Sukses

Umat Islam Harus Tahu, Ini 6 Amalan Sunnah di Hari Raya Idul Adha

Liputan6.com, Jakarta - Idul Adha merupakan hari raya umat Islam selain Idul Fitri. Hari raya Idul Adha diperingati umat Islam setiap tahunnya di tanggal 10 Dzulhijjah. Di Indonesia, Idul Adha juga sering disebut dengan Idul Kurban atau lebaran haji. Pasalnya, pada hari itu kegiatan kurban dan ibadah haji dilaksanakan.

Sebagai ibadah tahunan, maka hendaknya kita laksanakan dengan sesempurna mungkin dengan menjalankan semua amalan-amalan sunnah pada hari tersebut dengan niat tulus dan mengharap pahala dari Allah SWT.

Di tahun ini, pemerintah telah menetapkan hari raya Idul Adha pada tanggal 10 Juli 2022. Umumnya, menjelang Idul Adha, umat Islam menunaikan puasa sunnah Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah.

Namun, selain puasa Arafah, terdapat beberapa amalan sunnah Idul Adha yang baik dilakukan saat momen perayaan Hari Raya Idul Adha tiba. Berikut ini 6 amalan sunnah yang dianjurkan pada hari raya Idul Adha, yang dirangkum oleh Liputan6.com dari berbagai sumber:

1. Mengumandangkan Takbir

Dilansir dari NU Online, Jumat (1/7/2022), amalan sunnah pada Idul Adha yang pertama adalah mengumandangkan takbir. Umay Islam dianjurkan untuk mengumandangkan takbir di masjid-masjid, mushola, dan rumah-rumah pada malam hari raya.

Takbir dimulai dari terbenamnya matahari sampai imam naik ke mimbar untuk berkhutbah pada hari raya Idul Adha dan sampai hari terakhir tanggal 13 Dzulhijjah pada hari tasyriq. Karena pada malam tersebut kita dianjurkan untuk mengagungkan , memuliakan, dan menghidupkannnya.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 5 halaman

Mengumandangkan Takbir

Anjuran mengenai takbir pada hari raya Idul Adha ini terdapat dalam kita Raudhatut Thalibin:

فَيُسْتَحَبُّ التَّكْبِيرُ الْمُرْسَلُ بِغُرُوبِ الشَّمْسِ فِي الْعِيدَيْنِ جَمِيعًا، وَيُسْتَحَبُّ اسْتِحْبَابًا مُتَأَكَّدًا، إِحْيَاءُ لَيْلَتَيِ الْعِيدِ بِالْعِبَادَةِ

"Disunahkan mengumandangkan takbir pada malam hari raya mulai terbenamnya matahari, dan sangat disunahkan juga menghidupkan malam hari raya tersebut dengan beribadah."

Sebagian ulama ahli fiqih ada yang memberi keterangan tentang beribadah di malam hari raya. Yaitu dengan melaksanakan sholat maghrib dan isya’ berjamaah, sampai dengan melaksanakan sholat subuh berjamaah.

2. Mandi sebelum Sholat Idul Adha

Disunnahkan mandi sebelum berangkat ke masjid untuk melaksanakan sholat Idul Adha. Hal ini boleh dilakukan mulai pertengahan malam, sebelum waktu subuh, dan yang lebih utama adalah sesudah waktu subuh.

Tujuan dari mandi ini adalah membersihkan anggota badan dari bau yang tidak sedap, dan membuat badan menjadi segar bugar. Karena itu, mandi sebelum waktu berangkat adalah yang paling baik. Berbeda jika mandinya setelah pertengahan malam, maka kemungkinan bau badan akan kembali lagi, begitu juga kebugaran badan.

Kesunnahan mandi adalah untuk semua kaum muslimin, laki-laki maupun perempuan. Baik yang akan akan berangkat melaksanakan sholat Id maupun bagi perempuan yang sedang udzur syar’i sehingga tidak bisa melaksanakan sholat Id.

 

3 dari 5 halaman

3. Pakai Wewangian

Pada hari raya Idul Adha, disunnahkan untuk memakai wewangian, memotong rambut, memotong kuku, dan menghilangkan bau-bau tidak enak. Itu semua dilakukan untuk memperoleh keutamaan hari raya Idul Adha.

Pada hakikatnya hal-hal tersebut boleh dilakukan kapan saja, ketika dalam kondisi yang memungkinkan, dan tidak harus menunggu datangnya hari raya. Misalnya, seminggu sekali saat hendak melaksanakan sholat Jumat. Dalam kitab Al-Majmu’ Syarhul Muhaddzab terdapat keterangan mengenai amalan sunnah ini:

والسنة أن يتنظف بحلق الشعر وتقليم الظفر وقطع الرائحة لانه يوم عيد فسن فيه ما ذكرناه كيوم الجمعة والسنة أن يتطيب

"Disunnahkan pada hari raya Id membersihkan anggota badan dengan memotong rambut, memotong kuku, menghilangkan bau badan yang tidak enak, karena amalan tersebut sebagaimana dilaksanakan pada hari Jumat, dan disunnahkan juga memakai wangi-wangian."

 

4 dari 5 halaman

4. Memakai Pakaian Terbaik

Seperti pada hari raya Idul Fitri, kita juga disunnahkan untuk mengenakan pakaian terbaik pada Idul Adha. Memakai pakaian yang paling baik lagi bersih dan suci jika memilikinya.

Jika tidak memilikinya, maka cukup memakai pakaian yang bersih dan suci. Namun, sebagian ulama mengatakan bahwa yang paling utama adalah memakai pakaian yang putih dan memakai serban.

5. Berjalan Menuju Masjid

Pada hari raya Idul Adha, dianjurkan untuk mengutamakan berjalan kaki menu ke masjid atau tempat sholat Id. Sementara untuk para lansia dan orang yang tidak mampu berjalan, maka boleh saja ia berangkat menggunakan kendaraan.

Dengan berjalan kaki, kita bisa bertegur sapa mengucapkan salam dan juga bisa ber-mushafahah (bersalam-salaman) sesama kaum Muslimin. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW riwayat dari Ibnu Umar:

كَانَ يَخْرُجُ إلَى الْعِيدِ مَاشِيًا وَيَرْجِعُ مَاشِيًا

"Rasulullah SAW berangkat untuk melaksanakan sholat Id dengan berjalan kaki, begitupun ketika pulang tempat sholat Id."

Selain itu, disunnahkan untuk berangkat lebih awal supaya mendapatkan shaf atau barisan depan. Dan sembari menunggu sholat Id dilaksanakan, kita bisa bertakbir bersama-sama di masjid dengan para jamaah yang telah hadir.

5 dari 5 halaman

6. Makan setelah Sholat Idul Adha

Di hari raya Idul Fitri, disunnahkan untuk makan sebelum melaksanakan sholat Id. Sementara pada Idul Adha, disunnahkan untuk makan setelah selesai melaksanakan sholat. Hal ini sebagaimana dijelaskan Rasulullah SAW dalam sebuah hadis:

عن بريدة رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لا يخرج يوم الفطر حتى يطعم ويوم النحر لا يأكل حتي يرجع

"Diriwayatkan dari Sahabat Buraidah RA, bahwa Nabi SAW tidak keluar pada hari raya Idul Fitri sampai beliau makan, dan pada hari raya Idul Adha sehingga beliau kembali ke rumah."

Diriwayatkan juga dari Sahabat Anas RA

انَّ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لَا يَخْرُجُ يوم الفطر حتى يأكل تمرات ويأكلهن وترا

"Rasulullah SAW tidak keluar pada hari raya Idul Fitri sampai beliau makan beberapa kurma yang jumlahnya ganjil."