Menaker Dorong KEK Jadi Mesin Pencetak SDM Unggul Indonesia

Kemenaker siapkan ekosistem terintegrasi di KEK untuk cetak tenaga kerja kompeten sesuai kebutuhan industri.

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mendorong Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) untuk bertransformasi menjadi pusat pengembangan talenta nasional guna memenuhi kebutuhan tenaga kerja di sektor industri. 

Pemerintah menawarkan program pemagangan nasional serta pelatihan vokasi kepada para pengelola KEK. Langkah ini disiapkan agar arus investasi yang masuk ke kawasan tersebut tidak hanya membuka banyak lapangan kerja baru, tetapi juga meningkatkan keterampilan para pekerja lokal. 

"Kami berharap KEK akan menjadi salah satu ujung tombak dalam pertumbuhan ekonomi dan sekaligus untuk perekrutan tenaga kerja yang lebih luas," ujar Yassierli saat konferensi pers Rakernas KEK Triwulan III 2026 di Gedung A.A.Maramis, Jakarta, Rabu (21/10/2026).

Yassierli menjelaskan bahwa pemerintah berkomitmen membangun ekosistem terintegrasi di dalam KEK. Ekosistem ini akan menghubungkan sektor industri, lembaga pendidikan, pusat pelatihan vokasi, peserta magang, hingga pelaku UMKM secara langsung. Sinergi ini diharapkan mampu mencetak tenaga kerja dengan keterampilan teruji yang selaras dengan kebutuhan industri.

"Jadi, KEK ini akan menjadi talent engine untuk SDM unggul masa depan Indonesia," tegas Yassierli.

Kementerian Ketenagakerjaan turut mendorong para pengelola KEK untuk mengoptimalkan program pemagangan nasional dan pelatihan vokasi. Melalui program ini, para peserta bisa mendapatkan keterampilan spesifik, sertifikasi resmi, hingga pengalaman kerja langsung di dunia industri.

Pemerintah optimistis kolaborasi erat ini mampu memperkuat ketersediaan tenaga kerja yang kompeten sekaligus mendongkrak kontribusi KEK terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Airlangga Sebut Luas KEK RI Kalah Jauh dari Vietnam & Malaysia

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menilai pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Indonesia masih memiliki ruang pertumbuhan yang sangat luas. Jika dibandingkan dengan Vietnam dan Malaysia, skala kawasan ekonomi di tanah air masih tertinggal jauh. 

Saat ini, Indonesia memiliki 25 KEK dengan realisasi investasi kumulatif mencapai Rp 382,1 triliun. Luas total KEK di Indonesia baru sekitar 24 ribu hektare. Angka tersebut masih jauh dari Malaysia dan Vietnam yang luas kawasan ekonominya sudah menembus 1,8 juta hingga 2 juta hektare.

"Beberapa negara seperti Vietnam dan Malaysia mengandalkan KEK, mereka luasnya 1,8 sampai 2 juta, sementara di Indonesia masih sekitar 24 ribu, jadi masih punya ruang yang cukup luas untuk pengembangan kawasan ekonomi khusus," ujar Airlangga dalam konferensi pers Rakernas KEK Triwulan III 2026 di Jakarta, Rabu (21/10/2026).

Airlangga menyebutkan bahwa 25 KEK yang ada saat ini telah menyerap hingga 302 ribu tenaga kerja. Oleh karena itu, pemerintah terus mendorong perluasan kawasan ini demi mendongkrak investasi, membuka lebih banyak lapangan kerja,serta mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6