HEADLINE: Trofi Copa America 2019 Milik Tuan Rumah atau Sang Kuda Hitam?

Brasil dan Peru akan memperebutkan trofi Copa America 2019 dalam pertandingan partai puncak di Stadion Maracana, Minggu (7/7).

Diterbitkan 05 Juli 2019, 00:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Peru sukses menjungkirbalikkan ribuan prediksi. Di semifinal Copa America 2019, Kamis (4/7) pagi WIB, dengan perkasa mereka menghantam Chile 3-0 di Stadion Gremio Arena, Porto Alegre, Brasil.

Edison Flores dan Victor Yotun membuat dua gol untuk Peru di babak pertama. Sementara di ujung pertandingan, Paolo Guerrero jadi pembungkus kemenangan bersejarah tim berjulukan La Blanquirroja alias The White and Red itu.

Padahal, awalnya, begitu banyak pengamat bersuara seragam menjagokan Chile. Ini tentu tak lepas dari materi pemain milik tim asuhan Reinaldo Rueda, yang jauh lebih baik lantaran rata-rata merumput di liga-liga Eropa.

Selain itu, langkah Peru sebelum ke semifinal juga jauh dari sempurna. Di fase grup Copa America 2019, Peru hanya menang sekali, kebobolan enam gol dan memasukkan tiga gol.

Mereka lolos ke perempat final pun dengan status peringkat ketiga terbaik. Di babak perempat final, Peru menang atas Uruguay juga melaui adu tendangan penalti. Dalam waktu 2 x 45 menit, plus babak extra time, kedua tim bermain imbang 0-0.

Tapi, ya itu tadi. Di Gremio Arena di laga semifinal Copa America 2019, Peru tiba-tiba menjadi tim yang menakutkan. Mereka seperti berubah menjadi raksasa yang begitu mudah menghujani gawang kiper Chile, Gabriel Arias dengan gol demi gol.

 

Soal performa buruk sebelum semifinal itu, diakui sang pelatih Ricardo Gareca. Namun, kata Gareca, fakta itu justru membuat mereka banyak belajar, terutama saat dilumat 0-5 oleh tuan rumah Brasil, yang juga akan jadi lawan Peru di final.

"Kami pantas berada di final!" ujar Gareca, soal keberadaan pasukannya di partai puncak Copa America 2019. "Kami telah melalui momen-momen buruk sebelumnya, kini kami telah mampu melewatinya. Kekalahan telak dari Brasil membuat kami instrospeksi diri. Begitu banyak kritik dan hujatan kami terima."

 

 

Butuh 44 Tahun

Peru memang layak untuk terus antusias, optimistis, meski lawan mereka di final nanti adalah tuan rumah, yang sudah terbukti mampu meremukkan mereka.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Pasalnya, ini pertama kalinya sejak 1975, Peru kembali bisa merasakan atmosfer laga puncak ajang sepak bola paling akbar seantero Amerika Latin ini. Artinya, Peru butuh 44 tahun kembali ke orbit paling elite sepak bola Amerika Latin. Dulu, sekitar 40 tahun lalu, Peru memang sempat punya nama besar di Amerika Latin. Setidaknya, dua kali mereka jadi juara di ajang yang dulunya bernama South American Championship, pada 1939 dan 1975. Tapi, setelah itu, sepak bola Peru memang mengalami kemunduran drastis. Mereka baru kembali bangkit di pertengahan era 2000-an. Itu pun mereka tak sampai jadi juara Copa America. Paling bagus, prestasi mereka adalah melangkah ke semifinal, termasuk di dua edisi berturut-turut di tahun 2011 dan 2015. Maka itu, pencapaian Peru di Brasil ini bisa dibilang merupakan sejarah baru di negara pemilik bangunan bersejarah Machu Picchu ini.

Halaman
Show All
Edu Krisnadefa, Irna GustiawatiTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan