Sukses

Melihat Daftar 10 Negara Termiskin di Dunia

Liputan6.com, Jakarta Sejak pandemi Covid-19 melanda dunia, berbagai negara dihadapi dengan krisis ekonomi yang membebani biaya hidup. Memasuki tahun 2023 ini, perekonomian dunia juga masih dihantui oleh ketidakpastian, terutama bagi negara-negara miskin.

Banyak faktor yang berkontribusi terhadap kekayaan atau nilai ekonomi suatu negara, termasuk sumber daya alam, sistem pendidikan, stabilitas politik, dan utang nasional.

Mengutip laman World Population Review, Selasa (21/3/2023) negara-negara termiskin di dunia diklasifikasikan sebagai ekonomi berpenghasilan rendah dalam sistem peringkat empat tingkat Bank Dunia. 

Pemeringkatan ini didasarkan pada pendapatan nasional bruto atau gross national income (GNI) per kapita, yang merupakan ukuran dari total pendapatan negara tersebut dibagi dengan jumlah penduduknya. GNI bahkan kerap disebut sebut mirip dengan Produk Domestik Bruto (PDB).

Kedua metrik tersebut mengukur nilai dolar dari semua barang dan jasa yang diproduksi di suatu negara, tetapi dalam GNI juga mencakup pendapatan yang diperoleh melalui sumber internasional (seperti investasi asing atau kepemilikan real estat).

Oleh karena itu, GNI dianggap sebagai ukuran kesehatan ekonomi suatu negara yang sedikit lebih akurat.

Selain itu, GNI juga bisa ditentukan dengan dua cara. Pertama, adalah melalui  dolar AS, dihitung menggunakan teknik yang disebut metode Atlas untuk membandingkan mata uang masing-masing negara. 

Cara kedua, adalah paritas daya beli atau purchasing power parity (PPP) dolar internasional, mata uang hipotetis yang terkait dengan nilai dolar AS pada tahun tertentu.

Menurut sistem Bank Dunia, negara berpenghasilan rendah adalah negara yang memiliki GNI (disesuaikan dengan dolar AS saat ini) atau kurang dariUSD 1.046 per 01 Juli 2021.

Buat yang ingin tahu berikut Daftar negara termiskin di dunia

Berikut adalah daftar negara-negara termiskin di dunia berdasarkan GNI per kapita mereka dalam USD pada tahun 2020:

  1. Burundi (GNI USD 270) 
  2. Somalia (GNI USD 310)
  3. Mozambik (GNI USD 460) 
  4. Madagaskar (GNI USD 480) 
  5. Sierra Leone (GNI USD 490) 
  6. Afganistan (GNI USD 500) 
  7. Eritrea (GNI USD 510) 
  8. Republik Afrika Tengah (GNI USD 510) 
  9. Liberia (GNI USD 530) 
  10. Nigeria (GNI USD 540) 
2 dari 3 halaman

Bank Dunia Mau Tambah Kucuran Utang ke Negara Miskin Rp 60,7 Triliun

Beberapa waktu lalu, Bank Dunia mengisyaratkan tengah mempertimbangkan mengambil lebih banyak risiko dengan menambahkan kapasitas pinjaman tambahan sebesar USD 4 miliar atau Rp 60,7 triliun setiap tahun kepada negara-negara miskin yang membutuhkan dana untuk pencegahan perubahan iklim.

Melansir Channel News Asia, Jumat (17/2/2023) Malpass mengatakan lengan International Bank for Reconstruction and Development (IBRD) dapat menurunkan rasio ekuitas terhadap pinjaman sebesar satu poin persentase menjadi 19 persen.

Manajemen Bank Dunia telah memeriksa proposal penurunan rasio ekuitas 19 persen dengan lembaga pemeringkat kredit, dan kemungkinan besar itu adalah hasil dari diskusi yang sedang berlangsung, menurut laporan seorang sumber yang mengetahui kabar tersebut.

Menurunkan rasio ekuitas terhadap pinjaman akan membebaskan lebih banyak sumber daya di tengah meningkatnya tantangan global, salah satunya dampak perang Rusia-Ukraina, kata Malpass.

Bank Dunia diperkirakan akan memutuskan langkah tersebut pada pertemuan di bulan April bersama Dana Moneter Internasional (IMF).

 

3 dari 3 halaman

Pertemuan

Sumber lainnya juga menyebut, dewan Bank Dunia telah melakukan pertemuan pada Kamis (16/2) untuk membahas proposal penurunan ekuitas dan opsi lain.

"Kami menyadari keputusan itu bisa diturunkan dengan cara yang berkelanjutan secara finansial," kata sumber tersebut.

Sementara itu, Amerika Serikat, yang merupakan pemegang saham terbesar Bank Dunia, tidak memberikan komentar terkait perubahan rasio yang diusulkan, tetapi telah mendorong Bank Dunia selama berbulan-bulan untuk mengambil langkah yang lebih berani dan cepat untuk membantu sumber daya yang sangat dibutuhkan.

Pada Desember 2022, IBRD memutuskan untuk menaikkan batas pinjaman tahunan berkelanjutan sebesar USD 2 miliar, dimulai pada tahun fiskal 2024, dan Malpass mengatakan mungkin ada beberapa perluasan lebih lanjut.

Plafon pinjamannya untuk tahun fiskal 2022 adalah USD 37,5 miliar.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.