Sukses

Samsung Luncurkan Pengalaman Metaverse di Platform Decentraland

Liputan6.com, Jakarta - Samsung Latam, divisi regional Amerika Latin dari perusahaan elektronik, telah memutuskan untuk mendedikasikan ruang online untuk meningkatkan visibilitas mereknya di dunia digital. 

Perusahaan membangun ruang yang disebut “House of Sam” di Decentraland, salah satu platform metaverse berbasis Ethereum terbesar. 

Menurut laporan, tujuan dari langkah ini adalah untuk membawa merek lebih dekat ke generasi baru konsumen menggunakan metaverse sebagai alat. Ruang sudah terbuka untuk pengguna, diluncurkan pada 1 September dengan pertunjukan virtual dari trio Brasil, Melim.

Tentang peluncuran ruang digital baru ini dan tujuannya, direktur pemasaran Samsung Latam, Arthur Wong, menyatakan, pelanggan akan dapat berinteraksi satu sama lain dan berpartisipasi dalam pertunjukan, kursus, dan acara eksklusif yang akan ditawarkan secara gratis di Decentraland, salah satu ruang paling demokratis dan terbuka di metaverse.

“Tujuan kami adalah untuk semakin dekat dengan Gen Z, konsumen muda kami yang tidak lagi membuat batasan antara apa yang fisik dan apa yang virtual,” ujar Wong dikutip dari Bitcoin.com, Kamis (6/10/2022). 

Kegiatan dan Hadiah

House of Sam akan menawarkan serangkaian mini-game yang terkait dengan merek tersebut, yang juga akan memberikan hadiah kepada pengguna dalam bentuk wearable eksklusif untuk avatarnya di Decentraland. Beberapa produk paling ikonik dari merek Samsung juga hadir di ruang virtual, termasuk proyektor portabel Freestyle.

Ini adalah salah satu dari banyak langkah yang telah dilakukan Samsung langsung ke metaverse, meskipun perusahaan juga telah aktif di pasar NFT dan bisnis chip penambangan bitcoin

Pada Juli, perusahaan meluncurkan pengalaman metaverse lain bernama Space Tycoon sebagai bagian dari platform Roblox. Pada Januari, perusahaan membuka toko sendiri di Decentraland.

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.

2 dari 4 halaman

CEO Apple Tim Cook: Banyak Orang Tak Bisa Definisikan Metaverse

Sebelumnya, CEO Apple Tim Cook jadi salah satu tokoh dari dunia teknologi lainnya yang menyuarakan pendapatnya soal tren metaverse.

Kepada media Belanda, Bright, Cook mengatakan kebanyakan orang tidak bisa mendefinisikan metaverse, apalagi menghabiskan waktu lama menjalani hidup di dalamnya.

"Saya selalu berpikir penting bagi orang untuk memahami apa itu sesuatu," kata Cook, seperti dilansir The Verge, dikutip Rabu (5/10/2022). "Dan saya benar-benar tidak yakin rata-rata orang dapat memberitahu Anda apa itu metaverse."

Apple sendiri diketahui berminat untuk membangun berbagai perangkat keras Augmented Reality (AR) atau Virtual Reality (VR).

Meski begitu, Cook mengatakan tidak siap untuk mengklaim perusahaan sedang bekerja untuk sesuatu yang disebut "metaverse." Ia juga mengaku dirinya skeptis orang akan menghabiskan waktu yang lama dalam VR di masa depan.

Menurutnya, VR adalah sesuatu yang benar-benar bisa membuat seseorang tenggelam di dalamnya, dan bisa digunakan dengan cara yang baik.

"Tapi saya tidak berpikir Anda ingin menjalani seluruh hidup Anda seperti itu," kata Cook seraya menambahkan, VR "bukanlah cara untuk berkomunikasi dengan baik."

Di sisi lain, awal tahun 2022, CEO Meta Mark Zuckerberg, mengklaim mereka sedang berada dalam "persaingan filosofis yang sangat dalam" dengan Apple untuk membangun metaverse.

 

3 dari 4 halaman

Mendukung Perkembangan AR

"Ini adalah kompetisi filosofi dan ide, di mana mereka percaya bahwa dengan melakukan semuanya sendiri dan mengintegrasikan erat, mereka membangun pengalaman konsumen yang lebih baik," kata Zuckerberg saat itu.

Terlepas dari komentarnya soal metaverse, Tim Cook lebih memberikan dukungannya terhadap AR. Apple juga berpotensi bakal mengumumkan headset AR/VR-nya di tahun 2023.

Dalam publikasi yang sama, dikutip dari 9to5mac, Cook menyebut sudah ada sejumlah aplikasi AR di App Store, dan mengatakan masih ada ruang bagi teknologi itu untuk melangkah lebih jauh.

"Bayangkan tiba-tiba bisa mengajar dengan AR dan mendemonstrasikan berbagai jal dengan cara itu. Atau secara medis, dan lain-lain," kata Tim Cook.

Beberapa waktu lalu, CEO Snap Evan Spiegel juga pernah melontarkan pendapat yang tidak jauh berbeda dari Tim Cook. Menurutnya, Snap sekarang lebih fokus untuk pengalaman yang dibuat untuk dunia nyata, alih-alih metaverse virtual.

"Alasan mengapa kami tidak menggunakan kata itu adalah karena itu cukup ambigu dan hipotetis," kata Evan Spiegel kepada The Guardian, seperti mengutip The Verge, Rabu (4/5/2022).

4 dari 4 halaman

Opini CEO Snap Soal Metaverse

"Tanyakan saja pada sekelompok orang bagaimana mendefinisikannya, dan definisi setiap orang benar-benar berbeda," imbuh suami dari model Australia Miranda Kerr itu.

Spiegel, kepada The Verge, mengatakan dirinya juga mengungkapkan bahwa perusahaan-perusahaan yang mengungkapkan strategi soal metaverse "benar-benar berbicara tentang sesuatu yang belum ada."

Menurut Spiegel, ini berbeda dari augmented reality (AR), di mana ia mengklaim "ada 250 juta orang yang terlibat dengan AR setiap harinya hanya dalam aplikasi Snapchat."

Meski begitu, ada kesamaan antara Spiegel dan Mark Zuckerberg, di mana keduanya percaya bahwa suatu hari nanti, kacamata AR akan menjadi sesuatu yang besar.

Spiegel mengatakan, kacamata AR akan jadi kunci untuk melapisi komputasi di dunia sekitar masyarakat. Snap sendiri sudah memiliki perangkat yang sedang dalam proses pengujian.

Berbeda dengan visi Zuckerberg yang dinilai lebih fokus pada realitas virtual, hal yang sebaliknya pun diungkapkan oleh Spiegel.

"Tesis dasar dan taruhan besar kami ada di dunia nyata, dan orang-orang benar-benar menikmati menghabiskan waktu bersama dalam kenyataan," ujarnya.

Spiegel mengatakan, komputasi dapat meningkatkan itu dan membuatnya lebih menyenangkan, serta berkontribusi pada pengalaman bersama-sama.

"Namun pada akhirnya, orang akan menghabiskan sebagian besar waktu mereka di dunia karena itu benar-benar tempat yang indah," Spiegel menjelaskan.

"Dan itulah mengapa kami berbicara dengan banyak kekhususan tentang produk yang kami miliki saat ini, tentang solusi yang ada. hari ini, dan tentang cara orang menggunakan produk kami, daripada berbicara secara hipotetis."

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.