Duel Timnas Indonesia Vs Malaysia Sudah Panas Sejak 1957

Timnas Indonesia bakal menjamu Malaysia di Kualifikasi Piala Dunia 2022. Kedua negara terlibat persaingan tensi tinggi yang sudah berlangsung puluhan tahun.

Diterbitkan 04 September 2019, 08:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Jakarta Timnas Indonesia menghadapi musuh bebuyutan Malaysia pada laga pembuka Grup G putaran kedua kualifikasi Piala Dunia 2022 zona Asia di Stadion Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Kamis (5/9/2019). Laga ini bakal menguras tenaga dan emosi karena rivalitas yang begitu tinggi antara kedua negara.

Timnas Indonesia dan Malaysia dikenal memiliki sejarah rivalitas panjang dalam dunia sepak bola. Bentrok antartim negara bertetangga itu selalu menyiratkan cerita menarik, dramatis, dan penuh kenangan.

Indonesia dengan Malaysia negara serumpun di kawasan Asia Tenggara. Keduanya memiliki ikatan kekerabatan amat kuat, sesama penganut budaya Melayu. Uniknya jika bicara sepak bola keduanya adalah rival abadi.

Pertandingan tim nasional antarakedua negara selalu berlangsung sengit. Baik Indonesia maupun Malaysia seakan ingin membuktikan siapa yang lebih baik.

Konflik panas politik antara keduanya di tahun 1960-an menular ke lapangan sepak bola. Kata-kata pedas "Ganyang Malaysia!" yang dilontarkan Presiden Republik Indonesia, Soekarno, dalam sebuah pidato politik di Jakarta seakan menjadi penyemangat bagi Tim Merah-Putih saat akan berhadapan dengan timnas Malaysia.

Duel yang melibatkan kedua negara, baik saat di Jakata atau Kuala Lumpur, selalu sesak dipenuhi penonton. Saat pertandingan berlangsung kerap mencuat insiden kontroversial.

Hal itu seakan mempertegas kalau bentrok sepak bola antara Indonesia dengan Malaysia bukan hanya semata olahraga, tapi pertaruhan harga diri bangsa.

"Setiap bertanding melawan Malaysia, selalu muncul semangat berlipat. Ibarat kata dengan tim lain Indonesia boleh kalah, namun tidak dengan Indonesia," ungkap Rully Nere bek Indonesia era 1980-an yang terlibat dalam duel panas final SEA Games 1987 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan.

Perasaan yang dirasakan Banur juga menurun hingga ke juniornya hingga saat ini.

"Pertandingan Timnas Indonesia versus Malaysia selalu terasa sentimentil karena persaingan puluhan tahun kedua negara. Kami dalam kondisi oke, dan siap memberikan yang maksimal untuk timnas. Mohon doa dan dukungannya agar kami raih hasil terbaik di ajang ini," tutur Hanif Sjahbandi, gelandang jangkar Timnas Indonesia dalam sebuah kesempatan.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Malaysia bukan lawan enteng bagi Tim Garuda Muda. Mereka kerap jadi momok menakutkan. Tengok saja kekalahan menyakitkan Timnas Indonesia U-23 di final SEA Games 2011 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan. Di hadapan publik sendiri, timnas yang kala itu dibesut Rahmad Darmawan digasak Tim Negeri Jiran lewat drama adu penalti dengan skor 4-3, setelah kedua tim bermain imbang 1-1 di waktu normal dan perpanjangan waktu. Roman-roman kekalahan timnas kita sebenarnya sudah terbaca di fase penyisihan. Andik Vermansah dkk. harus puas jadi runner-up Grup A setelah digasak Malaysia 1-0 pada partai penutup penyisihan. "Saya kalau ingin pertandingan tersebut masih sering nyesek. Atmosfer suporter di SUGBK amat luar biasa, kami bermain sangat bagus. Apesnya keberuntungan berpihak ke Timnas Malaysia," ungkap Andik Vermansah. "Maafkan saya masyarakat Indonesia karena tidak bisa maksimal saat adu penalti," imbuh Kurnia Meiga, yang jadi penjaga gawang Tim Garuda Muda saat itu. Kekalahan ini terasa menyesakkan karena setahun sebelumnya Timnas Indonesia level senior digagalkan menjadi jawara Piala AFF 2010 oleh Harimau Malaya. Pada duel leg pertama di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Bambang Pamungkas cs dibantai 0-3. Kemenangan 2-1 pada leg selanjutnya di SUGBK terasa tidak berarti karena kubu lawan tetap dinobatkan jadi tim terbaik. Pada Piala AFF 2012, gagal melakukan revans. Kedua tim sempat bersua di penyisihan Grup B yang dihelat di Stadion Shah Alam, Selangor, dan skor hasil pertandingan 2-0 untuk Tim Negeri Jiran. Kesempatan melakukan balas dendam didapat pada SEA Games edisi berikutnya tahun 2013 di Myanmar. Kedua tim bersua di babak knock-out semifinal. Baik Rahmad Darmawan maupun Ong Kim Swee masih menjadi pelatih di tim masing-masing. Secara dramatis Tim Merah-Putih mengalahkan Malaysia juga lewat drama adu penalti dengan skor 4-3, setelah sebelumnya kedua tim berbagi skor imbang 1-1. Kali ini Kurnia Meiga jadi pahlawan di pertandingan yang dihelat di Stadion Zayarthiri, Naypyidaw, pada 19 Desember 2013.Meiga mementahkan tendangan dua eksekutor terakhir Malaysia, A. Thamil Arasu serta Shahrul Mohd Saad. "Kami sempat tertatih-tatih di penyisihan namun akhirnya sukses bisa melaju ke final. Benar-benar luar biasa perjuangan anak-anak," ungkap Rahmad. Sayang, saat bersua Thailand di final, Indonesia gagal jadi terbaik, kalah 0-1 lewat gol tunggal Sarawut Masuk. Khusus di pentas SEA Games 2017, Indonesia dan Malaysia ada di grup berbeda. Kans kedua tim bersua di babak semifinal amat besar.   

Halaman
Show All
Ario Yosia, Defri SaefullahTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan