Dunia Mengutuk Pembunuhan Syeikh Ahmed Yassin

Protes atas pembunuhan pemimpin Hamas, Syeikh Ahmed Yassin menggelora di Timteng dan Eropa. Menurut Menlu Israel Silvan Shalom, pembunuhan Yassin adalah keharusan untuk memperingatkan pelaku bom bunuh diri.

Diterbitkan 23 Maret 2004, 06:37 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Kairo: Kematian pendiri dan pemimpin spiritual kelompok pejuang Palestina Hamas, Syeikh Ahmed Yassin oleh militer Israel membuat masyarakat Timur Tengah marah. Senin (22/3), ribuan mahasiswa Universitas Al Azhar di Kairo, Mesir, berunjuk rasa mengutuk pembunuhan Yassin. Mereka menilai aksi Israel sangat biadab. Salah seorang mahasiswa bertekad akan mengumpulkan kekuatan untuk membalas tindakan tersebut. Presiden Mesir Husni Mubarak juga membatalkan kunjungan ke Israel sebagai ungkapan kecewa.

Raja Yordania Abdullah II menyatakan pembunuhan terhadap Yassin menyakitkan dan membuatnya geram. Dia menilai kematian Yassin akan memperkeruh suasana di Jalur Gaza. Penilaian Raja Abdullah II diamini para pengunjuk rasa yang turun ke jalan di Kota Amman, hari ini. Sedikitnya 15 ribu warga berdemonstrasi, termasuk sejumlah menteri dan jaksa. Aksi massal dilaporkan juga menggelora di Damaskus, ibu kota Suriah. Warga Suriah menyebut tewasnya Yassin menjadi puncak dari kecaman dunia Arab terhadap Israel. Upaya damai di Timur Tengah diyakini bakal hancur akibat insiden tersebut. Presiden Palestina Yasser Arafat pun mengutuk tindakan Israel. Yassin selama ini dikenal Arafat sebagai "orang suci" [baca: Arab dan Eropa Mengecam Pembunuhan Ahmed Yassin].

Di tempat terpisah, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Kofi Annan turut mengecam pembunuhan Yassin. Pernyataan Kofi disampaikan melalui juru bicara Fred Eckhart di New York, Amerika Serikat. Annan merasa prihatin dengan maraknya kekerasan di Jalur Gaza, karena bakal melanggengkan pertumpahan darah antara Palestina dan Israel. Annan juga meminta Israel berhenti melakukan praktik pembunuhan seperti terhadap Yassin yang dinilai melanggar hukum internasional.

Unjuk rasa terjadi juga di Israel. Sekelompok pemuda yang menamakan diri "Peace Now" berdemonstrasi di depan Kantor Kementerian Pertahanan Israel, Senin malam. Mereka menuntut Israel menghentikan segala bentuk kekerasan terhadap rakyat Palestina dan memulai pembicaraan damai.

Berbagai kecaman ditanggapi dingin Israel. Menteri Luar Negeri Silvan Shalom usai bertemu Wakil Presiden Dick Cheney di Gedung Putih menyatakan pembunuhan terhadap Yassin adalah keharusan untuk memperingatkan para pelaku bom bunuh diri. Shalom juga menegaskan bahwa pembunuhan Yassin merupakan hak bela diri Israel. Dia membantah aksi tersebut mendapat bantuan dari pihak manapun, termasuk Amerika Serikat.

Pernyataan Shalom dibenarkan Penasihat Keamanan AS, Condoleezza Rice. Menurut Rice, AS tidak mempunyai informasi apapun sebelum pembunuhan Yassin terjadi. Rice mengimbau agar semua pihak di Timteng menahan diri serta tidak mengambil tindakan yang bakal merusak perdamaian di sana.

Ucapan Rice bisa jadi terlambat. Pasalnya, gerilyawan Hisbullah mulai menyerang pos-pos penjagaan Israel di peternakan Shebaa, perbatasan Israel-Lebanon, kemarin. Serangan dilancarkan beberapa jam setelah pemimpin Hamas Ahmed Yassin dan tujuh orang lain diserang seusai menunaikan salat subuh. Peternakan Shebaa diklaim milik warga Lebanon yang menurut Hisbullah diserobot Israel.

Pemimpin Hisbullah Syeikh Hassan Nasrallah mengatakan serangan tersebut membuktikan bahwa Israel harus membayar mahal atas kematian Yassin. Pembunuhan Yassin merupakan kejadian terbesar setelah kematian pemimpin Komando Palestina, Abu Jihad di Tunisia, April 1988. Juru Bicara Militer Israel menyebutkan Hisbullah menembakkan roket anti-tank dan mortir ke arah pasukan Israel. Insiden tidak mengakibatkan korban jiwa atau cedera.

Perbatasan kedua negara di kawasan Shebaa sebenarnya relatif tenang dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut bertahan sejak pasukan Israel ditarik dari Lebanon Selatan, empat tahun silam, setelah 22 tahun menduduki daerah ini. Beberapa serangan sporadis sempat membuat kekacauan, tapi tidak sedahsyat serbuan kemarin.(KEN/Uri)