Sukses

Siapkan Siswa Disabilitas Terjun ke Dunia Kerja, Save The Children Lancarkan Program Skills to Succeed

Liputan6.com, Jakarta Guna membekali penyandang disabilitas agar siap masuk dunia kerja, Save The Children Indonesia melancarkan program Skills to Succeed.

Program ini bertujuan memberikan pelatihan keterampilan kerja, kewirausahaan dan literasi keuangan, bimbingan, konseling kerja, dan layanan hubungan kerja untuk remaja usia 15-24 tahun yang bersekolah dan tidak sekolah.

Program ini juga memberikan pelatihan kepada pemuda putus sekolah yang berisiko mengalami pekerjaan berbahaya dan pemuda penyandang disabilitas.

“Dua tahun belakangan ini, sejak 2020 hingga 2022 ini kami melalui program ini berkonsentrasi untuk disabilitas khususnya yang berada di lingkungan sekolah seperti di Kota Bandung, Kabupaten Bandung, dan Cimahi dengan melibatkan 15 sekolah,” kata Greater Jakarta Field Manager Save the Children Indonesia Evie Woro Yulianti dalam seminar daring Kamis (28/7/2022).

Sekolah yang dimaksud termasuk Sekolah Luar Biasa (SLB) baik tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP/SMPLB) maupun Sekolah Menengah Atas (SMA/SMALB). Bagi siswa SMP pelatihan dilakukan guna mempersiapkan mereka untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu SMA.

Sedangkan bagi siswa SMA, program ini fokus untuk mempersiapkan mereka masuk dunia kerja melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL) dan magang. Ini ditargetkan untuk 300 anak, 150 siswa jenjang SMP dan 150 siswa jenjang SMA.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Fokus pada Soft Skill

Rangkaian pendidikan keterampilan pra dan kesiapan kerja tidak fokus pada hard skill melainkan pada soft skill-nya atau kecakapan untuk melanjutkan kelas yang lebih tinggi atau kesiapan kerja.

“Di sini kita bicara bagaimana mempunyai kemampuan berpikir kritis, bagaimana keterampilan berkomunikasinya, bagaimana menjalin relasi sosialnya. Lalu juga bagaimana anak-anak bisa memiliki konsep diri yang positif serta bisa mengendalikan diri, itu konsep dari soft skill.”

Setelah itu, ada pula bimbingan karier atau bimbingan untuk mencari kerja. Bagaimana anak-anak muda disabilitas bisa mengakses peluang-peluang di mana mereka bisa PKL, magang, bahkan bekerja.

“Kita ajarkan juga bagaimana cara penulisan CV (Curiculum Vitae), cara menghadapi interview, dan bimbingan kewirausahaan.”

“Bimbingan kewirausahaan ini dilakukan karena memang tidak semua penyandang disabilitas itu bisa mengakses atau memiliki passion di bidang kerja formal, bisa juga mereka mempunyai passion di kewirausahaan atau mempunyai usaha sendiri.”

Beberapa strategi pun dirancang untuk menjalankan program ini. Strategi pertama yakni memberi layanan efektif bagi remaja dan anak muda dengan disabilitas tertentu dengan melakukan berbagai pelatihan.

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

3 dari 4 halaman

Strategi Lainnya

Strategi pertama itu termasuk menghubungkan siswa disabilitas dengan dunia kerja atau dunia usaha yang ada melalui job fair yang dilakukan dengan kolaborasi pihak sekolah, dinas tenaga kerja, dan dinas pendidikan.

Sedangkan, strategi kedua terkait dengan kegiatan-kegiatan untuk monitoring, evaluasi, pembelajaran, dan akuntabilitas.

“Kita lakukan asesmen hingga follow up survei setelah remaja dan anak muda dengan disabilitas tersebut mendapatkan pelatihan. Kita juga membagikan praktik baik yang sudah kita lakukan dari program ini melalui pertemuan-pertemuan rutin yang kita rancang termasuk webinar untuk sharing.”

Strategi ketiga adalah menciptakan lingkungan yang mendukung. Ini termasuk melatih guru dan sesi parenting bersama orangtua supaya bisa mendukung dan mempersiapkan anak-anak untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi untuk SMP, dan persiapan kerja untuk yang SMA.

“Orangtua merupakan komponen penting juga. Strategi ketiga ini lebih ke menjembatani anak-anak yang lulus untuk sampai ke dunia kerja dan mendorong forum bagi tempat kerja yang inklusif.”

4 dari 4 halaman

Capaian Program

Hingga kini, ada berbagai capaian program yang dilaporkan Evie. Capaian-capaian tersebut termasuk:

-Delapan SLB di Jawa Barat sudah membentuk Bursa Kerja Khusus (BKK) sebagai upaya menjembatani siswa disabilitas dengan dunia kerja.

-Sebanyak 95 guru dari 15 SLB di Jawa Barat sudah mendapat peningkatan kapasitas dalam mempersiapkan kesiapan kerja siswa SMALB dan kesiapan pra kerja siswa SMPLB dan telah mengimplementasikannya di SLB masing-masing.

-Lebih dari 100 orangtua dari remaja dan orang muda disabilitas telah mendapatkan peningkatan pengetahuan terkait kesiapan kerja orang muda disabilitas.

-Sebanyak 38 staf perusahaan dan 13 perusahaan atau pemberi kerja telah mendapat pengetahuan dan pengalaman terkait mempekerjakan orang muda disabilitas.

Program ini ingin menanamkan pemahaman bahwa mempekerjakan penyandang disabilitas tidaklah serumit yang dibayangkan.

“Ternyata untuk mempekerjakan disabilitas itu tidak serumit yang dibayangkan, artinya ketika kita mengetahui tipe bisnis kita seperti apa, pekerjaannya yang ada apa saja, dan bisa dilakukan oleh disabilitas mana sih, itu akan membantu sekali,” tutup Evie.