5 Pemain Cadangan yang Akan Selalu Dikenang

Solskjaer jadi pahlawan MU, Krul bintang adu penalti Belanda.

Diterbitkan 13 Februari 2016, 16:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Fernando Torres

3. Fernando Torres (Chelsea), Semifinal Liga Champions 2011/12
Fernando Torres memang disebut-sebut sebagai rekrutan gagal saat membela  Chelsea (2010-2014). Namun, ada satu laga penting, saat namanya dipuja suporter  setinggi langit.

Di semifinal kedua Liga Champions di kandang sendiri, Chelsea tertinggal  1-2 dari Barcelona, di babak pertama. Tambahan lagi,  Chelsea harus bermain dengan 10 pemain karena bek John Terry mendapat  kartu merah di menit ke-37.

Ketika itu, jika Barcelona berhasil menambah satu gol, dipastikan mereka  yang lolos ke final. Itu karena di laga pertama Chelsea hanya menang 1-0 di  kandang Barcelona.

Untung pelatih Roberto Di Matteo cermat. Pada menit ke-80,  dia memasukkan  Torres menggantikan Didier Drogba. Tujuannya, tentu agar Chelsea bisa  mencetak gol dan mengamankan langkah mereka ke final.

Torres membayar kepercayaan yang diberikan sang pelatih. Pada masa injury  time, dia merobek gawang Barcelona dan membawa Chelsea ke final.

Chelsea akhirnya juara usai di final mengalahkan Bayern Muenchen lewat adu  tendangan penalti. Torres kembali jadi pengganti. Namun, dia tak bisa  berbuat banyak. Bahkan, namanya tak masuk dalam daftar eksekutor adu  penalti.

Dietmar Hamman

2. Dietmar Hamann (Liverpool), Final Liga Champions 2004/05
Kiprah Dietmar Hamann di Liverpool (1999-2006) sepertinya banyak dilupakan  orang. Sosoknya selalu berada di bawah bayang-bayang sang kapten,  sekaligus gelandang andalan, Steven Gerrard.

Namun, pada final Liga Champions 2004/05 lawan AC Milan, Hamann tampil  sebagai salah satu pahlawan Liverpool. Hebatnya lagi, di laga itu dia  tampil sebagai pemain pengganti.

Liverpool dalam posisi tertinggal 0-3 saat Hamman dimasukkan menggantikan  Steve Finnan pada menit ke-46. Hadirnya Hamman ternyata membuat permainan  Liverpool berubah.

The Reds akhirnya berhasil menyamakan kedudukan lewat gol-gol dari  Vladimir Smicer, Gerrard, dan Xabi Alonso. Liverpool akhir tampil sebagai  juara setelah mengakhiri laga dengan adu tendangan penalti. Dalam adu  penalti, Hamman menjalankan tugas dengan baik sebagai eksekutor pertama.

Ole Gunnar Solskjaer

1. Ole Gunnar Solksjaer (MU), Final Liga Champions 1998/99
Manchester United (MU) mendapat lawan berat, Bayern Muenchen di final Liga  Champions 1998/99. Sejak awal, memang banyak orang yang lebih menjagokan  klub raksasa Jerman itu.

Benar saja, laga baru berlangsung enam menit, Muenchen sudah unggul lewat  Mario Basler. Untung, selanjutnya, MU mampu menahan Muenchen tidak membuat  gol lagi.

Sebaliknya, pelatih MU, Alex Ferguson, membuat strategi jitu lewat  pergantian pemain. Di babak kedua, dia memasukkan Teddy Sheringham dan Ole  Gunnar Solksjaer menggantikan Jesper Bolmqvist dan Andy Cole di menit ke- 67 dan 81.

Strategi Ferguson berjalan mulus karena kedua pemain berhasil membuat MU  bangkit. Akhirnya, Sheringham dan Solskjaer berhasil membalikkan keadaan  dan membuat MU menutup laga dengan kemenangan.

Dramatisnya, dua gol tersebut dicetak Sheringham dan Solskjaer pada masa  injury time, menit ke-91 dan 93. MU pun berpesta meriah karena itu gelar  Eropa mereka yang pertama sejak 1967/68.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Edu Krisnadefa, Marco TampubolonTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan