Sukses

FAM Indonesia Rilis 4 Buku di Ultahnya yang Ke-3

Citizen6, Kediri Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia merayakan hari lahirnya yang ke-3 pada Ahad (1/3/2015). Helat ultah ditandai dengan pemotongan tumpeng dan doa bersama sebagai tanda syukur atas eksisnya komunitas penulis yang berbasis di Pare, Kediri, Jawa Timur itu.
 
Di momen bahagia tersebut, juga diluncurkan empat buku, yaitu “Sajak-Sajak Dibuang Sayang” (kumpulan puisi) karya Muhammad Subhan, “Sepucuk Surat Beku di Jendela” (kumpulan cerpen) karya Aliya Nurlela, “Glosarium Istilah Perpustakaan” dan “Serba-Serbi Koleksi Perpustakaan” (buku referensi perpustakaan) karya Suharyanto.
 
Keempat buku karya pegiat dan anggota FAM Indonesia tersebut diterbitkan FAM Publishing, Divisi Penerbitan FAM Indonesia.
 
Perayaan Ultah ke-3 FAM Indonesia dihadiri sejumlah anggota dan simpatisan FAM yang datang dari berbagai kota di Tanah Air, di antaranya Takengon (Aceh), Padangpanjang (Sumatera Barat), Ciamis (Jawa Barat), Kolaka (Sulawesi Tenggara), Toli-Toli (Sulawesi Tengah), Pare, Kediri, Tulungagung, Nganjuk, Lamongan, Surabaya (Jawa Timur), dan Papua.
 
Selain pemotongan tumpeng, juga dibacakan refleksi 3 tahun FAM Indonesia yang merupakan ulasan singkat perjalanan komunitas penulis itu sejak berdiri pada tanggal 2 Maret 2012 lalu.
 
Ketum FAM Indonesia Muhammad Subhan menyampaikan kilas-balik sejarah lahirnya FAM Indonesia yang bermula dari dunia maya lalu berkembang di dunia nyata.


 
“Semoga semangat gerakan menulis dari kota Pare ini bisa meluas hingga ke seluruh penjuru Tanah Air,” katanya.
 
Muhammad Subhan menyebutkan, FAM Indonesia ingin melanjutkan gerakan yang telah dibuat banyak penulis di masa lalu, yaitu gerakan cinta membaca buku dan menulis karangan. Gerakan itu harus dilakukan bersama-sama.
 
Fathur Rohim Syuhadi, anggota FAM Indonesia asal Lamongan dan Suryadi asal Malang menyampaikan syukur dan antusiasnya atas perjalanan FAM Indonesia yang telah mencapai usia tiga tahun. Di tahun-tahun berikutnya harapan mereka FAM semakin eksis dan terus menyebarkan semangat menulis, khususnya di kalangan pelajar.
 
Sementara itu, Sekjen FAM Indonesia Aliya Nurlela memberikan motivasi khususnya kepada anggota FAM yang hadir untuk tidak pernah berhenti menulis. “Titik jenuh mungkin ada dan itu lumrah, tapi bagi seorang penulis tangguh tak kenal kata jenuh apalagi berhenti,” kata penulis novel “Lukisan Cahaya di Batas Kota Galuh” itu. (rel)

**Ingin berbagi informasi dari dan untuk kita di Citizen6? Caranya bisa dibaca di sini