Jangan Pakai Emosi, Ini Tips Elegan Minta Pembagian Beban Kerja yang Adil ke Bos

Merasa pembagian tugas kantor tidak adil? Pakar karier membagikan tips melaporkan ketimpangan beban kerja ke atasan secara profesional tanpa terkesan mengeluh.

Liputan6.com, Jakarta - Pembagian beban kerja di tempat kerja terkadang terasa tidak adil. Meski begitu, isu ketimpangan ini harus disampaikan secara profesional kepada atasan. Menyuarakan masalah beban tugas pada dasarnya berbeda dengan mengeluh, tergantung pada cara penyampaiannya.

Managing Director firma perekrutan eksekutif The Edge Partnership, Koh, menyarankan agar karyawan membicarakan masalah ini dalam kondisi emosi yang stabil.

"Suarakan isu ini saat merasa tenang dibanding saat frustrasi. Jika disampaikan selagi emosi sedang tinggi, hal itu akan terdengar seperti keluhan terhadap seseorang, bukan kekhawatiran nyata tentang pekerjaan," ujar Koh melansir The Straits Times, Kamis (15/10/2026).

Sebelum menghadap manajer, karyawan disarankan menyiapkan bukti spesifik. Bukti tersebut mencakup rincian tugas yang telah diselesaikan, tenggat waktu (deadline) yang dikejar, hingga momen ketika tanggung jawab rekan kerja dilimpahkan kepada mereka.

"Hindari pernyataan mutlak seperti 'Saya selalu mengerjakan pekerjaan mereka', kecuali hal itu memang bisa dibuktikan," tegas Koh.

Ia menambahkan, fokus percakapan sebaiknya diarahkan pada dampak ketimpangan tugas terhadap kinerja tim. Jika ucapan terdengar menyudutkan rekan kerja, percakapan akan bergeser ke ranah personal sehingga inti masalah justru tidak tersampaikan.

Koh mengingatkan bahwa karyawan mungkin tidak mengetahui kondisi riwayat kerja atau latar belakang penuh dari rekan sejawatnya. Tugas karyawan sebatas menyoroti isu dan dampaknya, sementara penanganan performa staf merupakan wewenang penuh manajer.

"Yang terpenting, mulailah percakapan untuk mencari solusi. Tanyakan apakah tanggung jawab dapat diperjelas, beban kerja dibagi ulang, atau prioritas disesuaikan kembali," tuturnya.

 

Fokus pada Pola yang Memengaruhi Alur Kerja

Sementara itu, Managing Partner Workplace Asia, Tan Weixi, menilai kesalahan terbesar karyawan saat melaporkan masalah ini adalah berfokus pada penilaian apakah rekan kerjanya bekerja secara adil atau tidak.

"Pendekatan itu adalah bentuk penilaian personal. Hal ini menempatkan atasan di posisi serba salah karena harus menengahi dua karyawan," jelas Tan.

Tan mengimbau karyawan untuk tidak menghitung setiap detail kesalahan kecil, melainkan berfokus pada pola berulang yang menghambat alur kerja secara keseluruhan.

Jika memungkinkan, karyawan dapat berkomunikasi secara pribadi terlebih dahulu dengan rekan terkait untuk memahami situasi yang mungkin tengah dihadapi.

"Jangan jadikan atasan sebagai penilai kepribadian rekan kerja. Sampaikan masalah operasional di tempat kerja, lalu jelaskan secara tegas bantuan atau solusi yang dibutuhkan dari atasan," pungkas Tan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6