Sukses

Harga Premium Naik Mulai Mei, RI Bisa Hemat Subsidi Rp 21 Triliun

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis premium untuk mobil pribadi menjadi Rp 6.500 per liter mulai Mei 2013, diperkirakan bisa menghemat subsidi dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp 21 triliun.

Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik menyatakan perhitungan penghematan tersebut dihitung oleh Wakil Menteri Keuangan Ani Ratnawati. "Kata Wamen Keuangan 21 triliun kalau dengan harga Rp 6.500 per liter," kata Jero usai menghadiri rapat kerja, di Kantor Kementerian Perhubungan, Jakarta, Selasa (16/4/2013).

Jero mengakui opsi penghematan dengan mengurangi subsidi pada kendaraan jenis mobil pribadi sudah mengerucut. Rencananya harga untuk kendaraan tersebut akan dipatok dengan harga Rp 6.500-Rp 7.000 per liter, dari harga saat ini Rp 4.500 per liter.

"Hampir semua setuju, opsi pemerintah setuju sekarang mengerucut Rp 6.500-Rp 7.000 per liter untuk mobil pelat hitam," kata Jero.

Dalam rapat yang menghadirikan pemimpin daerah tersebut ada beberapa gubernur yang mengusulkan agar harga BBM bersubsidi jenis premium dipatok dengan harga keekonomian Rp 9.000 per liter. Namun usulan tersebut sulit diterima karena mempertimbangkan rakyat.

"Artinya ada yang mengusulkan menggunakan harga keekonomian Rp 9.000 naik, itu ada yang setuju," ungkap Jero.

Namun memurut Jero, untuk pertimbangan harga tersebut belum diputuskan, rapat yang diadakan pada hari ini hanya untuk mensosialisasikan kepada Pemerintah daerah. Sedangkan keputusan tersebut berada di tangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Untuk menjalankan program tersebut, Jero mengaku sudah meminta partisipasi instansi yang terkait, seperti PT Pertamina (Persero), Badan Pengatur Kegiatan Hilir Minyak dan Gas bumi (BPH Migas), Himpunan Wiraswan Minyak dan Gas bumi (Hiswana Migas), Polri dan pemerintah daerah.

"Saya bilang presiden mau ngambil keputusan. Yang kena premium dan solar, untuk itu kita gelontorkan BBM non-subsidi," pungkasnya. (Pew/Ndw)
    Loading