Jadwal Piala Dunia 2022, Prancis vs Australia Siaran Langsung di SCTV, Moji, dan NEX Parabola

Timnas Prancis memiliki hambatan serius ketika menghadapi Australia pada laga pembuka Grup D Piala Dunia 2022.

Diterbitkan 22 November 2022, 18:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Timnas Prancis memiliki hambatan serius ketika menghadapi Australia pada laga pembuka Grup D Piala Dunia 2022. Hambatan terbesar tentu saja masalah cedera pemain dalam upaya Les Bleus mempertahankan status mereka sebagai juara bertahan.

Prancis menghadapi timnas Australia di Stadion Al Janoub, Rabu (23/11/2022) dini hari pukul 02.00 WIB. Pertandingan yang disiarkan langsung SCTV, Moji, dan dapat pula disaksian melalui siaran streaming Vidio serta pada jaringan televisi satelit NEX Parabola ini tentu saja sangat penting bagi keduanya.

Les Bleus berupaya keras mempertahankan status mereka sebagai juara bertahan, sedangkan Australia bertujuan mengakhiri kesialan mereka tersisih di fase grup selama tiga kesempatan berturut-turut.

Bagi Didier Deschamps selaku pelatih kepala Prancis, dampak negatif yang diraih tim asuhannya jauh lebih besar ketimbang sisi positif usai Les Bleus merengkuh UEFA Nations League 2021.

Skandal di luar lapangan dan masalah cedera yang tak terhitung jumlahnya juga melanda Prancis. Karim Benzema salah satunya menjadi pemain yang bakal absen karena mengalami masalah paha, meski striker Real Madrid itu kembali berlatih penuh bersama Raphael Varane.

Deschamps tidak akan menyebutkan pengganti Benzema, dan dia juga terpaksa menukar Presnel Kimpembe dan Christopher Nkunku dengan Axel Disasi dan Randal Kolo Muani.

Yang jelas, Olivier Giroud, Antoine Griezmann, Kylian Mbappe, dan Ousmane Dembele diperkirakan akan membentuk kuartet penyerang dengan absennya Benzema. Sementara Ibrahima Konate dan Dayot Upamecano dapat ditempatkan di lini belakang.

Deschamps telah menegaskan bahwa Varane fit untuk menjadi starter, sementara Eduardo Camavinga absen karena rasa tidak nyaman saat menjalani sesi latihan.

Motivasi Les Bleus

Deschamps mengatakan tidak ada kecemasan di kubu timnya di Piala Dunia kali ini, meskipun beberapa pemain kunci ditarik keluar untuk menjalani laga pembuka Grup D.

"Tidak ada kekhawatiran. Kami telah melakukan segala kemungkinan," kata Deschamps. "Tidak ada kecemasan, semua orang tenang dan berkepala dingin."

"Anda pikir saya bisa menjentikkan jari saya dan seseorang dapat berkata, 'Oke, saya akan menjadi pemimpin, saya akan memberikan semangat dan memimpin pasukan menuju kemenangan'? Tidak, itu sesuatu yang datang seiring waktu.”

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

"Roma tidak dibangun dalam sehari, itu tidak bisa terjadi dalam semalam, tetapi kami memiliki apa yang kami butuhkan. Kami memiliki cukup banyak pemain yang dapat merangsang, membuat orang lain maju, berbicara di ruang ganti, maupun di lapangan,” timpalnya. “Tapi, ada jenis kepemimpinan lain, ini bukan hanya tentang berbicara. Jika berbicara untuk meniupkan udara panas, maka itu tidak terlalu berharga.” "Sangat penting bahwa setiap pemain adalah pemimpin di posisi mereka, kemudian kita akan melihat seperti apa mereka di lapangan." "Saya memiliki 25 pemain di skuad saya. Saya yakin saya memiliki jumlah pemain yang efisien untuk dapat menghadapi tantangan yang kami hadapi," kata Deschamps. "Sebelum (di turnamen sebelumnya) kami memiliki 22, 23. Sekarang kami berada di angka 25 (pemain). Ada banyak kemungkinan, banyak pemain di bangku cadangan. Karena itu, saya yakin kami memiliki semua yang kami butuhkan." Prancis bukan satu-satunya yang dikutuk karena cedera, karena striker Australia milik Hibernian, Martin Boyle, telah dirawat karena masalah lutut dan terpaksa mundur dari skuad. Marco Tilio telah menggantikan pemain berusia 29 tahun itu, dan Arnold memiliki semua anggota skuadnya yang fit dan bersemangat untuk tampil. Bahkan, Ajdin Hrustic dilaporkan telah bekerja seperti biasa baru-baru ini menyusul masalah cederanya. Sementara bek Stoke City, Harry Souttar, juga menegaskan siap tampil di laga pembuka. Walau begitu, Prancis mendapat rasa hormat yang cukup tinggi sebagai juara bertahan. Mereka memiliki harapan mewujudkan misi menjadi negara ketiga setelah Italia dan Brasil yang merengkuh gelar back-to-back Piala Dunia. Prancis tentunya tak ingin seperti tiga juara bertahan sebelumnya, Jerman, Spanyol, dan Italia, yang berakhir di babak penyisihan grup. Mereka ingin seperti Brasil yang memenangkan laga pembuka pada Piala Dunia 2006.

Halaman
Show All
Yulianto, Harley IkhsanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan