Sukses

Simak Hoaks Seputar Covid-19, dari Masker sampai Tes Swab

Liputan6.com, Jakarta- Informasi seputar Covid-19 masih tersebar di media sosial, namun sebagian kabar tersebut tidak benar alias hoaks. Untuk itu kita perlu waspada terhadap informasi yang didapat, agar tidak salah percaya pada informasi palsu.

Cek Fakta Liputan6.com pun telah menelusuri sejumlah informasi seputar Covid-19. Hasilnya, sebagian informasi tersebut terbukti hoaks.

Berikut hoaks seputar Covid-19 yang beredar dalam sepekan:

1. Pakai Masker Bisa Picu Bunuh Diri Massal Akibat Keracunan CO2

Beredar di media sosial postingan terkait pemakaian masker bisa mengakibatkan bunuh diri massal di seluruh dunia karena keracunan CO2. Postingan ini ramai dibagikan sejak bulan lalu.

Salah satu yang mempostingnya adalah akun bernama Wahyu Saputra. Dia mengunggahnya di Facebook pada 20 Mei 2021.

Berikut isi postingannya:

"MEGA PROJECK DUNIA Yang Di Rancang Oleh Yahudi,Amerika dan China**UNTUK MEMBENAMKAN : KEBANGKITAN ISLAM YANG MENDUNIA* *CORONA_YG_MENIPU*(Copas + Edit)*

Bismillah...**PROGRAM BUNUH DIRI MASAL, AGAR MASYARAKAT DUNIA* *MENGHIRUP CO2**Karna Dengan Berlebihan Menghirup CO2, Manusia Tidak akan Hidup lama alias Bunuh Diri Massal*

😞 🙃🙃*Yang Dibutuhkan Oleh Tubuh Kita Seharusnya Menghirup O2 ( Oksigen )**tetapi karena CO2 (Karbon Dioksida) nya tertahan di masker, maka mau tidak mau harus kita hirup lagi).......

Inilah Program Pertama Mereka ( Yahudi Cs )**MAKA TERJAWABLAH SUDAH SIAPA SEBENARNYA CORONA....... YANG MEREKA CIPTAKAN.😊😊😊

**Tolong... dan Mohoon, ini dibaca sampai habis biar Kita Sadar dan tidak larut dalam rasa takut yg berlebihan..... yg entah sampai kapan tipu daya mereka akan berakhir."

Lalu benarkah postingan yang mengklaim memakai masker bisa mengakibatkan bunuh diri massal akibat keracunan CO2? Simak penelusuran Cek Fakta Liputan6.com.

Postingan yang mengklaim memakai masker bisa mengakibatkan bunuh diri massal akibat keracunan CO2 adalah hoaks.

 

2. Teknologi 5G Bikin Kasus Covid-19 di India Meroket

 India masih berjibaku melawan pandemi virus corona covid-19. Namun pandemi covid-19 gelombang kedua ini semakin sulit ditangani karena banyaknya hoaks.

Salah satu hoaks yang menghebohkan adalah terkait adanya teknologi 5G yang diklaim membuat kasus covid-19 di India meroket. Hoaks ini menyebar dengan narasi sebagai berikut:

"Pandemi gelombang kedua yang dijuluki corona ini bukan corona tapi disebabkan oleh pengujian jaringan 5G. Radiasi yang dilepaskan dari menara 5G membuat udara menjadi beracun. Itulah sebabnya orang menghadapi kesulitan bernafas dan sekarat. Tolong tuntut larangan pengujian 5G dan semuanya akan normal,"

Dilansir AFP Fact Check, hoaks yang menyebar melalui pengguna media sosial dan aplikasi percakapan di India itu tidak berdasar. AFP Fact Check mendapat penjelasan dari Mahadevappa Mahesh, profesor Radiologi dan Kardiologi di Fakultas Kedokteran Universitas Johns Hopkins.

"Dari sudut pandang fisika, 5G tidak membuat banyak perbedaan dalam hal gelombang milimeter [daripada 4G]."

Selain itu juga terdapat penjelasan dari Simon Clarke, Associate Professor di Mikrobiologi Seluler, University of Reading, mengatakan kepada Science Media Centre Inggris:

"Ini adalah penyakit yang menurut banyak dokter dan ilmuwan di seluruh dunia disebabkan oleh virus, sesuatu yang sama sekali berbeda dengan sinyal ponsel.

Gelombang elektromagnetik adalah satu hal, virus adalah hal lain, dan Anda tidak dapat mengeluarkan virus dari tiang telepon."

Pemerintah India juga telah mengeluarkan bantahan resmi terkait hal ini melalui akun Press Information Bureau (PIB) di Twitter pada 6 Mei 2021.

"Ada klaim yang dibuat dalam pesan audio bahwa orang-orang sekarat karena pengujian jaringan 5G yang disebut sebagai covid-19. Klaim ini palsu. Tolong jangan sebarkan pesan palsu ini dan jangan menyebarkan kesalahpahaman," bunyi postingan itu.

 

3.  CDC Rilis Data 7 dari 10 Warga AS Enggan Divaksin Covid-19

 Beredar di media sosial postingan yang mengklaim Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) merilis survei yang menyebut 7 dari 10 warga AS enggan divaksin covid-19. Postingan ini banyak menyebar sejak akhir bulan lalu.

Salah satu akun yang mempostingnya bernama Dari Yordanova. Ia mengunggahnya di Facebook pada 24 Mei 2021.

Dalam postingannya terdapat narasi:

"Turns out CDC quietly released data showing that 7 out of 10 Americans are declining the experimental gene therapy. While the world is trying to convince you you’re on the fringe of humanity you’re actually in the majority."

atau dalam Bahasa Indonesia:

"Ternyata CDC diam-diam merilis data yang menunjukkan bahwa 7 dari 10 orang Amerika menolak terapi gen eksperimental. Sementara dunia mencoba meyakinkan Anda bahwa Anda berada di pinggiran kemanusiaan, Anda sebenarnya adalah mayoritas."

Lalu benarkah postingan yang mengklaim CDC merilis data yang menyebut 7 dari 10 warga AS enggan divaksin covid-19? Simak penelusuran Cek Fakta Liputan6.com.

Hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com, postingan yang mengklaim CDC merilis data yang menyebut 7 dari 10 warga AS enggan divaksin covid-19 adalah tidak benar.  

 

4. Anak-anak Kebal Virus Corona Covid-19

Klaim tentang anak-anak kebal dari virus corona Covid-19 beredar di media sosial. Klaim tersebut disebarkan akun Facebook Afrilzal Umi Umi pada 30 Mei 2021 lalu.

Akun Facebook Afrilzal Umi Umi mengunggah video berdurasi 1 menit 5 detik berisi pernyataan seorang wanita yang menyebut bahwa virus corona Covid-19 tidak berpengaruh kepada anak-anak.

"Coba beri komentar kalian,,, Apa benernya itu anak anak kebal terhadap virus covid," tulis akun Facebook Afrilzal Umi Umi.

Konten yang disebarkan akun Facebook Afrilzal Umi Umi telah 26 kali ditayangkan dan mendapat 7 respons dari warganet.

Benarkah klaim anak-anak kebal dari virus corona Covid-19? Berikut penelusurannya.

Hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com, klaim tentang anak-anak kebal dari virus corona Covid-19 ternyata tidak benar. Faktaanya, anak-anak tidak kebal terhadap Covid-19.

 

5.  Terlalu Sering Tes Swab Bisa Bikin Dahi Bermagnet

Beredar di media sosial postingan yang mengklaim tes swab bisa mengakibatkan dahi seseorang menjadi bermagnet. Postingan tersebut ramai dibagikan sejak akhir Mei lalu oleh para pengguna media sosial di Korea Selatan.

Dalam postingan tersebut juga disertai video seseorang yang dahinya tertempel kunci akibat bermagnet. Video tersebut dilengkapi narasi:

Video ini cukup mengejutkan. Anda dapat melihat mengapa kita harus menolak tes corona.

Seorang kenalan pembuat video ini menolak vaksin tersebut, namun dikatakan telah menjalani tes swab corona dua kali seminggu selama setahun penuh.

Akibatnya, segala macam gumpalan besi menempel di dahinya...walau tidak divaksinasi. Anda mungkin merasa terbantu untuk merujuk ke video yang terkait dengan tes korona yang telah saya posting di blog saya untuk memahami mengapa hal ini terjadi. Saya kira tes swab corona berdampak buruk, tapi melihat kasus ini cukup mengejutkan."

Lalu benarkah dahi atau kening seseorang akan menjadi bermagnet jika terus melakukan tes swab? Simak penelusuran Cek Fakta Liputan6.com.

Dilansir AFP Fact Check, postingan yang mengklaim terlalu sering di tes swab bisa membuat dahi atau kening bermagnet adalah tidak benar. AFP Fact Check mendapat penjelasan dari Korea Disease Control and Prevention Agency (KDCA).

"Tidak ada dasar ilmiahnya dan tidak masuk akal," ujar Juru Bicara KDCA pada AFP Fact Check.

Para ahli juga menekankan bahwa tes swab tidak menyentuh dahi seseorang.

"Untuk mengetahui apakah seseorang terinfeksi virus corona, petugas kesehatan menggunakan swab dengan poros panjang untuk mengikis bagian belakang nasofaring orang tersebut dengan lembut. Nasofaring adalah bagian atas tenggorokan, tepat di belakang hidung" kata Departemen Biokimia Universitas Otago di situsnya.

Kementerian Pendidikan Korsel menyebut gesekan statis sebagai salah satu alasan benda logam dapat menempel pada tubuh manusia. Gesekan statis adalah gesekan antara dua atau lebih benda padat yang tidak bergerak relatif satu sama lain.

“Jika kita mengambil kasus menempelkan sendok ke tubuh kita sebagai contoh, baik sendok dan permukaan tubuh kita terlihat halus, tetapi pada kenyataannya, atom dan molekul yang tak terhitung jumlahnya menonjol dari permukaan. Oleh karena itu, ketika kita menempelkan sendok logam ke tubuh kita, sendok dan tonjolan di tubuh kita ini bersentuhan satu sama lain untuk menghasilkan gesekan," bunyi pernyataan Kementerian Pendidikan Korsel di blog resminya.

"Tekanan pada titik kontak ini biasanya jauh lebih besar daripada tekanan rata-rata di seluruh permukaan, sehingga kedua titik akan langsung saling menempel."

 

 

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

2 dari 3 halaman

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Liputan6.com merupakan media terverifikasi Jaringan Periksa Fakta Internasional atau International Fact Checking Network (IFCN) bersama puluhan media massa lainnya di seluruh dunia. 

Cek Fakta Liputan6.com juga adalah mitra Facebook untuk memberantas hoaks, fake news, atau disinformasi yang beredar di platform media sosial itu. 

Kami juga bekerjasama dengan 21 media nasional dan lokal dalam cekfakta.com untuk memverifikasi berbagai informasi yang tersebar di masyarakat.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan kepada tim CEK FAKTA Liputan6.com di email cekfakta.liputan6@kly.id.

3 dari 3 halaman

Simak Video Berikut