Dalam Tubuh yang Sehat (Belum Tentu) Jiwanya Kuat

Atlet bisa saja berada di titik terendah dalam hidupnya justru saat kariernya tengah gemilang.

Diterbitkan 13 Februari 2020, 18:56 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Bunuh diri. Kita boleh bersyukur tidak pernah memikirkannya. Tapi tragedi ini sebenarnya bisa menimpa siapa saja, bahkan oleh mereka yang hidupnya jauh dari nestapa dan penuh dengan puja-puji.

Rachman Kili Kili bergerak lincah di lantai pendopo Rumah Susun Pulo Mas, yang kini sudah berganti apartemen mewah. Tato-tato yang terukir di badan mengilat terkena sinar matahari yang masuk lewat sisi yang tak berdinding.

Sesekali tinju dilepaskan ke ruang kosong sembari bergerak ke kiri dan ke kanan layaknya menghindari pukulan lawan.

Jab-stright, jab-straight... dia tiba-tiba menunduk lalu melepas upercut ke udara. Gerakannya lincah. Kakinya yang kurus seperti tengah berdansa di lantai.

Sepuluh tahun lalu shadow boxing rutin dilakukannya. Terkadang setiap pagi saat tengah mempersiapkan pertandingan.

Saat itu olahraga tinju sangat populer dan jadi primadona stasiun televisi. Rezeki pun mengalir sederas pukulan demi pukulan yang dilepaskan Rachman di atas ring.

Rachman lahir di Buton, Sulawesi Utara, 15 Oktober 1974. Lewat kepalan tangannya, Rachman sukses mengukir sejumlah prestasi yang melambungkan namanya di kacah tinju nasional.

Di ajang amatir, Rachman beberapa kali mewakili Indonesia di pentas internasional. Salah satunya Pra Olimpiade yang berlangsung di Uzbekistan pada tahun 1995. Setahun sebelumnya, dia mewakili Indonesia di Asian Games Jepang.

Saat terjun ke arena profesional, Rachman sangat diperhitungkan. Kemampuannya lengkap: bertenaga, akurat, bernyali, dan menghibur. Modal penting dalam dunia tinju profesional.

Rachman merupakan juara nasional kelas bantam versi Komisi Tinju Indonesia pada 1999. Dia juga juara nasional kelas bulu junior versi Asosiasi Tinju Indonesia (ATI) pada 2003. Tidak keliru bila banyak pengamat menilai Rachman layak diorbitkan ke kejuaraan dunia sebelum Chris John dan Muhammad Rachman mengharumkan nama Indonesia.

Namun di tengah karier yang cemerlang, Rachman memilih jalan yang kelam. Sejak tahun 2000, dia berteman dengan narkotik yang membuatnya justru semakin hilang arah.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Emosinya tidak terkendali. Tangannya semakin ringan menghunjam di luar ring. Akibatnya, dua kali dia masuk penjara karena menghajar polisi dan tetangga. Setelah pertandingan terakhir pada 3 Maret 2005 melawan Edy Kamaro di Balikpapan, Kalimantan, Rachman tampak semakin menyendiri. Badannya tidak lagi gagah. Kepalanya lebih banyak tertunduk. Rachman kemudian meninggalkan Jakarta dan tinggal bersama pamannya di Palembang, Sumatera Selatan. Namanya terus meredup. Kesendirian menenggelamkan pamornya sampai pada tahun 2007, Rachman ditemukan tewas gantung diri di kamarnya. Kematian Rachman mengejutkan publik. Tidak ada yang menyangka petinju berbakat itu memilih jalan pintas. Tubuhnya yang bugar dan kesempatan emas yang pernah ada di depan mata tidak otomatis membuat jiwanya kuat melawan. Rachman menyerah sebelum bel ronde terakhir dibunyikan oleh Sang Pencipta. Kematian Rachman sekaligus menambah panjang daftar atlet yang bunuh diri.

Halaman
Show All
Marco TampubolonTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan