Lima Hari di ISEF 2026: Cerita dari Festival yang Mengajak Ekonomi Syariah Naik Kelas

Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 sediakan wadah bagi masyarakat untuk mengembangkan wirausaha syariah dan bertukar gagasan bisnis.

Liputan6.com, Jakarta - Bagi 93.000 orang yang datang, ISEF 2026 bukan sekadar pameran. Selama lima hari, festival ini terasa seperti perjalanan: dimulai dari menata fondasi, lalu bertemu banyak orang, hingga ditutup dengan perayaan bersama. Bank Indonesia menyebut angka itu tercatat sampai Minggu (18/10/2026) malam dan belum menghitung hari terakhir.

Di panggung penutupan, Deputi Gubernur Bank Indonesia Solikin M Juhro mengajak hadirin menengok kembali lima hari tersebut.

"Perjalanan kisah lima hari ini seperti tadi disampaikan di dalam wrap-up dari video," kata Solikin dalam penutupan ISEF di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta, Minggu (18/10/2026).

Menata Rumah Bersama

 

 

 

Cerita dimulai dari building ecosystem. Panitia mengajak pelaku usaha memperkuat fondasi ekosistem halal food dan menumbuhkan semangat kewirausahaan syariah. Para peserta juga berbagi gagasan dalam forum bisnis, forum pesantren, hingga forum sinergi pusat dan daerah.

Solikin menjelaskan bahwa semua itu bagian dari mimpi lebih besar. Pemerintah sudah memasukkan ekonomi syariah ke dalam RPJPN 2045, RPJMN 2025-2029, serta rencana pembangunan daerah.

"Ekonomi dan keuangan syariah merupakan pilar dari strategi nasional untuk membangun kesejahteraan Indonesia yang naik kelas," ujarnya

Saatnya Berkenalan dan Bertransaksi

Memasuki pertengahan festival, suasana bergeser ke dunia industri halal. Pengunjung mengenal pariwisata ramah muslim, sementara komunitas perempuan mendapat panggung pemberdayaan. Generasi muda ikut diajak terlibat karena panitia menganggap mereka penentu masa depan.

Di sisi lain, para pelaku usaha mulai membuka akses pembiayaan dan perdagangan lewat business deals. Hasilnya cukup menggembirakan. Nilai transaksi mencapai Rp 13,8 miliar, sedangkan business matching menembus Rp 3,2 triliun.

Solikin mengaku bangga dengan peningkatan itu dan menyampaikan apresiasi kepada semua pihak.

"Kita berikan applause dan apresiasi kepada semuanya yang telah berkontribusi di dalam kesuksesan event ini," tuturnya.

Merayakan Gerakan

Pada hari terakhir, panitia mengusung tema celebrating the movement. Solikin menegaskan bahwa yang dirayakan bukan hanya keberhasilan acara, melainkan gerakan bersama membawa ekonomi syariah ke tahap lebih maju.

Namun ia tak ingin pesta berhenti pada angka. Menurut dia, ukuran keberhasilan ada pada manfaat yang sampai ke masyarakat.

"Kita pastikan tidak ada komunitas, tidak ada kelompok yang tertinggal di belakang. Inilah hakikat dari kesejahteraan inklusif," kata Solikin.

Ia mencontohkan, pembiayaan syariah harus terhubung dengan aktivitas produktif. Keuangan sosial syariah juga perlu menopang pemberdayaan jangka panjang. Dengan begitu, UMKM berkembang dan lapangan kerja terbuka.

Pulang dengan Satu Pesan: Berjamaah

Sebelum menutup acara, Solikin menyampaikan satu pesan sederhana. Ekonomi syariah tidak bisa berjalan sendiri, sehingga pemerintah, otoritas keuangan, pelaku usaha, pesantren, akademisi, dan masyarakat harus bergerak bersama.

"Ekonomi keuangan syariah pada dasarnya adalah ekonomi keuangan berjamaah," ucapnya.

Ia lalu mengucapkan terima kasih kepada KNEKS, kementerian dan lembaga, OJK, BPKH, serta para santri yang ikut menyukseskan acara. Baginya, ISEF bukan garis akhir.

"Mari kita jadikan ISEF bukan sebagai titik akhir, melainkan sebagai pijakan untuk melangkah lebih jauh," ujar Solikin.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6