Sukses

10 Orang Miskin yang Jadi Miliarder Super Tajir (I)

Banyak orang mengungkapkan, para konglomerat terlahir untuk terus bertambah kaya. Namun lahir dari keluarga miliarder tak menjadi satu-satunya cara untuk sukses dan meraup banyak harta.

Seperti dikutip dari Business Insider, Kamis (2/1/2014), beberapa orang kaya di dunia justru lahir dari keluarga super miskin. Berawal dari sulitnya hidup di tengah jeratan kemiskinan ternyata dapat menjadi motivasi khusus bagi sebagian orang.

Berbekal kegigihan dan sikap pantang menyerah, sejumlah pekerja keras berhasil mengubah kehidupannya dan menjadi yang teratas dalam bisnisnya. Bahkan sebagian darinya sukses mencatatkan namanya sebagai salah satu orang terkaya di dunia.

Meski yang kaya semakin kaya, ternyata si miskin pun mampu menjadi konglomerat. Sebut saja pendiri Oracle, Larry Ellison yang pernah bekerja serabutan selama 8 tahun dan akhirnya sukses menciptakan perusahaan teknologi terbesar di dunia.

Lengkapnya, berikut 5 dari 10 miliarder yang lahir di tengah jeratan kemiskinan:




1. Larry Ellison

Jumlah kekayaan: US$ 41 miliar atau Rp 498,6 triliun (kurs: Rp 12.163 per dolar AS)

Lahir di Brooklyn, New York tanpa ayah, Ellison dibesarkan paman dan bibinya di Chicago. Namun setelah sang bibi yang juga berperan sebagai ibu angkatnya meninggal, Ellison keluar sekolah dan pindah ke California.

Dia juga bekerja serabutan selama delapan tahun semenjak ditinggal sang bibi untuk selama-lamanya. Namun kerja keras dan kecerdasannya membuat dia akhirnya mampu menjadi orang sukses.

Dia berhasil mendirikan perusahaan pengembang software, Oracle pada 1997. Saat ini Oracle telah menjadi salah satu perusahaan teknologi terbesar di dunia.

Pria tanpa pekerjaan tetap ini sekarang telah meraup kekayaan hingga berjumlah US$ 41 miliar atau Rp 498,6 triliun.





2. Harold Simmons

Jumlah kekayaan: US$ 40 miliar atau Rp 486,5 triliun

Sebagai salah satu orang terkaya di dunia, Simmons ternyata pernah hidup sangat miskin. Di masa sulitnya itu, Simmons hidup tanpa listrik dan air bersih.

Namun pria yang satu ini pantang menyerah, meski sempat hidup dalam kegelapan dia akhirnya berhasil memperoleh beasiswa di University of Texas. Dari kampus tersebut, Simmons berhasil meraih gelar sarjana dan master di bidang ekonomi.

Simmons memperoleh keuntungan besarnya saat dia membeli sejumlah toko obat yang kemudian dijual seharga US$ 50 juta. Setelah itu duia lalu menjadi pakar jual beli perusahaan. Sayangnya, Simmons baru-baru ini dikabarkan meninggal di usianya yang ke-82.





3. Li Ka-Shing

Jumlah kekayaan: US$ 31 miliar atau Rp 377,05 triliun

Ka Shing terbang dari China dan menetap di Hong Kong pada 1940-an. Malang nasibnya, ayahnya meninggal saat dia masih berusia 15 tahun.

Setelah itu, dia bertanggung jawab penuh menanggung kebutuhan seluruh keluarganya. Dia keluar sekolah untuk bekerja apapun selama menghasilkan uang agar keluarganya tetap bertahan hidup.

Hebatnya, pada 1950, dia mulai mendirikan perusahaan sendiri, Cheung Kong Industries. Perusahaan plastik yang kemudian berekspansi pada sektor properti itu berhasil mengantarkan kekayaan sebesar  US$ 31 miliar atau Rp 377,05 triliun.




4. George Soros


Jumlah kekayaan: US$ 20 miliar atau Rp 243,2 triliun

Saat berusia masih remaja, Soros hidup dalam penderitaan dan kemiskinan. Untuk menyelamatkan hidupnya dari serangan Nazi, dia direkrut untuk bekerja sebagai pegawai di Kementerian Perdagangan Hungaria.

Dia lalu meloloskan diri dari okupasi Nazi dan pindah ke London untuk tinggal bersama saudaranya di sana. Tak memiliki uang, dia lalu bekerja sebagai pelayan dan poter di stasiun kereta untuk membiayai kuliahnya di London School of Economics.

Setelah lulus, Soros sempat bekerja di toko sovenir sebelum akhirnya diterima sebagai bankir di New York City. Pada 1992, taruhan besarnya yang terkenal pada pound sterling membuatnya sukses mencetak uang hingga triliunan rupiah.





5. Leonardo Del Vecchio

Jumlah kekayaan: US$ 15,3 miliar atau Rp 186,1 triliun

Del Vecchio merupakan satu dari lima anak yang dititipkan ke panti asuhan karena sang ibu yang menjanda tak sanggup memenuhi kebutuhan hidupnya. Hidup di tengah kemiskinan, Vecchio lalu mulai mencari kerja.

Dia kemudian bekerja di pabrik pembuat bingkai kacamata. Saat itu, dia mengalami kecelakaan dan kehilangan beberapa jarinya.

Menginjak usia ke-23, dia lalu membuka toko sendiri yang kemudian terus membesar menjadi produsen kacamata terbesar di dunia. Kacamata buatannya juga dilabeli merek-merek terkenal seperti Ray Ban dan Oakley. (Sis/Ndw)

Loading