Indriyanto Nugroho, Penyerang Timnas Indonesia yang Dihargai Cuma Rp100

Indriyanto Nugroho punya julukan Mr. Cepek. Pasalnya nilai transfernya cuma Rp 100.

Diterbitkan 09 April 2020, 17:50 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Jakarta- Sosok mantan striker Timnas Indonesia, Indriyanto Nugroho pernah jadi sorotan pecinta publik sepak bola Tanah Air.

Kala itu, dua klub eks Galatama, Pelita Jaya dan Arseto Solo berebut untuk memakai jasanya pada Liga Indonesia 1996-1997. Meski tak ada ikatan kontrak resmi, Arseto mengklaim jadi klub asal Nunung, sapaan akrab Indriyanto. Alasannya, Nunung pernah terdaftar sebagai pemain Diklat Arseto.

Jebolan PSSI Primavera ini memang sempat pulang ke Solo, namun tak ada kepastian saat itu. Ia pun memutuskan menerima tawaran Pelita Jaya yang serius berminat memakai jasanya.

PSSI Primavera (Istimewa)

Alhasil sempat terjadi polemik di media massa dan berujung perdamaian di Sekretariat PSSI Senayan pada 29 Maret 1996. Pada pertemuan yang sempat berjalan panas itu, manajemen Arseto dan Pelita Jaya akhirnya menemui kesepakatan.

Arseto mau melepas Nunung dengan nilai transfer yang tak masuk akal yakni Rp100. Ini merupakan rekor transfer termurah dalam sejarah sepak bola modern sampai saat ini. Tak ayal, julukan Mr Cepek pun disandang Nunung.

Julukan ini membayangi karier Nunung sebagai pemain sampai memutuskan gantung sepatu pada 2013. Klub terakhir eks Timnas Indonesia jebolan PSSI Primavera itu adalah Persepam United (Madura).

Tak Terbebani dengan Julukan

Dalam berbagai kesempatan pertemuan dengan Bola.com, Nunung mengaku tak merasa terbebani dengan julukan itu. Baginya, kasus itu merupakan bagian dari perjalanan kariernya dan tak mungkin ditutupi.

"Saya tak terbebani. Malah, julukan itu membuat saya termotivasi untuk unjuk kemampuan di lapangan hijau bersama Pelita Jaya," ujar Nunung yang pernah masuk dalam skuat Timnas Indonesia di Piala Asia 1996.

Setelah tak lagi bersatus pemain, Nunung beralih menjadi pelatih. Ia memulai kariernya dari bawah dengan menangani pemain usia dini di SSB Kabomania Bogor pada 2014.

Bersama pemain muda binaannya, Nunung sempat menjadi bagian tim Kompas Gramedia berlaga di Gothia Cup Swedia 2015. Padaajang yang dikuti ratusan SSB dari 75 negara, tim asuhannya bertengger di peringkat 8 grup.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Pada 2018, Nunung jadi bagian dari tim Top Skor Indonesia meraih trofi juara kategori U-14. Berkat prestasinya itu, PSSI memberinya kesempatan menjadi asisten pelatih Timnas Indonesia U-16 mendampingi rekannya di PSSI Primavera, Bima Sakti.

Halaman
Show All
Liputan6.com, Thomas, Wiwig PrayugiTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan