Pekerja Keahlian Khusus Makin Diburu di AS, Ada 1,7 Juta Lowongan Kerja

Meskipun sangat dibutuhkan, minat dan ketersediaan tenaga kerja keahlian khusus menipis.

Diterbitkan 08 Oktober 2026, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Permintaan pekerja keahlian khusus di Amerika Serikat (AS) sedang memuncak, ilmuwan berkata akan terus ada lapangan kerja di industri pada dekade berikutnya. Laporan The State of America’s Skilled Trades yang dirilis Rabu lalu menunjukkan 1,7 juta pekerjaan keahlian khusus akan dibuka tiap tahun hingga 2035.

Jobs for the Future dan The Burning Glass Institute, dua lembaga nirlaba yang berfokus pada perluasan peluang ekonomi bagi masyarakat Amerika, merupakan dua lembaga peneliti utama dalam laporan ini.

Melansir CNBC Make It, Kamis (8/10/2026) ilmuwan memprediksi terbuka lebih dari 600.000 lapangan kerja bersih untuk keahlian khusus hingga akhir 2035. Teknisi listrik, tukang ledeng, petugas pemeliharaan, dan tukang kayu merupakan beberapa di antara pekerjaan yang sangat diminati, yang menurut para peneliti sulit diisi oleh industri ini.

Permintaan infrastruktur di AS adalah penyokong utama lapangan pekerjaan keahlian khusus. Presiden Burning Glass Institute Matt Sigelman mengatakan kepada CNBC Make It proyek infrastruktur besar seperti data center AI dan pembangunan daerah berkembang menstimulasi pertumbuhan lapangan kerja.

Jadi, meski angka pengangguran keseluruhan pada September 2026 naik ke 4,2% dan jumlah tenaga kerja di luar sektor pertanian meningkat di bawah perkiraan menurut data dari Biro Statistik Tenaga Kerja AS, peluang kerja di bidang keahlian khusus terus muncul.

Pekerja Pensiun Harus Diganti dalam Waktu yang Cepat

Namun, penciptaan lapangan kerja bersih tidak memperhitungkan kebutuhan mengganti pekerja yang pensiun, ujar Sigelman.

Hampir seperempat pekerja berketerampilan khusus di 124 jabatan yang tercantum dalam laporan ini berusia 55 tahun ke atas, sementara pekerja berusia di bawah 25 tahun hanya mencakup 11% dari pekerja. Di pasar tenaga kerja secara umum, tingkat partisipasi angkatan kerja bagi mereka yang berusia 55 tahun ke atas terus menurun sejak tahun 2024.

Sigelman menyoroti kebutuhan untuk mengganti pekerja dalam waktu yang dekat.

"Satu dari 12 pekerjaan keterampilan khusus harus diganti dalam lima tahun ke depan," ujar Sigelman tentang proyeksi perubahan dalam tenaga kerja keterampilan khusus.

Dia membandingkan pemenuhan posisi kerja ini dengan berlari di tempat, karena industri kesulitan untuk mengisi pekerjaan baru dan mengganti yang pensiun.

Stigma Membayangi Pekerjaan Keterampilan Khusus

Meskipun banyak peluang yang tersedia, pekerja keterampilan khusus masih menghadapi stigma. Sebuah riset oleh Ad Council Research Institute yang dirilis Rabu menemukan hanya 33% siswa mengatakan mereka akan merasa dihormati orang jika bekerja dalam bidang tersebut, dibanding 50% jika bekerja dalam bidang kesehatan.

Selain itu, hanya 9% remaja yang mempertimbangkan bidang ini sebagai karier mereka setelah lulus, dengan kuliah yang tetap menjadi jalur paling populer, yakni 56%. Di saat yang sama, 71% remaja mengatakan mereka akan bangga masuk ke sekolah kejuruan, dan 81% orang tua mengatakan mereka bangga jika anak remajanya menjalani karier bidang tersebut.

Sigelman menuturkan, masyarakat sering melakukan generalisasi pekerjaan keahlian, yang justru mengaburkan 124 jalur karier yang tersedia di bidang ini.

Meskipun beberapa profesi keahlian khusus menawarkan gaji di bawah gaji awal rata-rata lulusan perguruan tinggi baru, atau US$ 56.153, atau sekitar Rp 1 miliar (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.892), banyak profesi keahlian lainnya menawarkan gaji di atas angka rata-rata tersebut, menurut data terbaru yang tersedia dari Sistem Pencarian Statistik Ketenagakerjaan dan Upah (OESWS) Biro Tenaga Kerja.

Di sisi atas, upah median tahunan untuk pemasang dan teknisi perbaikan lift dan eskalator mencapai US$ 109.910 (Rp 1,96 miliar). Operator reaktor tenaga nuklir juga meraih gaji enam digit, dengan gaji median tahunan sebesar US$ 122.890 (Rp 2,19 miliar).

Faktor-faktor Struktural Lainnya

Bahkan ketika pekerja muda memilih untuk terjun ke bidang keahlian teknis, industri ini masih menghadapi tingkat kelulusan yang rendah dari program pendidikan pasca-sekolah menengah atau program magang terdaftar. Menurut laporan State of Skilled Trades, kurang dari setengah dari mereka yang memulai karier melalui salah satu jalur tersebut berhasil menyelesaikan programnya.

Persentase mereka yang masih berkecimpung di bidang keahlian teknis lima tahun setelah menyelesaikan program magang atau pendidikan pasca-sekolah menengah masing-masing turun menjadi 29% dan 34%.

Tingkat pergantian tenaga kerja sering kali merupakan gejala dari tantangan struktural yang lebih besar, beberapa di antaranya merupakan bagian tak terpisahkan dari pekerjaan keahlian teknis, seperti yang tercantum dalam laporan State of Skilled Trades.

Bagi tukang kayu, keterlambatan dan kondisi cuaca yang buruk dapat mengganggu jam kerja yang dibutuhkan para peserta magang untuk menyelesaikan program mereka, sehingga sebagian di antaranya memutuskan untuk berhenti.

Calon tukang ledeng, misalnya, dihadapkan pada berbagai persyaratan perizinan yang dapat bervariasi bahkan di dalam satu negara bagian, sehingga mempersulit mereka untuk bekerja melintasi batas negara bagian dan bahkan batas kabupaten.

“Ini seperti pipa yang sangat bocor, dan kita perlu mencari cara agar bisa lebih baik dalam mempertahankan orang-orang yang baru masuk ke bidang ini, bahkan sebelum kita berusaha meningkatkan minat mereka," Sigelman menambahkan.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6