Sukses

Kisah Cinta Terlarang 'Romeo dan Juliet' Afghanistan

Liputan6.com, Kabul - Zakia dan Ali menjalani kisah cinta terlarang. Hubungan mereka tak mendapat restu karena perbedaan keyakinan dan etnis.

Sang gadis, Zakia berlatar belakang Sunni, dari etnis Tajik. Sementara, pria pujaan hatinya menganut aliran Syiah dari suku Hazara.

Kisah mereka mengingatkan pada roman cinta Romeo dan Juliet karya Shakespeare, yang berakhir tragis akibat permusuhan sengit dua keluarga: Montague dan Capulet.

Rod Nordland, seorang jurnalis yang menemukan pasangan asal Afghanistan itu mengatakan, di negara yang terkoyak konflik tersebut, risiko bagi keduanya sungguh mengerikan. Mereka bisa menjadi target apa yang dinamakan 'honor killing' -- pembunuhan atas nama kehormatan.
 

"Aku tak akan heran jika di akhir kisah, keluarga sang gadis akan muncul pada malam buta, menariknya dari tempat pelarian," tulis dia dalam buku terbarunya, 'The Lovers', seperti dikutip dari CNN, Sabtu (6/2/2016).

"Biasanya seperti itu lah akhirnya. Namun, aku ternyata salah."

Zakia dan Ali melarikan diri dari rumah, tanpa masa depan yang jelas. Namun, sejauh ini mereka selamat. 

Kisah cinta Zakia dan Ali dianggap mirip Romeo dan Juliet (Wikipedia)

"Mereka buta huruf," kata Nordland kepada jurnalis CNN Christiane Amanpour. "Keduanya tak pernah sekolah."

Namun, Nordland mengaku terkejut saat mengetahui bagaimana puisi dan susunan kata-kata penuh makna di dalamnya mempengaruhi Zakia dan Ali.

"Mereka tak membacanya. Musik-musik populer lah yang mengenalkan keduanya pada puisi.

Dalam bukunya, Nordland menulis bahwa nada dering pada ponsel Ali adalah lagu cinta berbahasa Pashto -- bahasa resmi Afghanistan.

"Come here, my little flower, come!
Let me tear open my breast
And show you my own heart, naked!"

Atau terjemahan bebasnya:

Datanglah kemari, bunga kecilku!
Izinkan aku membelah dadaku
Untuk menunjukkan padamu jantung hatiku, yang telanjang!

"Ali merayu Zakia dengan puisi yang ia lantunkan, kata-kata dari lirik lagu. Juga  kisah-kisah lama Persia, yang bahkan telah ada sebelum Injil muncul," kata Nordland, yang mengaku tersentuh dengan fakta itu.

2 dari 2 halaman

Ancaman Mati

 Konsekuensi Serius

Awalnya, Zakia ragu menerima lamaran Ali. Ia tahu, pernikahan seperti itu tabu lagi bahaya.

Kabur bersama seorang pria Syiah dari etnis Hazara, itu berarti ia akan dianggap menghancurkan kehormatan keluarga.  "100 persen yakin, mereka akan membunuhku," kata dia.

Nordland menambahkan, di Afghanistan, jika seorang pria membunuh anggota keluarga perempuan atas nama kehormatan, maka hukuman yang dijatuhkan maksimal 2 tahun.

"Ada kasus di mana keluarga menunggu 6-8 tahun. Mereka berpura-pura telah berdamai, namun saat semua orang melupakan perselisihan tersebut, mereka membunuh gadis itu."

Baik Zakia dan Ali memutuskan kabur setelah orangtua mereka mengetahui hubungan cinta keduanya.

Ayah Zakia marah bukan kepalang. "Aku bersumpah, dengan segala cara, aku akan membawa pulang putriku," kata dia, seperti ditulis Nordland.  "Dia adalah bagian hidupku, ibarat tangan dan kakiku, tak mungkin aku merestuinya dengan lelaki itu."

Namun, daripada pulang ke rumah orangtuanya, Zakia memilih bersama Ali yang lembut dan memperlakukannya dengan baik. "Sangat sulit," kata perempuan itu. "Semua orang dalam keluargaku menentang."

Zakia dan Ali menjalani cinta terlarang, meski risikonya mati (Credit Andrew Quilty for The New York Times)

 

Puisi-puisi merekatkan hubungan mereka. Zakia mengaku, untaian kata-kata itu meningkatkan keberaniannya.

"Hari-hari itu sungguh dingin, namun, ia tetap menemuiku. Meski aku melarangnya datang, ia tetap muncul dan melantunkan puisi."

Setelah menuliskan kisah keduanya di New York Times, Nordland membuat 'Romeo dan Juliet' Afghanistan itu terkenal.

"Mereka menjadi semacam pahlawan bagi generasinya. Sebab, bukan mereka saja yang jatuh cinta," kata Nordland.

Namun, bahaya belum berlalu. Bisa jadi anggota keluarga yang tak rela membunuh mereka. Dan pelakunya tak akan dihukum berat.

Meski memenuhi 4 dari 5 syarat permohonan suaka, keduanya belum bersedia risiko menyeberangi Laut Aegea menuju Eropa -- di mana mereka bisa mengajukan permohonan suaka. "Hukum tak memungkinkan mereka melakukannya."

Apalagi, Zakia dan Ali sudah punya anak, seorang bayi perempuan berusia setahun bernama Ruqia.

Saat melihat foto Aylan Kurdi -- bocah cilik yang jasadnya tersapu ke pantai Turki, keduanya memutuskan tak akan menjadi pencari suaka. Demi keselamatan putri mereka.

Loading