Sukses

Jatuh Bangun Atlet Para-Badminton India, Manasi Joshi hingga Jadi Sampul Majalah Time Next Generation Leader

Liputan6.com, Jakarta Atlet para-badminton asal India, Manasi Joshi, menjadi banyak perhatian di media sosial karena menjadi sampul depan majalah Time Next Generation Leader.

Joshi yang berusai 31 tahun menjadi tenar setelah memenangkan medali emas di BWF Para-Badminton World Championships, mengalahkan rekan senegaranya dan menjadi nomor 1 dunia Parul Parmer di final tunggal putri Standing Lower 3 (SL3), pemain yang harus berdiri, meski dengan kehilangan salah satu tungkai atau dengan gangguan berjalan, berlari, atau keseimbangan.

Prestasinya ini mendapat banyak perhatian dari para pengguna media sosial dan mengucapkan selamat atas pencapaian Joshi.

Joshi awalnya mulai berlatih olahraga bulutangkis ketika umurnya masih belia, sekitar 6 tahun. Ia bermain bersama ayahnya yang merupakan pensiunan ilmuwan dari Bhabha Atomic Research Centre.

Tiga tahun kemudian, di perkemahan musim panas sekolah, Joshi berpartisipasi dalam lomba bulutangkis tingkat sekolah dan kota. Setelah menyelesaikan kelulusannya dari KJ Somaiya College of Engineering pada tahun 2010, Joshi mulai bekerja sebagai software engineer di Atos India. Di tempat kerjanya tersebut, ia memenangkan medali emas di turnamen bulutangkis intra-perusahaan pada tahun 2011.

Namun, pada 2 Desember di tahun yang sama, ia mengalami kecelakaan dalam perjalanannya ke tempat kerja, ketika sebuah truk menabrak kendaraan roda dua miliknya. Kecelakaan tersebut berdampak pada kaki kirinya yang harus diamputasi.

Joshi mendapat kaki palsu setelah menghabiskan 45 hari di rumah sakit dan tiga bulan dalam pemulihan. Namun kesukaannya pada olahraga bulutangkis tak berhenti sampai situ. Sehingga dengan kehebatannya, pada tahun 2012, Joshi berhasil mengalahkan pemain berbadan sehat di turnamen perusahaan yang sama, hanya beberapa bulan setelah dia belajar kembali berjalan.

Saat itulah teman Joshi dan pemain para-bulutangkis Neeraj George menyarankannya untuk bermain bulutangkis secara profesional lagi.

 

2 dari 4 halaman

Gagal lalu bangkit

Setelah gagal mendapatkan tempat di Para Asian Games 2014, Joshi memenangkan medali perak di pertandingan nasional pada bulan Desember dan pada bulan Maret tahun berikutnya, ia mengikuti Spanish Para Badminton International.

Meskipun dia tidak memenangkan medali pada pertandingan tersebut, kemunculannya di muka publik tersebut telah memberikan kepercayaan diri yang cukup pada dirinya sendiri.

Keseriusannya dalam olahraga ini membuat Joshi melipatgandakan latihannya, menyeimbangkan pekerjaannya dan bulu tangkis. Misalnya, dia bangun pukul 4:30 pagi untuk yoga dan berlatih selama istirahat makan siang, hingga berlari ke pusat pelatihan setelah bekerja.

Pada 2016, dia berhenti dari pekerjaannya untuk berkonsentrasi pada karir bulutangkisnya. Joshi pindah ke Hyderabad pada tahun 2018 untuk berlatih di akademi Pullela Gopichand, tempat dia berlatih tiga sesi sehari, enam hari seminggu.

Bahkan sebelum menarik perhatian warga setempat, Joshi telah menyerukan kepada pemerintah India untuk membebaskan pajak atas prostesis dan alat bantu disabilitas lainnya, sesuatu yang dia cukup beruntung dapat melalui sponsornya.

Belum lama ini, pada hari Jumat (9 Oktober 2020), Joshi mengumumkan penampilan perdanyanya di Majalah Time.

"Saya yang muda dulu, tidak akan pernah percaya bahwa suatu hari wajah saya akan muncul di sampul depan TIME dan disebut sebagai pemimpin generasi berikutnya. Ini (pencapaian) sangat besar," kata Joshi.

3 dari 4 halaman

Infografis Akses dan Fasilitas Umum Ramah Penyandang Disabilitas

4 dari 4 halaman

Simak Video Berikut Ini: