Ekonomi Inggris Tumbuh 0,1% pada Agustus 2026, Lampaui Ramalan

Inggris, yang merupakan negara pengimpor energi bersih, saat ini tengah menghadapi krisis biaya hidup

Diterbitkan 15 Oktober 2026, 16:16 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Perekonomian Inggris tumbuh sebesar 0,1% pada Agustus 2026. Capaian ini melampaui perkiraan, dengan pertumbuhan sektor produksi mengimbangi lemahnya kinerja sektor jasa dan konstruksi.

Para ekonom yang disurvei sebelumnya memperkirakan produk domestik bruto (PDB) Inggris akan menyusut 0,1% pada periode Juli hingga Agustus. Namun, angka tersebut tetap menunjukkan perlambatan laju pertumbuhan ekonomi Inggris, yang tumbuh sebesar 0,4% secara bulanan pada Juni dan Juli.

 

 

Melansir CNBC, Kamis (5/10/2026), Kantor Statistik Nasional Inggris (Office for National Statistics/ONS) menyatakan sektor produksi tumbuh sebesar 0,8%. Sementara itu, sektor jasa tidak mencatatkan pertumbuhan, sedangkan sektor konstruksi menyusut 0,2% pada Agustus.

Secara tahunan, produk domestik bruto (PDB) Inggris tumbuh sebesar 2,1% pada Agustus, melampaui ekspektasi para ekonom sebesar 1,7%. ONS menyebut angka tersebut sebagai pertumbuhan PDB tahunan tertinggi sejak Agustus 2022.

Pound sterling menguat 0,4% terhadap Dolar AS setelah data tersebut dirilis. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah Inggris, yang dikenal sebagai gilts, turun di berbagai tenor. Imbal hasil obligasi acuan pemerintah Inggris bertenor 10 tahun terakhir tercatat turun 9 basis poin menjadi 5,3364%.

Inggris, yang merupakan negara pengimpor energi bersih, saat ini tengah menghadapi krisis biaya hidup yang dipicu oleh inflasi yang sulit mereda dan lonjakan biaya energi setelah perang Rusia-Ukraina dan perang Iran.

Pemerintah Inggris akan mengumumkan anggaran musim gugur (Autumn Budget) yang menjadi sorotan pada akhir bulan ini.

Pemerintah dituntut untuk tetap mematuhi aturan fiskal yang ditetapkan pemerintahan sebelumnya, yang bertujuan mengendalikan utang publik, sekaligus memenuhi janji untuk meringankan beban masyarakat akibat lonjakan biaya hidup.

 

Kekuatan Ekonomi Inggris

Para analis mengatakan perlambatan ekonomi semakin menambah tekanan yang dihadapi Menteri Keuangan Inggris John Healey menjelang penyampaian anggaran pertamanya pada 28 Oktober.

Joe Nellis, Kepala Riset Ekonomi Firma Akuntansi MHA, menilai mengataka bahwa perlambatan ekonomi akan mengurangi fiscal headroom atau ruang fiskal Healey, yakni keleluasaan pemerintah untuk meningkatkan belanja atau memangkas pajak.

“Meski pertumbuhan ekonomi yang berlanjut seharusnya memberikan dukungan terhadap penerimaan pajak, perekonomian masih rapuh. Kenaikan biaya bunga utang telah sangat membatasi ruang fiskal, sementara biaya pinjaman pemerintah jangka panjang tetap berada pada level yang sangat tinggi,” ujarnya.

Ia menambahkan, setiap keputusan untuk menaikkan pajak demi menyeimbangkan anggaran “mengandung risiko yang cukup besar” karena dapat melemahkan belanja konsumen, menggerus kepercayaan, dan menghambat investasi perusahaan.

Namun, di sisi lain, Nellis mengatakan komitmen belanja besar tanpa sumber pendanaan yang jelas dapat mengusik pasar keuangan dan mendorong biaya pinjaman pemerintah semakin tinggi.

Scott Gardner, Ahli Strategi Investasi di J.P. Morgan Personal Investing, mengatakan setelah rilis data ONS, prospek ekonomi untuk sisa tahun ini masih tidak pasti, dengan tantangan berat berupa anggaran musim gugur yang akan datang.

Ini terjadi meskipun pertumbuhan ekonomi yang berlanjut di tengah tantangan global merupakan perkembangan positif.

“Belum jelas berapa banyak ruang fiskal yang tersisa, mengingat biaya pembayaran utang Inggris meningkat selama setahun terakhir. Banyak pihak akan menanti dengan cemas pengumuman yang akan disampaikan Menteri Keuangan,” ujarnya.

Sementara itu, Sanjay Raja, Kepala Ekonom Inggris di Deutsche Bank, menyampaikan pandangan yang lebih optimistis.

“Sejauh ini, kami belum melihat perubahan arah kebijakan yang drastis, tetapi ada tanda-tanda bahwa mesin perekonomian Inggris mulai melambat setelah tumbuh sangat pesat pada paruh pertama tahun ini,” ujarnya.

Dia mencatat bahwa sektor jasa yang berorientasi pada konsumen, konstruksi, dan teknologi informasi (TI) sama-sama mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6