Sukses

Napak Tilas Rute Pelayaran Ferdinand Magellan, Kapal Swiss Berlabuh di Sunda Kelapa

Liputan6.com, Jakarta - Usia boleh senja, tapi kualitas tak pernah sirna. Tepat rasanya jika prosa itu disematkan pada Fleur de Passion, kapal layar kuno produksi 1941 berbendera Swiss, yang pada 3 - 12 April 2018 berlabuh di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta.

Fleur de Passion, yang juga berstatus sebagai kapal riset, memiliki misi pelayaran ganda sejak ia mulai berangkat dari Sevilla, Spanyol pada 13 April 2015.

Kapal itu berkeliling dunia menapak tilas rute pelayaran kuno penjelajah Ferdinand Magellan. Di samping itu, Fleur de Passion juga melaksanakan beberapa pengumpulan data ilmiah untuk kepentingan riset kemaritiman.

Misi akan berakhir ketika Fleur de Passion kembali pulang ke Sevilla, diperkirakan pada Agustus 2019, bertepatan dengan 500 tahun ekspedisi Magellan.

Saat ini, kapal berdesain antik yang pernah mengabdi sebagai penyapu ranjau laut pada Perang Dunia II itu tengah berlabuh di Indonesia pada separuh perjalanannya berkeliling dunia.

"Sebuah kehormatan bagi Fleur de Passion untuk berlabuh di pelabuhan historis Sunda Kelapa, di Indonesia, negara yang memiliki nilai-nilai sejarah kelautan yang panjang," kata Duta Besar Swiss untuk Indonesia Yvonne Baumann menyambut para wartawan di atas Fleur de Passion, Rabu (4/4/2018).

Dubes Swiss untuk Indonesia Yvonne Baumann (Rizki Akbar Hasan/Liputan6.com)

"Kunjungan ini juga menjadi bukti penghargaan Swiss dan Fleur de Passion terhadap Indonesia, negara poros maritim dunia," lanjut Dubes Baumann.

Misi Riset

Keseluruhan misi pelayaran Fleur de Passion dilaksanakan oleh personel program The Ocean Mapping Expedition yang digagas The Foundation Pacifique -- sebuah organisasi nirlaba berbasis di Jenewa, Swiss yang bergerak di bidang sosial-humaniora, lingkungan dan riset ilmiah.

Samuel Gardaz, Vice Presiden dan Co-Founder The Foundation Pacifique menekankan bagaimana misi pelayaran Fleur de Passion tak hanya sekedar mengenang ekspedisi Magellan semata, tapi juga demi ilmu pengetahuan.

Gardaz menjelaskan bahwa ada lima misi riset ilmiah yang dilaksanakan oleh Fleur de Passion kala berlayar selama 4 tahun.

Yakni, pengumpulan data untuk riset polusi suara (yang disebabkan oleh suara mesin kapal, sonar, dan lain-lain), pengambilan sampel residu mikroplastik, observasi kelestarian terumbu karang, pemetaan habitat dan biota, serta pengumpulan data zat gas rumah kaca (metana dan karbon dioksida) di laut.

"Kami mengumpulkan data dan sampel itu secara mentah. Tidak dianalisis. Urusan itu akan dilakukan oleh institusi riset atau pendidikan yang berkolaborasi dengan kami untuk melakukan pengumpulan data dan sampel tersebut," kata Gardaz di atas Fleur de Passion, Rabu 4 April 2018.

Institusi riset atau pendidikan yang berkolaborasi dengan misi pelayaran panjang Fleur de Passion meliputi; Laboratory of Bioacoustics Applications (LAB) Polytechnic University of Cataluña, Barcelona dan United Nations Environment Program (UNEP).

CoralWatch Project dan Remote Sensing Research Center (RSRC) University of Queensland; serta University of Geneva juga turut berkolaborasi dengan kapal berbendera Swiss itu.

Misi yang berlangsung selama total kurang-lebih 4 tahun itu menelan dana senilai hampir 5 juta Franc atau Rp 71 miliar, yang diperoleh dari institusi atau lembaga donor, seperti PBB, Pemerintah Jenewa Swiss, serta universitas.

2 dari 3 halaman

Misi Budaya dan Kepemudaan

Fleur de Passion berada di laut hampir selama 4 tahun penuh. Tapi, bukan berarti para awak kapal terus menerus berada di sana sepanjang pelayaran.

"Kami merotasi awak kapal dan personel setiap dua bulan sekali atau setiap kali Fleur de Passion berlabuh di beberapa lokasi," kata Samuel Gardaz, Samuel Gardaz, Vice Presiden dan Co-Founder The Foundation Pacifique.

Awak dan personel merupakan volunteer atau sukarelawan yang berhasrat untuk bergabung dalam program The Ocean Mapping Expedition. Mereka terdiri dari para pelaut kawakan, budayawan dan seniman, pemuda-pemudi, aktivis lingkungan, hingga pegiat aktivitas pelayaran.

Bahkan, The Ocean Mapping Expedition juga membentuk program khusus yang menyasar para sukarelawan pemuda-pemudi.

"Para pemuda-pemudi yang ikut berlayar berjumlah 4 - 7 orang, berasal dari Swiss. Mereka adalah muda-mudi yang ingin merasakan pengalaman hidup di laut, mendisiplinkan diri, bertukar kebudayaan di tempat mereka berlabuh, dan tentunya, berpetualang," kata Gardaz.

3 dari 3 halaman

Sekilas Fleur de Passion

Fleur de Passion adalah satu-satunya kapal layar terbesar yang dimiliki oleh Swiss -- negara kaya nan makmur namun land-locked (tanpa laut dan garis pantai) di Eropa Barat.

Kapal itu diproduksi di Bremen, Jerman pada 1941. Namun kala itu, ia belum bernama bahkan berfungsi seperti sekarang.

Dulu, kapal itu merupakan perahu bermotor yang dioperasikan oleh Angkatan Laut Nazi Jerman. Ia bertugas untuk membantu U-Boat Jerman untuk menyapu ranjau di laut.

Seusai perang dan menyusul kekalahan Jerman, kapal itu kemudian dihibahkan oleh Sekutu kepada Angkatan Laut Prancis pada 1945. Ia mengabdi untuk militer itu selama 30 tahun sebelum akhirnya dipensiunkan.

Namun, pada 1976, seorang pelaut Prancis membeli dan meremajakan kembali kapal itu, yang kemudian menamakan perahu veteran Perang Dunia II tersebut dengan nama Fleur de Passion -- terinspirasi dari novel The Boat That Wouldn’t Float karya penulis Kanada Farley Mowat.

Kemudian, pada 2007, Fleur kembali berpindah tangan. Kali ini, ia dibeli oleh The Foundation Pacifique, yang kemudian merenovasi total perahu itu. Mulai dari penambahan kerangka baja dan kayu baru, sistem navigasi komputer, serta tiang pancang dan layar ciamik.

Sejak itu, kapal berusia senja namun bertenaga itu difokuskan untuk melaksanakan misi dan riset seputar oseanografi dan lingkungan.

Dalam ekspedisi 2015 - 2019 ini, Fleur de Passion mengambil rute pelayaran Eropa Barat, Afrika Barat Laut, Samudera Atlantik, Amerika Selatan, Samudera Pasifik, Australia, Asia Tenggara, Samudera Hindia, Madagaskar, Afrika Barat, dan kembali ke Eropa.

Artikel Selanjutnya
Jared Leto Manggung Pakai Busana Rancangan Desainer Indonesia
Artikel Selanjutnya
Anti Tenggelam, Kapal XSV-17 Thunder Child Jadi Solusi Penyelamat di Lautan