6 Pesepak Bola Dunia yang Bangkit dari Kemiskinan

Pesepak bola dunia ini dulunya miskin, tapi hidup mereka berubah usai menjadi pesepak bola top.

Diterbitkan 12 Januari 2017, 10:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Roda kehidupan akan berputar. Peribahasa itu tampaknya bisa disematkan kepada para pesepak bola dunia yang merangkak dari kehidupan yang miskin. Mereka yang awalnya miskin, kini punya kehidupan yang berbalik 180 derajat.

Sepak bola memang merupakan surga tersendiri yang diciptakan dunia. Permainan si kulit bundar tersebut sangat digemari oleh seluruh masyarakat dunia.

Maka itu, sepak bola sudah beralih menjadi sebuah industri. Imbasnya tentu saja, membawa kabar bahagia bagi mereka, pemain berbakat. Mereka yang meskipun hidup miskin sebelum jadi pesepak bola, hidupnya berubah saat bergabung klub-klub besar karena mendapatkan gaji besar.

Hal itu tampaknya yang dirasakan enam pemain di bawah ini. Mereka awalnya berasal dari keluarga yang sulit, lalu sekarang punya segalanya.

Siapa saja mereka? Berikut rinciannya seperti dirangkum dari berbagai sumber:

Luca Modric

Bintang Real Madrid, Luka Modric secara luas dianggap sebagai salah satu gelandang terbaik di sepak bola Eropa. Pemain asal Kroasia itu tumbuh di zona perang.

Ketika perang Kroasia dimulai kembali pada tahun 1991, Modric baru berusia lima tahun. Itu adalah waktu yang mendebarkan untuk setiap masyarakat Kroasia. Apalagi Modric yang ayahnya gugur dalam perang tersebut.
Luka Modric
Modric menghabiskan seluruh bulan di kamp-kamp pengungsi, dikelilingi oleh tekanan militer dan granat. Luka Modric terus bermain sepak bola di kamp-kamp dan hotel di sekitarnya, meskipun dalam keadaan suram.

Sebelum takdir mempertemukan Modric pada dengan Tomislav Basic, kepala tim muda Zadar, saat usianya menginjak 10 tahun. Basic-lah yang membawanya bergabung dengan Dinako Zagreb pada 2003 silam dan mengubah hidup sang pemain.

Yaya Toure

Siapa sangka, gelandang manchester City memiliki masa kecil yang suram. Dia berjuang sendirian dan bahkan bermain sepak bola tanpa beralaskan sepatu.

Sebelum usia 10 tahun, Yaya Toure sudah memiliki sepatu sepakbola sendiri setelah sebelumnya hanya menendang bola tanpa sepatu selama bertahun-tahun di jalanan tempat tinggalnya.
Yaya Toure (AFP/Anthony Devlin)
Pantai Gading dahulu merupakan negara yang miskin. Namun, itu tak menghentikan niatnya menjadi seorang pesepak bola. Dia menjemput mimpi dengan bergabung bersama klub Mimosas ASEC.

Namanya mulai tenar dan kehidupannya berubah setelah bergabung bersama klub Belgia, Beveren. Hingga sekarang, Yaya bisa jadi pemain yang paling berharga dan bermain di klub sekaya, Manchester City.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Alexis Sanchez melewati masa kecil yang serba kekurangan. Di Chile sana, dia merupakan tulang punggung keluarganya sejak kecil.Sang ibu yang bekerja sebagai petugas kebersihan memaksa Sanchez berjuang mengubah nasib. Suatu waktu dia pernah berkata, “Ketika ibu sedang membersihkan lingkungan di sekolah, saya bersembunyi karena saya tidak ingin melihat ibu di sana."Pemain Arsenal ini juga pernah menjadi buruh cuci mobil. Tapi, hal itulah yang membawanya terjun ke dunia sepak bola.Ya, Sanchez diizinkan untuk tetap bermain bola di sela-sela mencuci mobil Darisanalah kehidupan sang pemain terwujud hingga mimpi terbang ke Eropa untuk bergabung bersama Udinese dan puncaknya direkrut Barcelona serta Arsenal menjadi kenyataan.

Halaman
Show All
Defri SaefullahTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan