Sukses

Menguak 'Kota Kembar' di Bosnia

Liputan6.com, Sarajevo - Selama perang sipil mengoyak wilayah Bosnia dan sekitarnya pada tahun 1990-an, setidaknya lahir 21 pasang bayi kembar di kota Buzim. Sebuah kota kecil yang terletak di wilayah barat laut, berada di antara bukit-bukit hijau dan sungai, di mana kebanyakan penduduknya bekerja di perkebunan raspberry.

Para ahli meyakini ada lebih dari 200 pasangan bayi kembar yang terpisah, atau dilarikan oleh orang tuanya akibat perang saudara dan masalah kemiskinan.

Saat ini, Walikota Buzim akan menggelar semacam acara pertemuan tahunan untuk anak-anak kembar yang dianggapnya akan menjadi daya tarik turis untuk datang ke kota kecil itu.

Ide menggelar acara tersebut muncul dari seorang mantan guru dan wartawan, Nedzib Vucelj. Dia memiliki anak kembar yang lahir saat perang sipil mengoyak negaranya.

Nedzib kemudian teringat ketika bayi kembarnya lahir, dia kesulitan meminjam kereta bayi dari para tetangganya. Saat itu dia mendapat jawaban bahwa benda itu telah dipinjamkan kepada tetangga lainnya.

"Saat itulah saya menyadari betapa banyak anak kembar di sini," ungkap Nedzib, yang telah meluncurkan ide untuk menyebut Buzim sebagai 'Kota Kembar'.

Penelitian

Dia kemudian melakukan semacam penelitian dan menemukan setidaknya ada 21 pasang bayi kembar lahir di kota itu selama perang sipil 1992-1995, seperti dilaporkan Kantor berita Reuters.

"Kemungkinan ada banyak lagi bayi kembar yang lahir saat itu, mengingat tingkat perpindahan yang tinggi akibat kemiskinan dan pengangguran," tutur Nedzib seperti dikutip dari BBC, Minggu (19/4/2015).

Walikota Buzim, Agan Bunic, kemudian menindaklanjuti ide Nedzib dengan berencana menggelar acara tahunan bertajuk 'bayi kembar'.

Sebagai acara pertama, Agan akan mengumpulkan para 'bayi kembar' kelahiran Buzim yan telah menyebar di berbagai kota di Bosnia. Untuk melacak orok-orok asal Buzim yang tersebar di seluruh dunia akibat perang sipil, Nedzib Vucelj meluncurkan laman Facebook berjudul 'Buzim - The Town of Twins'.

Sejauh ini, Nedzib mengaku telah berhasil melacak sekitar 200 pasangan bayi kembar asal Buzim.

2 dari 2 halaman

Pernikahan Sedarah?

Pernikahan Sedarah?

Menurut data statistik dari seorang dokter di Rumah sakit di distrik Bihach, Buzim, di seluruh dunia setidaknya lahir satu pasangan bayi kembar dari setiap 88 kelahiran.

Menurut catatan mereka, selama lima tahun terakhir, kelahiran bayi kembar bukanlah hal biasa. Namun mereka tidak memiliki data yang lengkap.

Hal ini terjadi karena selama perang sipil, kota mereka terisolasi sehingga mayoritas perempuan di wilayah itu sebelum dan selama perang melahirkan di rumah, dan banyak catatan telah hilang.

Warga Kota Buzim sendiri meyakini ada tradisi bayi kembar yang sudah berlangsung lama di wilayahnya.

"Saya ingat, setiap kelas selalu ada anak kembar setiap tahunnya. Bahkan pada suatu saat ada tiga pasang anak kembar," kata Zumreta Hodzic, pegawai negeri yang bertugas mencatat kelahiran di Kota Buzim.

Belum ada jawaban yang memuaskan tentang fenomena bayi kembar di Buzim, tetapi kemungkinan adanya tradisi menikah dengan keluarga dekat atau sedarah di daerah pedesaan terpencil, adalah salah-satu jawabannya.

"Orang-orang lokal kebanyakan menikah di antara mereka sendiri. Ini adalah sebuah komunitas tradisional di mana budaya patriarki masih berlaku," kata Walikota Agan Bunic. (Tnt)