Sukses

Sekelompok Remaja Klaim Temukan Puing MH370 di Hutan Filipina

Liputan6.com, Manila - Setahun lebih tak juga ditemukan, tiba-tiba saja sekelompok remaja di hutan Filipina mengklaim menemukan puing pesawat Malaysia Airlines MH370. Menurut laporan yang beredar, seorang remaja lokal dan beberapa temannya yang saat itu tengah berburu, tersandung puing kapal terbang di Pulau Sugbay Tawi Tawi pada awal September.

Pihak berwenang Malaysia dilaporkan sedang menyelidiki klaim penemuan puing pesawat di Filipina bulan lalu itu, terkait kemungkinan MH370 yang hilang kontak sejak 8 Maret 2014.

Kelompok remaja itu juga dilaporkan menemukan sisa-sisa kerangka di kursi pilot dan kabin, serta sepotong kain mirip bendera Malaysia.

Meskipun tidak ada foto-foto reruntuhan, laporan tentang dugaan penemuan telah diajukan kepada polisi Sandakan di Malaysia. Laporan itu dibuat oleh paman salah satu remaja, Jamil Omar yang berprofesi sebagai seorang teknisi audiovisual lokal.

Omar yang tak tinggal di pulau itu mengatakan kepada saluran TV Malaysia Astro Awani, bahwa penduduk sudah ramai membicarakan penemuan itu selama berminggu-minggu. Bibinya yang mengunjungi dia di Sabah pun sudah bercerita tentang klaim temuan tersebut.

"Warga di pulau yang berburu burung itu untuk makanan dan membangun rumah mereka di atas air. Mereka tidak menonton televisi dan dengan demikian mereka tidak memiliki pengetahuan tentang dunia luar," kata Omar kepada Astro Awani seperti dikutip dari News.com.au, Senin (12/10/2015).

"Dia (Siti Kayam, bibinya) terkejut mengetahui bahwa benda yang diambil dari puing pesawat yang diklaim oleh remaja itu adalah bendera Malaysia," tutur Omar.

Omar mengatakan kain itu masih utuh, tapi sudah dicuci. Beberapa polisi juga mendatangi rumahnya untuk merekam pernyataan si bibi dan mengambil potongan kain tersebut..

Meskipun lokasi reruntuhan jauh dari daerah pencarian resmi saat ini di sekitar Pulau Reunion, di mana flaperon pesawat ditemukan terdampar. Pemerintah Malaysia menanggapi klaim para remaja itu dengan cukup serius. Bahkan, seperti dikutip dari Channel News Asia, mereka mengerahkan Civil Aviation department dan the Ministry’s Air Accident Investigation Division atau Departemen Penerbangan Sipil dan Divisi Investigasi Kementerian Kecelakaan Udara untuk menyelidiki lebih lanjut.

Polisi Malaysia pun telah meminta polisi di Filipina untuk memverifikasi klaim tersebut.

"Tidak ada foto untuk mendukung klaim, jadi kami mengandalkan mitra kami untuk memeriksa," kata Inspektur Jenderal Polisi, Tan Sri Khalid Abu Bakar dilansir dari The International Business Times, seraya menambahkan bahwa memakan waktu 1 atau 2 hari sebelum sesuatu bisa diverifikasi.

 

 

Meski demikian, polisi Filipina mengaku bingung dengan klaim tersebut dan mengatakan mereka tak menerima laporan ada pesawat menabrak salah satu pulau mereka.

"Kami akan memeriksanya, tetapi jika ada pesawat yang terbang rendah di daerah kami, akan ada peringatan dari otoritas penerbangan sipil. Sampai saat ini, tak ada satu pun," ucap Regional Chief Directorial Staff Senior Superintedent yang berbasis di Maguindanao, Rodoleo Jocson kepada The Star online.

"Tak ada laporan ke polisi provinsi kami di Tawi Tawi terkait penemuan puing pesawat yang ditemukan," tambah Rodoleo Jocson.

Bulan lalu, otoritas Perancis mengonfirmasi [penemuan flaperon](http://news.liputan6.com/read/2309345/penyidik-prancis-temuan-puing-di-pulau-reunion-milik-mh370 "") di pantai Pulau Reunion adalah benar milik MH370. Bagian dari pesawat yang hilang itu ditemukan oleh penduduk setempat pada 29 Juli.

Menurut hasil model pemetaan, kemungkinan puing-puing dari MH370 di Samudera Hindia selatan itu bisa saja terbawa arus ke Pulau Reunion.

Pesawat berjenis Boeing 777 dengan nomor penerbangan MH370 rute penerbangan Kuala Lumpur-China hilang dari radar pada tanggal 8 Maret 2014. Burung besi ini membwa 239 penumpang dan kru.

Hilangnya pesawat ini menjadikannya sebuah misteri paling tak terpecahkan sepanjang sejarah penerbangan dunia. (Baca: Temuan Pecahan Pesawat Misterius versus 7 Teori Konspirasi MH370)

(Tnt/Ali)