7 Alasan Sulit Move On meski Hubungan Sudah Berakhir, Ternyata Bukan Cuma Masih Cinta

Sulit move on bukan selalu tanda masih cinta. Ada 7 alasan yang membuat seseorang tetap terikat pada hubungan yang telah berakhir.

Liputan6.com, Jakarta - Sulit move on setelah hubungan berakhir merupakan pengalaman yang bisa dialami siapa saja. Meski sudah tidak lagi berkomunikasi dengan mantan pasangan, sebagian orang masih sering teringat kenangan lama, memikirkan percakapan yang pernah terjadi, atau membayangkan bagaimana kehidupan mereka seandainya hubungan tersebut tidak berakhir.

Perasaan seperti ini kerap dianggap sebagai tanda bahwa seseorang masih mencintai mantannya. Padahal, sulit move on tidak selalu sesederhana itu. Ada ikatan emosional yang sudah terbentuk, kebiasaan yang sulit diubah, harapan yang belum terpenuhi, hingga kehilangan gambaran masa depan yang sebelumnya direncanakan bersama.

Dalam kajian psikologi, pengalaman setelah putus cinta dapat dipahami melalui konsep keterikatan atau attachment, yaitu ikatan emosional yang membuat seseorang merasa dekat dan aman bersama orang tertentu. Penelitian tentang keterikatan dan kehilangan menunjukkan bahwa berakhirnya hubungan dapat memengaruhi emosi, cara seseorang menghadapi kehilangan, dan proses menyesuaikan diri dengan kehidupan baru. Melansir dari berbagai sumber, Rabu (14/10/2026), simak ulasan informasinya berikut ini.

1. Ikatan Emosional dengan Mantan Masih Kuat

Salah satu alasan sulit move on adalah ikatan emosional yang sudah terbentuk selama menjalani hubungan. Ketika seseorang terbiasa berbagi cerita, mendapatkan dukungan, dan menghabiskan waktu bersama pasangan, kehadiran orang tersebut dapat menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.

Ikatan ini tidak langsung menghilang hanya karena hubungan telah berakhir. Seseorang mungkin sudah memahami bahwa perpisahan merupakan keputusan yang tepat, tetapi masih merasa kehilangan sosok yang dahulu menjadi tempat bercerita dan mencari kenyamanan. Akibatnya, muncul keinginan untuk menghubungi mantan atau sekadar mengetahui kabarnya.

Dalam teori keterikatan, pasangan romantis dapat menjadi figur yang memberikan rasa aman dan dukungan emosional. Ketika hubungan terputus, seseorang perlu menyesuaikan kembali cara memenuhi kebutuhan emosional tersebut. Proses ini membutuhkan waktu dan bisa berbeda pada setiap orang.

Penelitian Maarten C. Eisma, Dan Tõnus, dan Peter R. de Jong yang diterbitkan dalam Journal of Behavior Therapy and Experimental Psychiatry pada 2022 juga menemukan hubungan antara keinginan mempertahankan ikatan dengan mantan, kerinduan, dan tingkat tekanan emosional setelah putus. Temuan tersebut membantu menjelaskan mengapa sebagian orang masih merasa terikat meskipun hubungan sudah selesai.

2. Kenangan Indah Membuat Masa Lalu Terasa Sulit Dilepaskan

Kenangan menjadi bagian lain yang dapat membuat seseorang sulit move on. Momen sederhana seperti makan bersama, berjalan ke tempat favorit, merayakan ulang tahun, atau berbincang sebelum tidur bisa meninggalkan kesan emosional yang kuat.

Ketika hubungan berakhir, kenangan tersebut tidak otomatis hilang. Lagu tertentu, aroma makanan, tempat yang pernah dikunjungi, atau tanggal penting dapat memunculkan kembali ingatan tentang mantan. Reaksi ini dapat terjadi secara spontan, bahkan ketika seseorang sedang berusaha menjalani aktivitas seperti biasa.

Kenangan yang muncul juga tidak selalu menggambarkan keseluruhan hubungan. Saat merindukan seseorang, seseorang mungkin lebih mudah mengingat momen bahagia dan mengabaikan pertengkaran, ketidakcocokan, atau alasan yang membuat hubungan berakhir. Akibatnya, masa lalu bisa terasa lebih indah daripada kenyataan yang pernah dijalani.

Namun, mengingat kenangan indah bukan berarti seseorang harus kembali kepada mantannya. Kenangan merupakan bagian dari pengalaman hidup yang pernah bermakna. Tantangannya adalah menerima bahwa sesuatu bisa pernah membahagiakan tanpa harus dipertahankan selamanya.

3. Masih Berharap Hubungan Bisa Kembali

Harapan yang belum benar-benar dilepaskan juga dapat membuat proses move on terasa berat. Seseorang mungkin menganggap perpisahan hanya sementara, berharap mantan berubah pikiran, atau percaya bahwa suatu saat keduanya akan kembali bersama.

Harapan tersebut terkadang muncul karena hubungan berakhir tanpa kejelasan yang memuaskan. Misalnya, perpisahan terjadi ketika kedua pihak masih memiliki perasaan, tetapi terhalang masalah komunikasi, jarak, perbedaan tujuan hidup, atau ketidakcocokan yang belum terselesaikan.

Dalam situasi seperti itu, pikiran tentang kemungkinan kembali bersama bisa terus muncul. Seseorang mungkin menafsirkan pesan singkat, interaksi di media sosial, atau pertemuan tidak sengaja sebagai tanda bahwa hubungan masih memiliki peluang.

Penelitian tentang keterikatan dan tekanan emosional setelah putus menunjukkan bahwa keinginan mempertahankan hubungan dengan mantan berkaitan dengan kerinduan dan kesulitan menyesuaikan diri. Meski demikian, harapan untuk kembali bukan satu-satunya penyebab seseorang sulit move on, dan tidak semua orang yang masih berharap mengalami proses yang sama.

Untuk membantu diri sendiri, penting membedakan antara kemungkinan yang benar-benar didukung keadaan dan harapan yang hanya dipelihara oleh keinginan pribadi. Menerima bahwa hubungan telah berakhir bukan berarti menyangkal perasaan, melainkan mulai menghadapi kenyataan tanpa terus menggantungkan kebahagiaan pada kemungkinan kembali bersama.

4. Terus Memikirkan Hal-Hal yang Belum Selesai

Sebagian orang sulit move on karena terus memikirkan pertanyaan yang belum mendapatkan jawaban. Mereka mungkin bertanya-tanya tentang penyebab perpisahan, kesalahan yang pernah dilakukan, atau apakah ada hal yang sebenarnya bisa diperbaiki sebelum hubungan berakhir.

Pikiran seperti ini dapat berulang, terutama ketika perpisahan berlangsung mendadak atau meninggalkan banyak ketidakpastian. Seseorang bisa mengingat percakapan lama, menyusun berbagai kemungkinan, dan membayangkan skenario berbeda tentang apa yang seharusnya dilakukan.

Dalam psikologi, pola berpikir berulang tentang pengalaman yang menyakitkan sering disebut rumination. Refleksi memang dapat membantu seseorang memahami pengalaman, tetapi pikiran berulang yang terus berputar pada penyesalan dan pertanyaan tanpa ujung dapat memperpanjang tekanan emosional.

Penelitian Eisma dan rekan-rekannya yang diterbitkan pada 2022 menemukan hubungan antara kecemasan dalam keterikatan, pikiran berulang tentang perpisahan, dan tekanan emosional setelah putus. Karena penelitian tersebut menunjukkan hubungan antarfaktor, hasilnya tidak berarti bahwa setiap orang yang terus memikirkan mantan pasti akan mengalami kesulitan move on berkepanjangan.

Salah satu cara menghadapi kondisi ini adalah memberi ruang untuk mengevaluasi hubungan secara realistis, kemudian membatasi kebiasaan mengulang pertanyaan yang tidak bisa dijawab. Tidak semua perpisahan memberikan penjelasan lengkap, dan seseorang tetap dapat melanjutkan hidup meskipun belum memahami setiap detail yang terjadi.

5. Kehilangan Rutinitas yang Selama Ini Menjadi Bagian Hidup

Sulit move on tidak selalu berkaitan langsung dengan perasaan cinta. Terkadang, seseorang sebenarnya sedang beradaptasi dengan hilangnya rutinitas yang sebelumnya dilakukan bersama pasangan.

Ketika masih menjalin hubungan, seseorang mungkin terbiasa menerima pesan selamat pagi, menelepon pada malam hari, makan bersama setiap akhir pekan, atau menceritakan kejadian kecil setelah pulang bekerja. Setelah putus, kebiasaan tersebut mendadak berhenti dan meninggalkan ruang kosong dalam keseharian.

Perubahan ini bisa membuat hari-hari terasa berbeda. Waktu yang sebelumnya diisi bersama pasangan kini harus diatur kembali. Bahkan, kegiatan sederhana yang dahulu terasa biasa dapat memunculkan rasa kehilangan karena mengingatkan seseorang pada pola hidup sebelumnya.

Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan proses penyesuaian diri setelah kehilangan hubungan. Kajian David A. Sbarra dan Jessica L. Borelli mengenai penataan ulang keterikatan setelah perceraian menjelaskan bahwa seseorang perlu menyesuaikan hubungan emosional dan pemahaman tentang dirinya setelah perubahan besar dalam kehidupan romantis.

Untuk menghadapinya, seseorang dapat mulai membangun rutinitas baru secara bertahap. Menghabiskan waktu bersama teman, mencoba kegiatan yang tertunda, berolahraga, atau menciptakan kebiasaan malam yang berbeda dapat membantu mengisi ruang yang sebelumnya ditempati oleh rutinitas bersama mantan.

6. Merasa Kehilangan Masa Depan yang Pernah Dibayangkan

Dalam hubungan yang serius, seseorang biasanya tidak hanya membangun kenangan, tetapi juga membayangkan masa depan. Ada rencana untuk tinggal bersama, menikah, melakukan perjalanan, membangun keluarga, atau mencapai tujuan hidup secara berdampingan.

Ketika hubungan berakhir, yang hilang bukan hanya pasangan, melainkan juga sebagian gambaran masa depan tersebut. Seseorang bisa merasa sedih karena rencana yang telah dibayangkan tidak lagi dapat diwujudkan bersama orang yang sama.

Perasaan kehilangan ini terkadang membuat proses move on terasa lebih rumit daripada yang terlihat dari luar. Orang lain mungkin menganggap perpisahan sudah selesai, sedangkan seseorang yang mengalaminya masih berusaha menerima perubahan besar dalam rencana hidupnya.

Dalam kajian tentang penyesuaian diri setelah perpisahan, kehilangan hubungan juga dapat berkaitan dengan perubahan cara seseorang memahami dirinya. Hal ini masuk akal karena hubungan yang berlangsung lama sering menjadi bagian dari identitas, tujuan, dan rutinitas seseorang.

Untuk mulai pulih, cobalah memisahkan impian pribadi dari sosok yang dahulu menjadi bagian dari impian tersebut. Keinginan untuk membangun keluarga, memiliki rumah, bepergian, atau mengembangkan karier tetap dapat diwujudkan dengan jalan yang berbeda. Berakhirnya satu hubungan tidak otomatis membuat seluruh rencana hidup kehilangan maknanya.

7. Terus Membandingkan Diri dengan Mantan atau Orang Lain

Alasan sulit move on berikutnya adalah kebiasaan membandingkan kehidupan setelah perpisahan. Seseorang mungkin melihat mantannya terlihat bahagia, memiliki pasangan baru, atau kembali menjalani aktivitas seperti biasa. Dari situ, muncul anggapan bahwa mantan sudah melupakan hubungan lebih cepat.

Perbandingan tersebut dapat menimbulkan berbagai pertanyaan yang menyakitkan. Ada yang merasa dirinya kurang menarik, kurang berharga, atau tidak cukup baik untuk dipertahankan. Ada pula yang merasa tertinggal karena belum siap membuka hati, sementara mantan tampak sudah melanjutkan hidup.

Padahal, apa yang terlihat dari luar belum tentu menggambarkan keadaan emosional seseorang secara menyeluruh. Aktivitas di media sosial, misalnya, hanya memperlihatkan sebagian kehidupan. Seseorang tidak dapat mengetahui secara pasti apakah mantannya benar-benar sudah pulih hanya berdasarkan unggahan foto atau status.

Kebiasaan membandingkan diri juga dapat mengalihkan perhatian dari proses pemulihan pribadi. Alih-alih mengenali perubahan yang sudah terjadi, seseorang justru terus mengukur dirinya berdasarkan kehidupan orang lain.

Karena itu, cobalah mengurangi kebiasaan memantau aktivitas mantan apabila hal tersebut membuat perasaan semakin berat. Fokuslah pada perkembangan diri sendiri, seperti mulai menikmati aktivitas baru, mampu melewati hari tanpa terus memikirkan hubungan lama, atau kembali merasa nyaman dengan kehidupan sehari-hari. Kemajuan kecil tetap berarti meskipun prosesnya tidak berlangsung cepat.

Pertanyaan & Jawaban Seputar Alasan Sulit Move On

1. Mengapa seseorang sulit move on meski sudah tidak mencintai mantan?

Seseorang bisa kesulitan move on karena masih terikat pada kenangan, rutinitas, harapan, atau gambaran masa depan yang pernah dibangun bersama. Perasaan kehilangan tidak selalu sama dengan keinginan untuk kembali menjalin hubungan.

2. Apakah sulit move on berarti masih sayang?

Tidak selalu. Rasa sayang mungkin masih ada, tetapi kesulitan melanjutkan hidup juga dapat berkaitan dengan kebiasaan, penyesalan, ketidakpastian, dan proses menerima perubahan setelah hubungan berakhir.

3. Mengapa mantan masih sering teringat meski sudah lama putus?

Kenangan dapat muncul ketika seseorang bertemu pemicu tertentu, seperti lagu, tempat, tanggal, atau kebiasaan yang dahulu berkaitan dengan hubungan. Hal tersebut tidak otomatis berarti seseorang gagal move on.

4. Apakah melihat media sosial mantan bisa membuat sulit move on?

Bagi sebagian orang, kebiasaan tersebut dapat memperkuat kerinduan dan mendorong pikiran berulang tentang hubungan. Jika aktivitas itu membuat emosi semakin tidak stabil, mengambil jarak dari media sosial mantan bisa membantu proses penyesuaian.

5. Bagaimana cara move on ketika hubungan berakhir tanpa kejelasan?

Cobalah menerima bahwa tidak semua pertanyaan akan memperoleh jawaban yang memuaskan. Seseorang dapat mengevaluasi hal yang sudah diketahui, belajar dari pengalaman, dan membangun kehidupan baru tanpa harus menunggu seluruh ketidakpastian terpecahkan.