Sukses

Anggapan Keliru Difabel Tak Bisa Sekolah Tinggi, Sine Buktikan Dirinya Kini Sukses

Liputan6.com, Jakarta Marks Sine, seorang pemuda penyandang disabilitas membuktikan pada dunia bahwa kekurangannya secara fisik tak menyurutkan prestasinya di bidang akademik.

Mark tumbuh dengan gangguan pendengaran sejak sekolah dasar. Ia berasal dari desa Mu di distrik Sinesine-Yongomugi di Chimbu dan tinggal di New Erima-Wildlife, di Timur Laut Moresby, Papua Nugini. 

Kendati demikian, ia terus melanjutkan pendidikan hingga jenjang SMA. Namun karena gangguan pendengarannya semakin parah, dengan terpaksa ia mengundurkan diri dari sekolah pada tahun 2012 untuk menjalani pengobatan.

"Saya tinggal di rumah selama satu tahun. Saya mengunjungi klinik dan rumah sakit di Chimbu untuk mendiagnosis masalah pada telinga saya, tetapi dokter tidak dapat menemukan sesuatu yang salah. Pada 2013, saya mengulang kelas 11 tetapi masalahnya tetap ada," kata Mark kepada postcourier.com.pg. Meskipun demikian, Mark berhasil menyelesaikan kelas 12.

Prestasi Mark dalam akademisi juga terbilang baik. Sejak sekolah dasar ia menduduki peringkat tertinggi di sekolahnya pada tahun 2009 dan diterima di sekolah menengah Muina. Prestasi akademisnya terus ia pertahankan dan di kelas 10 ia kembali meraih peringkat tertinggi.

Mark terus melanjutkan pendidikannya ke kelas 11 hingga kelas 12, meskipun saat itu masalah pendengarannya semakin memburuk, sehingga mengganggu interaksi kelasnya dan terpaksa mengambil cuti setahun untuk menjalani perawatan. Meskipun demikian, saat ia mengulang kelas 12, ia lagi-lagi meraih prestasi dengan menduduki peringkat tertinggi.

Ia kemudian diterima di fakultas evaluasi dan manajemen properti di University of Technology di Lae, Morobe, pada tahun 2015. Masalah pendengarannya masih terus berlanjut, sehingga ayahnya yang memperhatikan kebutuhannya, membelikan Mark alat bantu dengar.

Banyak yang meragukan Mark akan bisa lulus dari perguruan tinggi, bahkan oleh orang-orang terdekatnya, termasuk kerabatnya.

"Tapi saya lulus tahun 2018 dan langsung praktek di bagian Urbanisasi NCDC sebagai penilai," kata Mark. "Setelah menyelesaikan praktek, saya ditawari pekerjaan pada tahun 2019 di perusahaan real estate profesional."

 

2 dari 4 halaman

Membangun perusahaan

Pada usia 25 tahun, Mark sudah mengembangkan karakter yang kuat dan karismatik, yang menjadikan dirinya saat ini.

Mark mengakui bahwa meskipun ia mengikuti instruksi dan memperhatikan setiap detailnya, Tuhan selalu menjadi prioritas Mark di setiap hal yang ia lakukan.

Pada titik inilah Mark yang masih muda dan berambisi meninggalkan pekerjaannya sebagai penilai dan memulai sendiri usahanya. Dia mendirikan sebuah kantor kecil dan memulai perusahaannya sendiri bernama Dimuka Real Estate Valuation and Consultation. Dia menjadi manajer umum perusahaan, yang baru berusia satu tahun tiga bulan dan memiliki pegawai delapan orang.

"Saya menyadari bahwa bekerja untuk orang lain tidak dapat membantu menopang diri saya dan ibu saya di kota, jadi saya meninggalkan pekerjaan saya pada 27 Juli tahun lalu," kata Mark.

Hanya mengantongi gaji terakhir K500 (sekitar sejuta rupiah) dan K500 dari kerja sampingan, Mark mendaftarkan perusahaannya.

Perusahaan Mark secara bertahap memiliki peningkatan jumlah klien dengan komitmen dan kemampuannya untuk memberikan layanan konsultasi sesuai anggaran, tepat waktu dan bernilai.

"Saya berterima kasih kepada Tuhan atas berkat ini dalam hidup saya. Saya menantang anak muda yang bersekolah untuk mendapatkan prioritas yang benar. Jangan biarkan masalah keluarga atau disabilitas seperti saya mengganggu tujuan dan sasaran Anda. Ingatlah untuk melayani semua orang."

3 dari 4 halaman

Infografis Tunjangan Khusus Penyandang Disabilitas di Jakarta

4 dari 4 halaman

Simak Juga Video Berikut Ini: