Sukses

Mode dalam Hitam Violet Perempuan Billy Tjong Hingga Rinda Salmun

Liputan6.com, Jakarta Bicara tentang perempuan dan mode, rambut harus menjadi bagian dari pembahasan. Bagaimana glorifikasi terhadap filamen yang tumbuh di kepala ini mengisi buku harian kaum hawa dapat dilacak hingga ke era Mesir kuno dimana wig sudah dipakai. Jangan lupa dengan tatanan rambut menjulang yang menjadi perlambang status para bangswan Eropa klasik (yang paling epik dan mencengangkan adalah tata rambut buatan Leonard Autie, hairdresser Marie Antoinette, dimana miniatur kapal layar menjadi bagiannya).

Segala keanggunan rambut ialah bagian cerita keindahan perempuan. Ditambah warna violet, simbol kebangsawanan, hasilnya adalah royal feminity. Gabungan kedua hal ini yang bisa ditemukan dalam sebagian koleksi desainer Indonesia, Billy Tjong, di Jakarta Fashion Week (JFW) 2016. Tapi tentunya dalam wujud busana masa kini. Circular skirt sapuan violet yang padanannya adalah pleated long-sleeves tops, maupun pleated skirt bergradasi warna sama dengan white tops siluet `A`, menghadirkan sosok wanita modern perkotaan yang memiliki cita rasa feminitas klasik dan artsy.

Koleksi `Hair Do My Best` dari Billy yang ditampilkan pada hari ke-6 JFW 2016 memang berkenaan dengan rambut. “Saya mencapur beberapa digital printing yang saya ambil dari foto rambut, rambut ketika sedang dicat, dan rambut yang selesai dicat. Semua itu digabung dan kemudian dicetak di bahan,” paparnya dalam wawancara bersama Liputan6.com usai gladi resik show. Selain rancangan-rancangan menggunakan warna violet, desainer yang memang dikenal dengan penggunaan print fotografi ini juga menghadirkan busana-busana hitam.

Fotografer: Herman Zakharia - Liputan6.com

Peleburan modernitas dan klasikalitas konsisten terasa pada squence hitam itu namun dengan desain yang lebih intriguing. Kesan classical sweet nan berkelas dan elegan pada seri sebelumnya berganti menjadi figur perempuan mode yang menjunjung permainan desain serta punya jiwa sedikit rebel. Oleh alumni Esmod Jakarta ini disebut bahwa hitam rangkaian yang mewujud salah satunya pada off-shoulder blouse berlengan menggelembung dengan resleting bagian depan tersebut juga merujuk pada warna rambut.

Tapi lepas dari itu, hitam umum dikenal sebagai simbol kekelaman. Menyertakan silmbolisasi lazim itu ke dalam interpretasi keseluruhan koleksi para perancang yang didukung oleh brand rambut L’Oreal Professionnel ini penting guna menyentuh makna lain dari violet. Kontras dengan cerita hitam kondisi perempuan dari masa ke masa yang penuh belenggu dan diskriminasi, violet pada awal abad 20 mulai mendapat pemaknaan sebagai lambang gerakan perjuangan perempuan untuk posisinya di peradaban manusia.

Berkoinsidensi dengan perjuangan politik perempuan masa itu, dunia fesyen memiliki Gabrielle Bonheur Chanel atau akrab disapa Coco Chanel. Desainer Prancis kelahiran tahun 1920 yang masuk dalam daftar `100 most influential people of the 20th Century` versi majalah Time ini ialah sosok yang berkontribusi pada hadirnya celana di lemari pakaian perempuan (sebelumnya celana dianggap fashion item khas laki-laki). Tanpanya tentu tak akan mungkin Anda melihat celana pada koleksi desainer manapun, termasuk Ardistia New York yang menampilkan koleksinya bersamaan dengan Billy Tjong, Sofie, dan Rinda Salmun.

Fotografer: Herman Zakharia - Liputan6.com

Bagaimana lansekap mode para perempuan urban masa kini yang menikmati hasil perjuangan violet maupun advokasi fesyen Coco Chanel itu adalah apa yang tampak pada rancangan-rancangan Ardistia. Feminitas modern bersiluet sleek dan simple tampak begitu mendukung praktikalitas melakukan ragam aktivitas di kota metropolitan. Atau dengan istilah yang digunakannya dalam penjelasan di konferensi pers adalah `Dinamis` dan `Effortlessly Chic`. Kecuali putih, warna-warna yang digunakannya gelap dan pekat namun tetap berkesan friendly, termasuk violetnya.

Permainan ketegasan garis diagonal dan sudut-sudut runcing dari busana-busana yang sebagiannya memiliki unsur layering itu tertuang dalam bentuk vest maupun jenis outer-wear lain, jumpsuit tanpa lengan, tank top serta tank dress, dan lain sebagainya. Bahwa lulusan Parsons School of Design ini menyatakan inspirasi koleksi bersumber pada arsitektur, penampakan desainnya sendiri merujuk pada arsitektur modern minimalis yang amat terstruktur. Pemakai rancangan Ardistia adalah mereka yang sadar akan kebutuhan praktikalnya di kota besar namun tetap peduli dengan mode tampilan.

Fotografer: Herman Zakharia - Liputan6.com

Lalu bagaimana dengan masa depan perempuan itu sendiri? Ahmad Soffiyuloh, tamatan Lembaga Pengajaran Tata Busana Susan Budihardjo, melalui labelnya Sofie Design punya satu keberanian untuk mengimajinasikan sesuatu yang tak diharapkan. `Dystopia` adalah judul koleksinya untuk Jakarta Fashion Week 2016. Jika `Utopia` adalah satu kondisi imajiner tentang realitas terindah, maka `Dystopia` adalah kebalikannya. Dan bagi Sofie itu adalah masa depan dimana segala kecanggihan teknologi berada dalam rezim totaliter yang menindas.

Entah apakah penguasa masa itu masih memberi ruang untuk kreativitas desain fesyen atau memiliki tim rancang busana terpusat yang amat kreatif, pakaian dari warganya sangat modis. Jaket-jaket model berlapis dengan desain futuristik disuguhkan Sofie dengan penggunaan garis-garis lurus pada keliman. Nafas maskulin dan kesan strong dari karya karya warna hitam, biru, dan abu-abu itu menjadi satu harapan agar perempuan-perempuan Sofie di masa itu ialah mereka yang dengan ketrendian dan ketangguhannya akan meruntuhkan rezim dystopia.

Fotografer: Herman Zakharia - Liputan6.com

Bicara soal perempuan tangguh, versi lain diberikan oleh desainer Rinda Salmun. Mengambil inspirasi dari karakter fiksi Aeon Flux – yang rambutnya berwarna black violet – karya-karya Rinda justru mengetengahkan wujud kekuatan yang berbaur dengan sartorialitas feminin dan bersentuhan oriental. Atas itulah hitam koleksi ini mendapat makna positifnya. Bukan kekelaman melainkan satu sikap powerful dan juga matang sekaligus sensual. Unsur-unsur itulah yang bisa diinterpretasikan mengenai judul koleksi `Superwoman` ini.

Juga dengan cutting yang straight, clean, dan lugas, perempuan super Rinda mampu hadir secara elegan, fashionable, seksi, dan berdikari pada saat bersamaan. Menggolongkan kreasinya ini dalam genre modern minimalis, Rinda melalui long wrap-blazer belah depan, atasan tanpa lengan berkerah kimono, serta karya-karya aksen logam, berhasil memberi variasi baru dan gaya baru yang progresif. Bahwa ada suasana-suasana lain yang bisa dieksplorasi dari genre desain itu.

Fotografer: Herman Zakharia - Liputan6.com

 

(bio/igw)