Membandingkan 3 Playmaker Top Indonesia: Fakhri Husaini, Firman Utina, dan Evan Dimas

Berasal dari generasi yang berbeda-beda, ketiga playmaker terbaik yang pernah dimiliki Indonesia ini memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Apa saja?

Diterbitkan 21 Mei 2020, 10:55 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Jakarta - Timnas Indonesiatak pernah kehabisan bakat pemain sepak bola. Seperti halnya di posisi playmaker yang setiap generasinya memiliki jagoan masing-masing.

Playmaker merupakan posisi yang istimewa dalam sepak bola. Tak sembarangan pemain mampu memainkan peran ini di lapangan.

Pemain yang disebut playmaker identik dengan peran nomor 10. Sosok tersebut biasanya pintar mengatur tempo permainan, jeli membaca skema permainan lawan, hingga andal dalam menyodorkan umpan-umpan matang.

Wajar bila playmaker kerap disebut sebagai roh permainan tim. Melalui peran seorang playmaker, alur permainan bisa ditentukan dengan tempo cepat maupun lambat.

Sederet nama-nama playmaker ulung pernah ada di Timnas Indonesia. Sebut saja Ronny Pattinasarany, Ansyari Lubis, Fakhri Husaini, Firman Utina, dan Evan Dimas.

Bola.com secara khusus akan membahas tiga nama terakhir tersebut sebagai playmaker berkualitas yang ada di Timnas Indonesia. Seperti apa kekurangan dan kelebihan dari Fakhri Husaini, Firman Utina, dan Evan Dimas?

Fakhri Husaini

Fakhri Husaini bisa dipastikan sebagai playmaker terbaik yang pernah dimiliki Indonesia pada era 1990an. Predikat itu tak hanya disandang Fakhri bersama klub, melainkan juga Timnas Indonesia.

Semasa aktif bermain, Fakhri Husaini merupakan gelandang atraktif yang memiliki visi bermain jelas. Fakhri kerap menjadi motor serangan tim dan sesekali bisa diandalkan dalam mencetak gol.

Panggung utama Fakhri terjadi pada final SEA Games 1997 di Jakarta. Bersama Timnas Indonesia asuhan Henk Wullems, Timnas Indonesia mencapai partai puncak setelah Fakhri membantu mencetak gol ke gawang Singapura dalam kemenangan 2-1 di semifinal.

Namun, Fakhri gagal mempersembahkan medali emas bagi Indonesia.

Sementara itu, Fakhri tercatat belum mampu berprestasi di level klub. Dalam empat klub yang pernah dibelanya, yakni Bina Taruna, Lampung Putra, Petrokimia Putra, dan PKT Bontang tak ada trofi yang mampu diberikan Fakhri.

Fakhri memutuskan pensiun bersama PKT Bontang pada 2001. Kemudian pria asal Lhokseumawe itu melanjutkan karier sebagai pelatih mulai 2008.

Bicara soal Timnas Indonesia, Fakhri mencatatkan 42 penampilan dalam masa bakti 1986-1997. Pria yang kini berusia 54 tahun itu tercatat mencetak 13 gol.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Firman Utina dikenal sebagai pemain yang mampu mengatur irama permainan di Timnas Indonesia. Bermain sebagai gelandang, Firman mampu membantu serangan di lini depan dan juga membantu tim ketika bertahan. Pemain kelahiran 15 December 1981 itu kerap memberikan assist untuk gol yang dicetak Bambang Pamungkas dan Budi Sudarsono. Penampilan apiknya itu tak jarang menjadikannya sebagai Man of the Match. Firman Utina tercatat mengemas 66 penampilan dan mencetak lima gol dalam rentang 2001-2014. Pemain asal Manado itu juga tercatat pernah menjadi kapten Timnas Indonesia pada 2013-2014. Sayangnya, Firman Utina gagal memberikan prestasi terbaik di Timnas Indonesia. Pencapaian terbaiknya bersama Timnas Indonesia adalah runner-up Piala AFF 2010. Sementara itu, karier Firman Utina lebih mentereng di klub. Firman Utina tercatat pernah meraih tiga gelar liga bersama Sriwijaya FC (2011-2012), Persib Bandung (2014), dan Bhayangkara FC (2017). Selain itu, Firman Utina juga pernah mempersembahkan dua gelar Copa Indonesia edisi 2005 dan 2006 untuk Arema. Firman Utina juga pernah membantu Persib Bandung dalam merengkuh gelar Piala Presiden 2015.

Halaman
Show All
Zulfirdaus Harahap, Jonathan Pandapotan Purba, Benediktus Gerendo PradigdoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan