Sukses

[Cek Fakta] Foto-Foto Ini Diklaim Bukti Penyiksaan terhadap Muslim Uighur, Faktanya?

Liputan6.com, Jakarta - Nasib warga muslim Uighur di China menjadi perhatian dunia. Parlemen Uni Eropa meminta negara-negara anggotanya menjatuhkan sanksi kepada Tiongkok terkait dugaan persekusi etnis minoritas tersebut.

Sementara, Kementerian Luar Negeri Indonesia meminta pemerintah China menjelaskan situasi di Xinjiang terkait laporan persekusi dan diskriminasi terhadap warga Uighur.

Pemain Arsenal FC Mesut Ozil juga ikut menyuarakan keprihatinannya terhadap kondisi kondisi muslim Uighur di Xinjiang, yang dibantah oleh pihak China, yang menyebut sang bintang lapangan rumput 'tertipu berita palsu'.

Unggahan mengenai nasib muslim Uighur mendominasi situs media sosial Facebook. Sejumlah laman dan akun mengunggah banyak foto dan video yang diklaim sebagai bukti adanya persekusi terhadap warga minoritas tersebut.

Namun, tak semuanya adalah fakta. Kita sebaiknya mengecek kebenarannya sebelum bereaksi.

Misalnya yang diunggah akun Facebook Ambhon Andhiancchee pada 20 Desember 2019.

Ia mengunggah foto Mesut Ozil. "JIKA KALIAN TIDAK BISA MEMBANTU MEREKA (MUSLIM HAIGUR) , MAKA SEBARKANLAH!!! APA YG SUDAH TERJADI DISANA TERHADAP SAUDARA KITA," kalimat tersebut tertera di dekat foto sang bintang sepak bola.

"Jika kalian tidak bisa membantu maka sebarkanlah," kata dia dalam narasinya.

Selain itu, ia juga mengunggah sejumlah foto lain. Meski tak menuliskan keterangan gambar, sejumlah pengguna Facebook mengaitkannya dengan dugaan penyiksaan terhadap muslim Uighur.

Mari kita cek satu per satu:

2 dari 4 halaman

Penelusuran Fakta

Salah satu yang diunggah adalah foto seorang pria yang terikat di kursi. Badan dan kedua tangannya terbelenggu besi.

Fakta di balik foto-foto yang fiklaim sebagai penyiksaan muslim Uighur (Facebook)

 

Penelusuran menggunakan Google Reverse Images memberikan petunjuk bahwa foro tersebut tak ada kaitannya dengan muslim Uighur.

Seperti dikutip dari situs Lacorte News, dalam artikel berjudul, Video of Chinese man being questioned for social media activity raises free speech concerns pada 4 desember 2019, pria tersebut diduga diinterogasi polisi setelah melancarkan kritik terhadap aparat China di media sosial.

Pria tersebut, yang dilaporkan bernama Luhua, dibelenggu dalam kursi logam. Ia dilaporkan meminta maaf pada dua polisi yang menginterogasinya terkait aktivitas di media sosial.

Berdasarkan percakapan dalam video yang beredar, ia melancarkan kritik terhadap polisi lalu lintas di QQ dan WeChat.

Video tersebut beredar lewat postingan pegiat media asal Kanada, Ezra Levant di Twitter.

 

 

 

 

Foto lain yang diunggah adalah dua pria dengan bangkai anjing dikalungkan di leher mereka.

Berdasarkan penelusuran menggunakan Google Reverse Images mengarah ke video berjudul Dog thieves caught by angry mob in China, beaten and tied to pole for 10 hours yang diunggah TomoNews di YouTube pada 4 November 2015.

Dalam keterangan video diungkapkan, dua terduga pencuri anjing dihakimi massa. 

Menurut Guiyang Evening News, sekitar pukul 06.00 pagi, dua pria itu tertangkap tangan menyerang anjing dengan ketapel.

Pemilik anjing, yang diidentifikasi sebagai Xiao, meminta bantuan dan dua tetangganya mengejar terduga pencuri anjing pencuri yang berusaha melarikan diri dengan sepeda motor. Panik, kendaraan yang mereka tumpangi menabrak parit.

Setelah tertangkap, keduanya jadi bulan-bulanan warga. mereka dipukuli, diikat ke sebuah tiang listrik, dengan anjing-anjing yang mati digantung di leher mereka. Butuh lebih dari 100 aparat untuk mengamankan dua pria itu dari amukan warga.

Foto lain yang diunggah menunjukkan seorang perempuan yang sedang disiksa. Penelusuran Liputan6.com mengarah ke situs en.minghui.org dalam artikelnya yang berjudul, France: Practitioners Exhibit Some of the Torture Methods Used by the Jiang Group to Persecute Falun Gong (Photos).

Dari artikel tersebut diketahui, foto tersebut adalah bagian dari aksi teatrikal terkait persekusi pada penganut Falun Gong.

Foto tersebut, yang dikaitkan dengan penyiksaan terhadap muslim Uighur, juga menyebar di Jerman, demikian diungkap dalam artikel berjudul, Kala Video dari Indonesia Mendunia Sebagai Hoaks yang diunggah Liputan6.com.

 

Cek fakta kabar viral di Jerman (Instagram)

 

Berdasarkan hasil pencarian di Google Reverse Images, tak hanya di Indonesia, foto itu juga dikaitkan dengan laporan persekusi muslim Uighur di sejumlah negara.

Namun, situs en.minghui.org mementahkan klaim tersebut. Artikel berjudul, Mr. Zheng Shoujun Tortured to Death in Liaoning Province (Photos), yang diunggah pada 5 September 2008 juga memuat foto yang sama.

Pria dalam foto tersebut bukan warga Uighur, melainkan pengikut Falun Dafa (Falun Gong) bernama Zheng Shoujun yang mendemonstrasikan penyiksaan yang ia alami pada 2004.

Foto itu juga baru belakangan dikaitkan dengan laporan diskriminasi dan penyiksaan muslim Uighur di China. Gambar serupa pernah dimuat situs en.minghui.org pada 26 Juli 2011.

Dalam artikel berjudul, Mr. Wang Junqiang, a Respected Technician from Fukang City, Xinjiang Autonomous Region is Subjected to Physical Abuse and Torture disebutkan bawah Wang Junqiang, seorang teknisi dari Kota Fukang, Xinjiang, dilaporkan mengalami penyiksaan karena mempraktikkan Falun Gong.

 

Fakta di balik foto-foto yang fiklaim sebagai penyiksaan muslim Uighur (Facebook)

Gambar tersebut juga pernah dimuat dalam situs yang sama pada 2004 lalu. 

 

Juga gambar ini. Foto tersebut bisa ditemukan dalam arsip situs en.minghui.org.  

Fakta di balik foto-foto yang fiklaim sebagai penyiksaan muslim Uighur (Facebook)

 

Gambar serupa dimuat situs The Epoch Times dalam artikel berjudul, 80-Year-Old Man Faces 11-Year Prison Sentence for His Faith pada 27 Februari 2017.

Pria yang diikat dengan selotip kuning tersebut dilaporkan bernama Liu Dianyuan. Ia pengikut Falun Gong.

Tiga foto lain dalam unggahan akun Facebook Ambhon Andhiancchee juga pernah dimuat situs en.minghui.org.

3 dari 4 halaman

Kesimpulan

Foto-foto yang dimuat akun Facebook Ambhon Andhiancchee tidak ada kaitannya dengan laporan penahanan dan diskriminasi terhadap muslim Uighur di China. 

4 dari 4 halaman

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Liputan6.com merupakan media terverifikasi Jaringan Periksa Fakta Internasional atau International Fact Checking Network (IFCN) bersama 49 media massa lainnya di seluruh dunia.

Cek Fakta Liputan6.com juga adalah mitra Facebook untuk memberantas hoaks, fake news, atau disinformasi yang beredar di platform media sosial itu.

Kami juga bekerjasama dengan 21 media nasional dan lokal dalam cekfakta.com untuk memverifikasi berbagai informasi hoax yang tersebar di masyarakat.

Jika anda memiliki informasi seputar hoax yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan kepada tim CEK FAKTA Liputan6.com di email cekfakta.liputan6@kly.id.

Loading
Artikel Selanjutnya
[Cek Fakta] Mengonsumsi Daun Pakis Berbahaya karena Memicu Kanker? Ini Faktanya
Artikel Selanjutnya
[Cek Fakta] Hoaks Kanibal Kabur ke Baubau Sultra