair, Ia juga mencopot beberapa pejabat militer penting dari jabatan mereka. 

Istri Boudiaf, Fatima bersikeras, kematian suaminya tak diselidiki secara semestinya. 

Selain pembunuhan terhadap Presiden Aljazair, Mohamed Boudiaf, sejumlah kejadian menarik dalam sejarah dunia juga terjadi pada tanggal 29 Juni. 

Pada 1995, Atlantis menjadi pesawat ulang alik Amerika Serikat pertama yang masuk dok di stasiun luar angkasa Rusia Mir. Sementara pada 29 Juni 1976, Seychelles merdeka dari Britania Raya.

Loading
Artikel Selanjutnya
28-6-1911: Meteorit 'Pembunuh Anjing' Jatuh dari Langit Mesir
Artikel Selanjutnya
27-6-1894: Kisah Annie Londonderry, Perempuan Pertama yang Bersepeda Keliling Dunia