Sukses

6 Hoaks Seputar Covid-19 yang Beredar Sepekan, Simak Faktanya

Liputan6.com, Jakarta- Sebaran hoaks seputar Covid-19 terus bertambah, berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) sampai 31 Desember 2021 mencapai 5.326 unggahan di media sosial. Kondisi ini kita harus waspadai agar tidak tersesat karena percaya pada informasi yang salah.

Cek Fakta Liputan6.com pun telah menelusuri sejumlah informasi seputar Covid-19, hasilnya sebagian informasi terbukti hoaks.

Berikut kumpulan hoaks seputar Covid-19 yang beredar dalam sepekan:

1. Sperma Pria yang Tak Divaksin Berharga di Masa Depan

Cek Fakta Liputan6.com mendapati klaim sperma pria yang tak divaksin berharga di masa depan, informasi tersebut diunggah salah satu akun Facebook, pada 29 November 2021.

Unggahan klaim sperma pria yang tak divaksin berharga di masa depan tersebut berupa tangkapan layar artikel berjudul "Uh, Wow! Sperma Pria yang Tak Divaksin Bakal Super Berharga di Masa Depan? Begini penjelasannya".

Kemudian tangkapan layar tersebut diberi keterangan sebagai berikut:

"Akhirnya kaga sia-sia gue berjuang bertahan ngadepin bacotan bini Ama tetangga gue selama ini... Siapp produksi bibit unggul... Panen sehari 5 kali demi masa depan... Eekekekekekk"

Benarkah sperma pria yang tak divaksin berharga di masa depan? Simak penelusuran Cek Fakta Liputan6.com berikut ini.

 

2. Ada Varian Baru Covid-19 Bernama Delmicron

Beredar di media sosial postingan terkait varian baru covid-19 bernama Delmicron. Postingan ini ramai dibagikan sejak beberapa waktu lalu.

Salah satu akun yang mengunggahnya berada di Facebook. Akun itu mempostingnya pada 26 Desember 2021.

Dalam postingannya terdapat artikel berjudul "Gegerkan masyarakat internasional, varian baru Corona Delmicron Gabungan Delta-Omicron"

Postingan itu hingga saat ini mendapat 268 komentar dan dibagikan 74 kali.

Lalu benarkah postingan yang mengklaim ada varian baru covid-19 bernama Delmicron? Simak hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com berikut ini.

 

3.  WHO Sudah Mendeteksi COVID-19 Varian Omicron Sejak November 2020

Kabar tentang Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mendeteksi virus corona COVID-19 varian Omicron sejak November 2020 beredar di media sosial. Kabar tersebut disebarkan salah satu akun Facebook pada 29 Desember 2020.

Akun Facebook tersebut mengunggah gambar tangkapan layar dari situs WHO. Gambar tersebut berisi tabel data varian COVID-19 yang telah dideteksi WHO. Tertulis juga Omicron telah terdeteksi pada November 2020 di beberapa negara.

"Kebenaran Selalu Menemukan Jalannya Sendiri.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebenarnya telah menyatakan keberadaan Varian Omicron pada November 2020, dan banyak negara yang menyatakan bahwa varian itu adalah mutasi ringan saja. Tetapi anehnya sekarang hal yang sama diklaim sebagai sesuatu yang baru muncul dan sangat menular.

Jadi, anda bisa saja membohongi satu orang pada satu waktu. Tapi mustahil anda bisa membohongi semua orang di sepanjang waktu.

Kebohongan ibarat bangkai, jika tidak ketemu baunya pasti esok ketemu tulangnya," tulis salah satu akun Facebook.

Konten yang disebarkan akun Facebook tersebut telah beberapa kali direspons dan mendapat 2 komentar dari warganet.

Benarkah WHO telah mendeteksi virus corona COVID-19 varian Omicron sejak November 2020? Simak hasil penelusurannya di halam berikut ini.

 

4. CEO Pfizer Menolak Gunakan Vaksin Buatan Perusahaannya

Cek Fakta Liputan6.com mendapati klaim CEO Pfizer Albert Bourla menolak gunakan vaksin buatan perusahaannya, informasi tersebut diunggah salah satu akun Facebook, pada 8 Agustus 2021.

Unggahan CEO Pfizer Albert Bourla menolak gunakan vaksin buatan perusahaannya berupa video berdurasi 0.46 detik. Dalam video tersebut terdapat tulisan "CEO Pfizer menolak disuntik vaksin COVID-19.

CEO Pfizer Albert Bourla menolak untuk di vaksin buatan perusahaanya sendiri. "Usia saya 59 tahun; sehat, tidak bekerja di garus depan, jadi saya "tidak disarankan divaksinasi sekarang.""

Benarkah klaim CEO Pfizer Albert Bourla menolak gunakan vaksin buatan perusahaannya? Simak hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com berikut ini.

 

5.  Vaksin Covid-19 Berbahaya Bagi Anak Karena Mengandung Polisorbat 80

Beredar di media sosial postingan video yang menyebut vaksin covid-19 bagi anak-anak berbahaya karena mengandung bahan kimia seperti polisorbat 80. Postingan ini ramai dibagikan sejak beberapa waktu lalu.

Salah satunya ada yang mengunggahnya di Facebook. Akun itu mempostingnya pada 22 Desember 2021.

Dalam postingan itu terdapat video berdurasi satu menit yang menyebut vaksin covid-19 mengandung bahan kimia berbahaya seperti logam, merkuri, dan polisorbat 80.

Video itu juga menyebut polisorbat 80 bisa meracuni tubuh dan merusak otak. Postingan itu juga disertai narasi:

"Di Eropa dan Amerika, anak2 sekolah sd diberikan pemahaman mengenai bahaya Vaksin oleh gurunya...Berbeda dengan yang terjadi di indonesia, justru anak2 sekolah sdh diwajibkan untuk divaksin..."

Lalu benarkah postingan video yang menyebut vaksin covid-19 bagi anak-anak berbahaya karena mengandung bahan kimia seperti polisorbat 80? Simak hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com berikut ini.

 

6.  Uang Koin Bisa Menempel Pada Lengan Anak yang Sudah Vaksin

Beredar di media sosial postingan video yang menyebut uang koin logam bisa menempel pada lengan anak setelah divaksin. Postingan itu beredar sejak beberapa waktu lalu.

Salah satu akun mengunggahnya di Facebook. Dia mempostingnya pada 23 Desember 2021.

Dalam postingannya terdapat video berdurasi satu menit yang berisi seorang anak sedang ditempel uang logam pada bagian lengannya. Di dalam video juga terdapat suara seorang pria yang mengatakan:

"Ini sebagai bukti anak saya disuntik vaksin, dia nempel koin"

Postingan itu sudah dilihat lebih dari 129 kali dan mendapat 29 komentar.

Lalu benarkah uang koin bisa menempel pada lengan anak yang sudah divaksin? Simak hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com berikut ini.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Melawan hoaks sama saja melawan pembodohan. Itu yang mendasari kami membuat Kanal Cek Fakta Liputan6.com pada 2018 dan hingga kini aktif memberikan literasi media pada masyarakat luas.

Sejak 2 Juli 2018, Cek Fakta Liputan6.com bergabung dalam International Fact Checking Network (IFCN) dan menjadi patner Facebook. Kami juga bagian dari inisiatif cekfakta.com. Kerja sama dengan pihak manapun, tak akan mempengaruhi independensi kami.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan di email cekfakta.liputan6@kly.id.

Ingin lebih cepat mendapat jawaban? Hubungi Chatbot WhatsApp Liputan6 Cek Fakta di 0811-9787-670 atau klik tautan berikut ini.