Bola Ganjil: Diktator Chile dan Stadion yang Ternoda Darah

Simak cerita Augusto Pinochet, diktator Chile, yang mencoreng sepak bola tanah kelahirannya dan Amerika Selatan pada umumnya.

Diterbitkan 13 Agustus 2020, 15:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

FIFA merespon dan mengirim delegasi untuk memeriksa National Stadium, yakni Wakil Presiden Abilio d’Almeida dan Sekretaris Jenderal Helmuth Kaeser, pada akhir Oktober.

Pinochet coba menghapus bukti adanya kekerasan di stadion. Mereka mengurung tahanan di kamar ganti atau memindahkan mereka ke lokasi lain untuk sementara.

"Mereka mengurung kami di bawah, tersembunyi di kamar ganti dan lorong, karena ada jurnalis mengikuti rombongan FIFA," kata Jorge Montealegre, salah satu tahanan.

Keputusan Mengejutkan FIFA

Keputusan yang keluar kemudian mengejutkan dunia. Meski ada ribuan tahanan di stadion pada saat inspeksi, FIFA memberikan lampu hijau untuk menggelar pertandingan.

Media dunia kaget. Pers berspekulasi apakah FIFA memilih mengabaikan seriusnya pelanggaran hak asasi manusia di Chile, atau kepiawaian Pinochet menyembunyikan bukti sehingga mengecoh otoritas sepak bola dunia tersebut.

Pada akhirnya sikap tersebut memalukan olahraga dan merusak citra sepak bola di Amerika Selatan.

Uni Soviet memutuskan tidak datang. Pada pertandingan yang berlangsung 21 November 1973, timnas Chile sendirian turun ke lapangan. Kursi penonton di stadion tidak penuh terisi. Mereka melakukan kick-off, beberapa kali mengumpan bola, sebelum memasukkan si kulit bundar ke gawang kosong.

Tidak diketahui mengapa Chile tidak ditetapkan sebagai pemenang melalui walkout. Pemain yang turun ke lapangan pun terlihat malu. Pengaruh politik begitu kuat terasa.

Paling Memalukan

Lolos dalam situasi demikian, Timnas Chile merasakan beban saat tampil di turnamen utama. Mereka kurang bersemangat dan tersisih sejak fase grup akibat kalah dari tuan rumah Jerman Barat, serta hasil imbang melawan Jerman Timur dan Australia.

Diketahui ibu Carlos Caszely, kapten timnas ketika itu, merupakan salah satu tahanan tentara Pinochet. "Datang seseorang mengenakan mantel, kaca mata hitam, dan topi, dengan lima orang di belakangnya. Bulu kuduk saya bergidik melihatnya sosok seperti Hitler ini," katanya.

Hingga hari ini, situasi di Chile pada awal 1970-an menjadi salah satu momen terburuk di sejarah dunia yang berbuah terciptanya pertandingan memalukan dalam dunia olahraga. Masyarakat Chile harus hidup di bawah kekuasaan Pinochet hingga 1990 sebelum dia mengundurkan diri.

Chile pun dikenang karena berpartisipasi dalam salah satu pertandingan paling memalukan sepanjang sejarah sepak bola, hanya karena ulah satu orang.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Harley Ikhsan, Marco TampubolonTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan