Sukses

Vaksinasi Covid-19 Sebentar Lagi, Jangan Percaya 6 Mitos soal Vaksin Ini

Liputan6.com, Jakarta - Pada Desember 2020, pemerintah Indonesia bakal memulai vaksinasi covid-19. Tercatat, ada tiga kandidat vaksin yang bakal masuk ke tanah air di bulan November, yakni Sinovac, Sinopharm, dan Cansino.

Dokter spesialis anak dari Yayasan Orangtua Peduli Windhi Kresnawati meminta masyarakat Indonesia untuk tidak takut vaksinasi covid-19. Dia juga meminta seluruh warga tidak termakan mitos soal vaksin.

Berikut ini ada enam mitos soal vaksin seperti dijelaskan Windhi, dikutip dari laman resmi Satgas Penanganan Covid-19:

1. Mitos Penyakit Infeski Bisa Dihindari dari Gaya Hidup Sehat

Windhi tidak menampik pola hidup sehat merupakan kebiasaan yang baik. Namun, cara ini belum cukum untuk mencegah infeksi penyakit tertentu.

Fakta soal anggapan ini bisa kita lihat di Amerika Serikat. Saat ditemukan vaksin campak di AS pada 1963, penyakit ini berangsur-angsur hilang. Bahkan pada 1974, pemerintah AS menyatakan bahwa mereka bebas campak.

Yang perlu digaris bawahi, pola dan gaya hidup warga AS sejak tahun 1963 hingga 1974 tidak ada perubahan. Artinya, peran terbesar atas hilangnya campak di AS adalah imunisasi atau vaksinasi. Bukan semata-mata gaya hidup yang sehat.

Kondisi ini mulai berubah saat di AS mulai muncul sekte atau kelompok masyarakat yang meragukan vaksin MMR (campak, beguk, rubella). Lalu diikuti dengan semakin banyak orang ragu terhadap peran vaksin campak.

"Akibatnya, tahun 2018 Amerika Serikat kembali mengalami wabah campak. Ini disebabkan banyak pendatang dari negara lain yang tidak vaksin dan refuse vaksinasi tinggi," ujar Windhi.

Dengan adanya contoh kasus tersebut, pemerintah berharap masyarakat Indonesia tidak takut vaksinasi covid-19.

 

 

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

2 dari 7 halaman

2. Mitos Anak yang Diimunisasi Tetap Sakit

Sakit bisa dialami oleh siapapun. Namun, untuk anak yang sudah diimunisasi, tingkat keparahannya tidak seperti yang belum diimunisasi. Anak-anak yang diimunisasi, bila sakit, akan terhindar dari kecacatan dan kematian.

"Dan jangan lupa, kalau Anda tidak diimunisasi dan Anda tidak sakit, berterimakasihlah kepada orang yang diimunisasi. Karena itulah herd immunity. Ketika kita berada di tengah orang-orang yang sehat, kita tidak terjangkit penyakit," ujar Windhi.

 

 

3 dari 7 halaman

3. Mitos Vaksin Punya Kandungan Zat Bebahaya

Menurut Windhi, ini merupakan anggapan yang keliru. Vaksin yang diproduksi massal harus memenuhi syarat, yakni aman, efektif, stabil, dan efisien dari segi biaya. Artinya panjang prosesnya.

"Setelah dinyatakan aman, dipakai oleh masyarakat luas di bawah monitoring. Kalau negara kita di bawah BPOM. Karena satu saja ada temuan efek samping yang tidak diinginkan itu bisa ditarik dan biasanya itu ketahuan di fase awal," ujar Windhi.

 

 

4 dari 7 halaman

4. Mitos Vaksin Sebabkan Autisme

Windhi menegaskan, untuk mitos yang satu ini, tidak ada kaitannya antara vaksin dengan autisme pada anak. ini sudah terbukti pada penelitian mendalam dan panjang, bahkan hingga lebih dari 10 tahun. Thimerosal merupakan salah satu kandungan vaksin yang sempat dituduh memicu autisme pada anak. Thimerosal ini berfungsi sebagai pengawet vaksin.

Peneliti juga melihat kadar thimerosal pada tubuh anak autis dan anak non autis. Hasilnya, tidak ada perbedaan di antara keduanya. Hal ini semakin menguatkan bahwa thimerosal tidak menyebabkan autisme, melainkan genetika.

"Jadi jangan termakan hoaks dengan thimerosal penyebab autisme. Banyak sekali penelitiannya dan mudah sekali mencarinya di internet" kata Windhi.

 

5 dari 7 halaman

5. Mitos Vaksin Mengandung Sel Janin Aborsi

Virus memrlukan inang berupa sel hidup untuk bertahan dan berkembang biak. Dalam pembuatan vaksin, virus memang menginfeksi sel hidup dan diproduksi berulang-ulang selama beberapa tahun dengan meninggalkan sel awal.

Sedangkan sel yang diambil sebagai komponen vaksin adalah bagian dari virus atau virusnya itu sendiri. Windhi pun membantah mitos yang menyebut vaksin mengandung sel janin aborsi.

"Jadi, kalau ada yang bilang ada sel janin yang digunakan, itu terjadi pada tahun 1960-an, di mana digunakan secara legal untuk membuat vaksin dan itu sekali saja proses yang terjadi. Lantas apakah dalam vaksin ada sel janin? Jawabannya, hanya ada hasil produknya, yakni berupa virusnya saja," kata Windhi.

 

6 dari 7 halaman

6. Mitos Penyakit yang Sudah Ada Vaksinnya, Tak Perlu Vaksinasi Lagi

Ini pun jelas hoaks. Banyak riset menunjukkan bahwa penurunan angka vaksinasi memicu kenaikan penyakit spesifik yang dilawan vaksin tersebut.

Hal ini sempat terjadi di Indonesia pada medio akhir 2017 lalu. Awalnya wabah difteri terjadi di Jawa dan merambah ke Sumatra. Pemerintah pun memutuskan untuk melakukan imunisasi nasional dan menggratiskan imunisasi difteri hingga usia 19 tahun.

"Di AS juga terjadi, tahun 2018 angka imunisasi turun dan muncul lagi. Polio sempat muncul kembali di Papua, padahal kita pernah dapat bendera bebas polio dari WHO. Campak rubella masih mengancam karena banyak hoaks tadi. Jadi hati-hati, kalau angka mulai turun dan kita hadapi wabah ini sangat menderita," jelas Windhi.

7 dari 7 halaman

Tentang Cek Fakta

Liputan6.com merupakan media terverifikasi Jaringan Periksa Fakta Internasional atau International Fact Checking Network (IFCN) bersama puluhan media massa lainnya di seluruh dunia. 

Cek Fakta Liputan6.com juga adalah mitra Facebook untuk memberantas hoaks, fake news, atau disinformasi yang beredar di platform media sosial itu. 

Kami juga bekerjasama dengan 21 media nasional dan lokal dalam cekfakta.com untuk memverifikasi berbagai informasi yang tersebar di masyarakat.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan kepada tim CEK FAKTA Liputan6.com di email cekfakta.liputan6@kly.id.